Musang dan Ayam Putih

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 23 Januari 2016
Musang dan Ayam Putih

Malam selalu menjadi sahabat yang baik untuk beristrahat. Terlebih diperkampungan. Suasana yang masih sunyi. Setelah magribh anak-anak riuh mengaji al-quran. Ada yang masih belajar alif ba ta tsa ada juga yang sedang menghapal juz ama. Semoga sampai nanti suasana seperti ini masih terasa meskipun keraguan akan hal tersebut besar. Sebab terkadang teyangan di televisi lebih menarik dibandingkan pergi mengaji bersama. Sebenarnya, kadang-kadang setelah selesai kegiatan sang guru ngaji akan menceritakan dongeng.

Dan Dongeng yang ini hampir semua anak di kampung Pasir Eurih mengetahuinya. Bahkan ibu, nenek serta parang orang tua tahu kisah ini entah siapa yang pertama kali membuatnya. Di kampong ini memiliki bukit yang tidak berpenghuni. Namanya Tegal Rama. Entah benar atau salah menurut para orang tua nama bukit tersebut berasal dari nama orang yakni rama. Dia adalah pemilik tanah tersebut. Amat kaya dan mempunya anak namun sayangnya sang anak tidak mau mengelola tanah tersebut. Semenjak aku kecil sampai saat ini bukit tersebut dibiarkan kosong.

Betapa terkenalnya bukit ini di kampung kami. Cerita sering didasarkan pada tempat tersebut. Sama halnya dengan kisah kali ini yakni tentang seekor Ayam putih dengan lima anaknya dan iduk Musang dengan tiga anak.

Ayam putih dan anaknya mereka pergi untuk mencari makan ke tegal rama. Sebab di sana biasanya hasil panen dijemur. Akan banyak sekali gabah yang terjatuh. Ini kesempatan sang induk untuk memberi makan anak-anaknya. Selain itu sang induk mulai mengajarkan anak-anaknya untuk kokoreh. setiap sebelum magribh mereka pulang ke rumahnya. Bukan hanya Ayam yang mencari makan di sana ada pula sang Musang bersama ketiga anaknya. Semenjak lama mereka sudah mengawasi sang induk Ayam untuk dimangsa. Namun sayangnya tidak pernah ada kesempatan. Karena mereka selalu pulang tepat waktu. Dimana keadaan masih ramai.

Seperti kebiasaan sang Ayam putih serta anaknya menjalani rutinitas yakni pergi ke Tegal Rama untuk kokoreh. Namun saking asyiknya ayam putih dan anaknya terus berjalan jauh sampai lupa waktu yang sudah menunjukan magribh. Merekapun kemalaman dan jalanan gelap.? Meskipun seperti itu ?Ayam putih tetap memutuskan pulang. Sampai dia melewati kediaman Musang. Dan sang Musang tiba-tiba menyapanya.

?hey Ayam putih mau kemanakah gerangan, inikan sudah malam?? dengan matanya yang tajam. Ayam putih ?coba memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan si Musang.

? kami hendak pulang wahai induk Musang? dengan takut-takut dia menjawabnya.

?ini sudah malam, kalian menginap saja di rumahku? dia mencoba beramah tamah kepada sang induk dan tidak lagi menatap dengan tajam.

?ah terima kasih, tapi kami takut nanti kamu dan anakmu akan memakan ku serta anak-anak ku. Jadi aku tidak akan menginap di rumahmu? jawab sang induk lebih berani

?ah kamu jangan seperti itu. Aku tulus menawarimu untuk menginap kasihan anak-anakmu yang masih kecil. Mana mungkin aku memakan keluargamu? sang Musang coba meyakinkan sang induk

?Ah, tapi anak-anak kalau tengah malam suka berisik. Nanti kau akan terganggu? Ayam putih masih mecari alasan agar tidak menginap.

Namun sang Musang terus menurus membujuk Ayam putih, sampai akhirnya sang induk serta anak-anaknya memilih untuk menginap di rumah Musang. Setelah itu, anak-anak musang berbisik-bisik ingin segara memakan Ayam putih. Samar-sama ayam putih mendengarkan percakapan induk Musang bersama ketiga anaknya

? Ma, Pengen kepalanya? sahut anak Musang

?Ma, ingin sayap dan dadanya? kata anak yang satunya

?Ma, Ingin pahanya? anak yang lain menimpali.

?Ssssstt jangan berisik, tenang saja nak, setelah mereka tertidur semua barulah kita memakan Ayam-ayam tersebut. Sekarang ibu akan coba memastikan apakah mereka sudah tertidur? jawab induk Musang.

?Ayam putih, Ayam putih apakah kalian sudah tidur??

?belum wahai musang?

Berkali-kali induk musang memanggil Ayam putih.

