#Bibah dan Kepribadiannya

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 Maret 2016
#Bibah dan Kepribadiannya

Matanya yang besar halisnya terukir manis, Dia, sahabatku. Bukan sekedar sahabat juga ketua kelas. Aku mengagumi kepribadiaannya yang tangguh. Wanita luar biasa, untungnya dia masih single. Nah, para pria, wanita seperti ini sangat sulit dicari. Aku akan membagi kisahku dengannya ketika kami masih satu kos-kosan. Kosan bu titin. Empat tahun kami tinggal di sana. Kosannya tidak mewah malah sebaliknya amat sederhana. Berada di gang kecil, mojok disampingnya kuburan. Tapi anehnya kami bertahan di sana.

Ada bibah, tika dan aku dari jurusan yang sama, sedangakan yang lainnya berbeda. Bila kosan ini terisi semua, untuk lantai bawah ada 10 orang. Yang di atas lupa. Yang jelas aku mempunyai sahabat juga di san, Nisa namanya. Baiklah, mungkin aku akan lebih banyak bercerita tentang bibah. Dua sahabatku yang lain juga mempunyai keistimewaan. Tika si ceria dan lucu mengemaskan, kalau Nisa mempunyai semangat yang tinggi juga pantang menyerah diapun pengusaha ulung.

Bibah, yah dia memiliki pribadi yang unik. Sejujurnya, kami tidak banyak saling cerita. Karena kami pasti akan berbeda pendapat. Lantas mengapa menuliskannya? Mungkin karena dia amat berbeda dengan ku. Aku seorang pribadi yang cuek, tidak romantis namun juga amat sensitif. Nah, Bibah ini amat peduli.

Ketika aku di kosan yang jauh dari orang tua dan sakit. Dialah yang mengurusi dan teman-teman yang lain. Karena bibah terkenal di komplek kosan. Dia menlpon semua kenalannya untuk mengantarkan ku ke klinik. Dia amat baik tapi juga sering memarihi ku. Selalu bawel tentang makananku. Tiap pagi dia dan Tika datang ke kamar menawarkan ingin makan apa?. Siang hari juga meng SMS apakah ada yang mau dititip. Begitupun juga dengan Nisa, aku bisa meminta tolongnya kapan saja. Berhubung kami beda jurusan jadi tidak tahu jadwalnya. Otomatis bibah dan tika lah yang mengurus ini itu.

Sakitku lumayan parah waktu itu, uangpun tidak punya disebabkan diambil oleh orang. Maka bibahlah yang mengurus semunya, mulai dari berobat sampai mengatarkan ku pulang ke rumah. Jakarta ke rangkas bukanlah jarak yang dekat bahkan dibanding dengan tempat tinggalnya. Apa yang unik dari persahabatan kami. Dia itu menyebalkan bila menasehati. Aku dan tika sering mengatainya tidak ke BK aan. Dia selalu objektif, ketika aku yang salah maka disalahkanlah. Padahal aku ingin dibela. Tapi seperti itulah dia.

Setiap teman kami yang menikah dia mengusahakan untuk datang sejauh apapun itu. Bukan hanya itu, ada ayahanda sahabat kami yang meninggal. Keadaan kami sudah lulus dan saling bejauhan. Dialah yang datang berkunjung ke sahabat kami tersebut. Aku kadang bingung, dia melakukan hal tersebut atas dasar kemanusiaan atau tanggungjawabnya sebagai ketua kelas?.

  • view 120