Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 29 Mei 2016   16:11 WIB
dua-tujuh

Hanya iba-tiba saja, dua-tujuh terbersit. Dua-tujuh pernah menjadi angka yang sangat erat dengan penantian, kesetiaan. Lebih dari sepuluh tahun silam. Bukan hal yang mudah tentu untuk menjadi setia dalam kurun waktu yang juga tak singkat. Setia??? Tidak… tidak… ini bukan tentang janji, apalagi rayuan gombal anak muda. Hanya sepatah kata yang sempat kau ucapkan, lalu aku dengarkan dan berharap. Lalu apa salahmu?? Tidak… sekali lagi tidak… ini tentang aku, meski ku tahu banyak yang kau lakukan untuk bersamaku. Membersamaiku, meski tak pernah sedetikpun kau disampingku. Menata hati, saat hati demi hati yang lain datang berharap dapat bersanding dengan hatimu, tidak.. kau bilang hatimu sudah termiliki. Untuk mendengar sedikit suaraku di udara, karna harus berpacu dengan argo dibalik gagang telepon. Jauh di sana.

Kau tak pernah mengatakan itu aku. Tidak pernah mengatakan padaku untuk menunggumu. Hanya dalam kata yang sedikit tersirat, hingga membuat ku ragu untuk bertahan.

13 tahun. Ya, anak ingusan mungkin mereka bilang kala itu. Cinta monyet. Tapi kita sama-sama diam. Coba tak hiraukan sekeliling dunia. Kita memendam, dalam diam, dalam kata, dalam tawa, dalam tiap bait puisi yang pernah kau cipta. Entah bagaimana, seolah hati saja sudah cukup untuk berbicara dengan mu. Seolah semua yang kurasa akan tersampaikan padamu, begitu juga denganmu. Hingga setiap kepastian menjadi semu, dalam hati.

Satu bulan menjelang hariku di dua-dua. Semua berkecamuk, bayangmu semakin kerap menghantuiku. Bagaimana ini?? Bagaimana dengan aku-yang-kamu?? Ahh.. dua-dua, aku tau kamu masih berkeringat menata hidupmu. Sampai kemudian kita bersama, benar-benar dekat. Satu demi satu angkutan umum kau lakoni, menemuiku siang itu. Seperti mimpi, kau datang dari belakangku dalam senyuman. Mengulurkan tangan, “apa kabar?” menjadi frase yang kau pilih untuk mengawali pertemuan kita. Semakin terenyuh, bercerita tentang ini dan itu. Sebuah buku kau genggam, buku yang sangat khas. “beli tadi di bis” katamu. Puas bercerita sepanjang perjalanan, kita terdiam sejenak. “jadi gimana?” tanyamu penuh arti. Dan entah bagaimana semua kata yang terpendam itu keluar dari mulutku. “……kenapa ngga pernah bilang, padahal aku nunggu dari dulu. Biar aku yakin, kalo ada kamu yang mesti aku tunggu. Sekarang…… waktuku tinggal sebulan. Dan aku inget kamu………” Sedikitpun kau tidak menyela ku, mendengarkan semua kata yang aku ucapkan. Perih. Pasti kamu terluka, dan aku yang menangis tertahan. Kau memilih untuk tidak menjawab tanyaku. “udahlah, mungkin emang udah gini jalan kita. Aku akui aku pernah sangat menunggumu, mengharapkanmu, tapi sekarang beda. Kita jadiin aja semua itu sebagai kenangan terindah.” Ucapmu.

Indah… tentu indah, seperti pelangi yang pernah kau berikan untuk menghantar kepargianku di lima-belas. Atau hujan yang selalu kau kirim rindu dalam gemericiknya selama putih abu. Bagaimana harmoni itu menjadi tidak indah? Hanya saja, ketika mengingat akhirnya akulah sang penghancur keindahan itu, melukai hatimu, aku selalu berdiri dalam limbung. Sepatah maaf belum sempat aku sampaikan. Kau terlalu indah mungkin, hingga aku sangat kesakitan untuk telah melukaimu.

Tetap saja aku mengerti, menilai sosokmu. Kau bukan orang yang akan berjanji andai kau masih ragu untuk menepatinya. Sekalipun mencintaiku adalah kepastianmu, tapi kau memilih melepaskanku, membebaskanku. Sebesar apapun harapmu, ia hanya kau simpan. Tak pernah ku tau. “Udah keluar semua uneg-unegnya?” tanyamu lagi sebelum memutuskan untuk berlalu. Aku tau itu jabatan tangan terahir kita. Kau masih saja tersenyum. Aku hanya bisa menatap kepergianmu, kau yang tegak berdiri tak mencoba menoleh untukku lagi.

Dua-tujuh sudah terlewati. Sedang apa kau disana? Masih ingatkah dengan mimpi besarmu ini? Aku sudah melalui bermacam onak dan duri dengan pelangi yang lain. Hingga tangan-tangan kecil kini selalu menuntunku, membersamai langkahku. Menjadi pelipur lara untuk telah melukaimu. Setidaknya kau menepati janjimu, mapan di dua-tujuh mu. Lengakap dengan senyum itu. Kau hanya tinggal memastikan sebuah pelangi untuk menemani gemericik hujanmu. Dan seperti doamu untuk sulungku “sehat terus ya..”

Karya : permata nurani