?Ayam Putih? panggil sang induk musang. Namun tidak ada jawaban. Anak-anak musang gembira, mereka kira Ayam putih dan anaknya sudah tertidur

?Bu? ayo bu kita cepat makan Ayam-Ayam itu? kata salah satu anaknya

?iya bu anak-anaknya juga gemuk-gemuk. Pasti dagingnya banyak? anak yang lainnya menimpali

?iya tenang ? ibu akan memastikannya lagi?

?Ayam Putih? panggil sang musang kesekian kalinya.

?iya induk musang? sang Ayam memberikan jawaban.

?tuh kan nak, mereka belum tidur, makanya kalian jangan berisik nanti rencana kita bisa ketahuan? nasehat induk musang pada anak-anaknya.

Sebenarnya ketika? pertanyaan sang musang tidak ada jawaban dari Ayam putih. Dia sedang merencanakan siasat bersama kelima anaknya untuk pulang ke rumahnya. Siasat agar musang beserta anaknya tidak mencurigainya. ?Ayam putihpun ?memberi tahu kepada anak-anak akan apa yang ada dipikirannya. Yakni mereka akan meninggalkan kediaman sang musang satu- persatu secara hati-hati.

? nak, mari kita kembali ke rumah. Jangan berisik, kalian dengar kan tadi musang dan anaknya sedang merencanakan untuk memakan kita? Ayam putih tetap waspada

?terus kita akan melakukan apa ibu?? Tanya anak-anaknya ketakutan

? tenang saja, kalian terbang satu persatu lantas cepat ke rumah. Kalian tahu kan rute jalannya? penjelasan Ayam putih untuk memberi tahu kejahatan yang akan dilakukan oleh pemilik rumah kepada mereka. Serta strategi yang mulai dijalankan oleh anak-anaknya.

?berrrrrr, pluk? suara anaknya terbang dan terjatuh

?Ayam putih suara apa itu?? Tanya induk musang

?mungkin suara kelalawar terbang dan jatuh sedang mencari makan? jawab sang induk Ayam

?berrrr, pluk? suara itu kembali terdengar

?Ayam putih suara apa itu?

?mungkin suara kelalawar terbang dan jatuh sedang mencari makan?

?Induk Musang menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali mendengar suara tersebut. Ayam putih pun menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai pada akhirnya giliran Ayam putih yang pergi

?berrrrrrr? pluk?

?Ayam putih, suara apa itu?? tidak ada jawaban, induk musang pun kembali bertanya

?Ayam putih? ?

?Ayam Putih??

?Ayam putih??

Berulang-ulang sang induk memanggil Ayam putih namun tidak ada jawaban.

?bu, mungkin mereka sudah tidur? mata anak musang terlihat amat senang.

?iya bu, soalnya dari tadi tidak ada jawaban? kata anak yang lainnya.

?iya bu, aku sudah tidak sabar ingin memakan daging Ayam putih itu?

?baiklah mungkin kalian benar. Sebab dari tadi tidak ada jawaban sama sekali?.

Induk musang sudah memutuskan untuk segera melihat keadaan Ayam putih bersama kelima anaknya. Bukan hanya melihat namun dia akan segara memakannya begitulah yang dipikirkannya. Apa yang mereka rencanakan akhirnya terlaksana juga. Karena memang tidak biasanya Ayam putih kemalaman. Mereka berpikir Ayam putih itu tertipu dengan kebohongan yang mereka buat. Mereka langsung menerkam yang mereka kira Ayam putih dan anak-anaknya tanpa berpikir panjang.

Namun sangat disayangkan kenyatannya yang terjadi bukan seperti apa yang mereka bayangkan. faktanya yang mereka terkam bukanlah induk Ayam namun tumpukan batu yang telah disusun untuk mengelabui sang Musang. Seketika kepala induk Musang beserta tiga anaknya berdah saking kerasnya dia menabrakan dirinya kepada batu yang disangkanya Ayam tersebut. Induk Musang beserta anaknyapun gagal dan luka-luka. Malanglah nasib sang Musang dikarenakan keserakahannya dan kebohongannya tersebut. Dia mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Sedangkan induk Ayam yang cerdas serta anak-anaknya yang kompak dapat menyelamatkan diri dari rencana jahat sang Musang. Sang indukpun menyesal telah percaya pada Musang dan mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama yakni pulang malam diluar kebiasaan mereka.

Begitulah akhir dari cerita ayam putih dan induk musang. Semoga cerita ini dapat diambil hikmahnya meskipun sederhana.

Penulis : Pepi Nuroniah

Katagori Cerita Rakyat Untuk Anak

Gambar diambil di?http://ceritadongeng-indonesia.blogspot.co.id/

  • view 303