Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 24 Maret 2018   16:28 WIB
Yang Berharga Tidak Terlihat Oleh Mata

Mungkin, judul di atas sudah tidak asing. Saya menemui kalimat “yang berharga tidak terlihat oleh mata” di buku “Dunia Sebelum Semesta” dan film “Little Prince”. Ketika mendengar atau membaca kalimat tersebut, saya merasa sedih. Kamu tahu apa yang berharga di sini? Kenangan dari sebuah ketelusan seseorang yang menyayangi kita ataupun sebaliknya. Kita sering kali terlambat menyadari apa yang berharga untuk dijaga. Seakan-akan waktu tidak akan pernah berakhir dan usia tidak beranjak tua padahal semuanya itu sementara.

Keluarga, pertemanan, dan bahkan permusuhan itu hanya sementara. Kita berpikir keluarga yang dimiliki akan selalu utuh. Memarahi kesalahan yang diperbuat, mencereweti setiap keputusan yang dipilih. Tersenyum untuk keberhasilan yang diraiah dan pelukan hangat ketika kita sedang lelah. Kenyataannya pada waktu yang kita tidak tahu pastinya kapan itu semua akan usai dan sesungguhnya kita tidak pernah siap.

Awal dari pertemuan dengan teman-teman mungkin ada kekikun, keraguan ketidak percayaan dan pertahanan diri agar kita tidak mudah untuk dijinakan. Saya dan kamu atau kalian bahkan kita bukankah hanya manusia yang sama dan biasa diantra 7 miliar manusia lainnya? Kita memilih untuk menajdi berbeda diantara mereka karena sapaan yang kaku, senyum yang diramahkan, kepercayaan yang mulai kita bangun, pertengkaran kecil, menurunkan ego untuk meminta maaf dan saling menyesuaikan diri. Prosesnya terjadi secara alamiah tidak bisa dipaksakana dan itu seperti keajaiban yang diberikan oleh Tuhan karena kita saling menemukan dan mengakrabkan diri dalam kebaikan.

Proses menuju sebuah persahabatan yang dimulai dengan pertemanan itu lama tapi entah mengapa perpisahan bisa dimulai dengan satu hari. Satu hari bernamakan kelulusan, perpindahan tempat kerja dan mungkin pindah tempat tinggal. Iya, hanya butuh satu hari untuk berpisah dan sulit untuk kembali berjumpa. Menghabiskan waktu bersama sekedar memakan ice cream atau apapun itu hal sederhana yang kita sukai akan sangat sulit untuk kita ulangi.

Keajaiban dari pertemanan adalah tidak ada hubungan darah, bukan karena sesuku dan kadang bukan karena memiliki hobi yang sama. Terjadi seperti itu saja tapi tetap saling menjaga bukan juga seperti hubungan pria dan wanita. Persahabatan bukan juga disebut sebagai keluarga karena dia memberi tanpa rasa tanggungjawab layaknya orang tua terhadap anak atau anak pada orang tua. Persahabatan hanya datang dengan bentuknya sendiri. kepercayaan dan saling menerima tanpa meminta lebih. Yang diminta sebuah persahabatan adalah kebahagian sahabatnya. Ini bukan cinta dari rasa yang ingin dimiliki. Bagiku persahabatan adalah hadiah geratis yang diberikan oleh Tuhan, jikapun memang berbayar cukup dibayar dengan doa terbaik untuk sahabat yang dimiliki.

Oleh karena itu perpisahan yang menyisakan tangis itu berharga karena sesungguhnya kita tidak pernah berpisah. Kita tidak lagi saling melihat, karena sulit bertemu. Meskipun demikian, yang sudah tidak terlihat oleh mata  berharga. Memiliki nilai yang tidak bisa dibeli. Ketika kita memejamkan mata, senyum manis dan tangis dari teman nan jauh di sana menemui kita di pelupuk mata yang amat dekat. Selalu bahagia untuk kita, karena memiliki hal berharga yang bahkan mata saja tidak dapat melihatnya.

Karya : Pepi Nuroniah