Surat Cinta Buat Bapak

Ira Permatasari
Karya Ira Permatasari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Surat Cinta Buat Bapak

Dear Bapak,

Sudah hampir dua tahun kita tidak bertemu. Apa kabar, Pak? Saya selalu do'akan Bapak yang terbaik. Pak, seperti biasa, saya masih sibuk menghitung hari sampai akhirnya saya bisa memeluk Bapak lagi seperti terakhir kali. Saya rindu sekali. Katanya rindu itu tanda bahwa kita mencintai seseorang. Tak menampik, saya mencintai Bapak, dari dulu sampai sekarang dan tidak akan berhenti. Benar kata orang - orang bahwa seorang Ayah adalah cinta pertama putrinya. Ya, Bapak adalah cinta pertama saya, dan akan selalu jadi juara.

Pak, saya menulis surat ini bukan tanpa maksud. Selain rindu yang dikirim, ada hal lain yang terselip: cinta kedua. Saya jatuh cinta, Pak. Saya akui, belakangan ini selain nama Bapak, ada nama lelaki lain yang selalu saya sebut dalam do'a saya. Nama itu adalah nama cinta kedua saya setelah Bapak. Jangan khawatir, bukankah sudah saya bilang Bapak akan selalu jadi juara? Saya mohon izin Bapak untuk mengikhlaskan saya menjadikannya cinta kedua. Tidak apa-apa kan, Pak? Bapak cinta pertama saya, dan juaranya. Sementara dia cinta terakhir saya, InsyaAllah, dan yang kedua setelah Bapak. Iya, Bapak tetap juara.

Banyak orang berkata, dia bukanlah lelaki yang baik untuk saya. Katanya dia memiliki banyak kekurangan yang tidak jarang akan membuat saya kecewa. Terkadang rasanya saya ingin benar - benar pergi saja karena separuh percaya pada ucapan mereka. Namun ketika saya berniat melangkah pergi, saya selalu ingat apa yang Bapak pernah ajarkan soal ini.

"Neng, tidak ada rumah tangga yang benar - benar sempurna. Karena toh yang menjalani adalah sepasang manusia yang juga tidak sempurna, yang sama-sama memiliki kekurangan.
Namun ketika kita memutuskan berumah tangga, kita menerima pasangan kita apa adanya. Kita akan melihatnya sebagai sosok sempurna karena kita melihatnya dengan mengesampingkan kekurangannya. Contohnya ya seperti Bapak menikahi Mama karena buat Bapak Mama itu sempurna, cocok buat Bapak. Jika orang lain berkata pasanganmu kurang di sana dan di sini, abaikan saja. Kenapa? Karena kesempurnaan itu relatif. Mama yang buat Bapak sempurna, belum tentu buat orang lain pun sama. Tapi untunglah cuma Bapak yang melihat kesempurnaan Mama. Kalau yang lain lihat betapa sempurnanya Mama, mungkin Bapak kalah saing untuk jadikan Mama istri, dan Neng gak akan ada ngobrol sama Bapak di sini. Nah, Neng nanti kalau pilih suami, kalau sudah dirasa cocok, sempurna buat jadi teman hidup Neng yang pastinya punya kekurangan juga, ya nikahilah. Selama apa yang menjadi kekurangan pasanganmu tidaklah melanggar aturan Allah, percayalah, dia adalah kado terbaik yang Allah berikan untuk menemani hayatmu".

Bapak percaya tidak? Kata-kata Bapak itu yang membuat saya yakin untuk tetap tinggal dan melangkah sampai sejauh ini.

Pak, apa Bapak tahu betapa cintanya saya sama Bapak? Saya yakin sih kalau Bapak tahu. Karena sering kalau saya bilang "Neng sayang Bapak", saya cuma dibalas senyum sama gestur kikuk Bapak. Aneh ya? Maaf anak Bapak yang satu ini terlalu frontal soal cinta. Bagaimanapun, saya menyesal tidak berusaha lebih keras dan lebih sering untuk bilang dan menunjukkannya ke Bapak.

Untuk cinta kedua ini, saya tidak ingin menyesal lagi. Saya akan berusaha sebaik mungkin menyampaikan cinta saya dalam keseharian saya bersama dia. Lewat bahasa yang rupa-rupa seperti yang Bapak bilang.

"Cinta itu kepedulian yang bahasanya bermacam-macam hingga bisa ditafsirkan bermacam-macam pula. Bisa lewat pelukan, ciuman, candaan, hal-hal menyenangkan, atau hal menyakitkan seperti marah. Tidak ada pembenaran soal marah, dan Bapak minta maaf soal itu. Namun terkadang kepedulian itu bisa benar-benar membuatmu khawatir dan ketakutan akan kehilangan, sehingga hal terakhir yang kamu lakukan adalah marah sebagai ungkapan 'aku benar - benar khawatir dan takut hal buruk menimpamu. Jangan pernah lakukan itu lagi!' Awal - awal mungkin sulit mengartikan bahasa cinta yang bermacam-macam seperti itu. Namun waktu akan membuat kita terbiasa hingga akhirnya kita akan menggunakan satu bahasa cinta yang sama".

Ah, Pak...
Rasanya rindu ini semakin menggebu gebu saja. Saya kangen duduk berdua di ruang tamu, menyilangkan kaki di depan televisi yang kita abaikan karena asyik menyampaikan isi hati.
Kalau bisa, saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi. Saya rindu setengah mati.

Ya, mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan sekarang. Lagi, selain berjuta rindu, terimakasih yang bertumpah ruah buat Bapak. Terimakasih telah mengajarkan dan memberikan contoh terbaik tentang cinta. Tentang rumah tangga yang InsyaAllah akan saya mulai jalani sebentar lagi. Saya akan selalu ingat ketika Bapak mengusap kepala saya dan bilang,

"Neng tahu kenapa namanya rumah tangga? Karena itu adalah rumahmu, satu satunya tempat ternyaman untukmu pulang sekaligus tangga yang mengisyaratkan perjalanan. Perjalanan untuk terus berjalan naik dan menjadi lebih baik walaupun lelah, atau menyerah turun dan terpuruk. Suamimu akan ada di depan memimpin? perjalananmu nanti. Namun sebagai istri, kamulah yang harus mendorong suami untuk tetap berjalan naik dan tidak melepas tangannya untuk turun ketika dia lelah. Ingat, rumah tangga bukan perjalanan tak berujung, tujuan akhirnya Surga. Bisa kita semua kumpul lagi di sana?"

Bismillah Pak, kita bisa InsyaAllah.
Bagaimana tidak? Allah sudah menganugerahkan saya guru terbaik lewat sosok Bapak. Saya tidak akan membuat Bapak kecewa. Sekali lagi terimakasih. Semoga saya bisa memeluk Bapak lagi seperti terakhir kali. Tapi nanti tolong balas peluk saya ya, Pak. Balas peluk saya ketika kita semua bertemu lagi di Surga. Baik - baik di sana ya, Pak. Neng sayang Bapak. Selalu.

?

?

Salam Rindu,

?

Ira Permatasari
Anakmu yang paling bungsu

P.S

Dia cinta terakhir saya, tapi Bapak yang pertama dan tetap jadi juaranya.

  • view 265