Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 2 Maret 2018   04:00 WIB
*Sisi penghoramatan pada guru yang terlupakan

Apakah iya guru harus dihormati? Oleh siapa saja guru harus dihormati?

Ketika saya kuliah baik dulu ataupun sekarang. Pengajar menyisipkan pesan "jangan jadi guru yang begini dan begitu. Lihat di lapangan banyak guru yang.........." biasanya bukan prestasi yang dikatakan namun sisi lemahnya seorang guru. Hati saya bingung, kenapa diberikan contoh guru yang negatif, terlihat pengajar saya berpandangan negatif terhadap guru yang ada.

Saya, kuliah keguruan karena banyak dari guru-guru saya yang menginspirasi. Adakah guru yang menyebalkan? Mereka manusia, tentu saja ada. Misalnya merasa dipilihkasihkan. Itu tidak bisa dipungkiri terkadang guru lebih menyukai murid yang pintar, cantik, tampan, bersih dan kelebihan lainnya dibanding murid yang biasa saja. Bukan hanya guru, dosenpun demikian. Sebagian mahasiswa ada yang merasa dipilih kasihi.

Ketika S1, saya mendengarkan curhat dari teman. Kebetulan teman saya bukan yang berpersatasi. Katanya "iya sih kalau dosen A milihnya si itu aja untuk ikut seminar dan apalah, yang lainnya ga pernah tuh ditunjuk". Begitupun ketika saya SMP dan SMA. Pernah merasakan dipilih kasihi. Guru cenderung lebih perhatian pada mereka yang memiliki kelebihan. Saya juga termasuk yang pernah diirin karena sering dipilih.

Baik guru, dosen, dokter atau siapapun tidak ada yang sempurna oleh karena itu ada kode etik yang mengharuskannya profesional. Mewujudkan jadi yang profesional tidak mudah. Oleh karena itu saya berusaha menghindari untuk menilai kinerja sesorang. Memilih padanan kata yang pas. Unggul atau lebih unggul bagi saya cukup sesuai standar.

Yang saya pahami, mulai dari siswa sampai menjadi mahasiswa yang akan meraih nilai tertinggi tetap satu orang paling banyak tiga orang. Kita tidak bisa meminta mereka untuk memiliki nilai sempurna, memiliki kerajinan yang sama dengan kita dan membandingkan kemampuan mereka dengan kita. Tidak bisa, meskipun mereka sudah mahasiswa yang sudah dewasa.

Nilai tertinggi itu atau kualitas terbaik itu tidak mungkin semua bisa, makanya ada standar yang bisa dicapai oleh semua orang atau siswa. Kita fokus pada standar yang harus dicapai. Hal penting apa yang harus dikuasai oleh mereka. Yang harus kita sadari setiap orang memiliki kelebihan.

Hubungan penjelasan di atas dengan penghormatan pada guru, jika seorang guru atau pendidik ingin dihormati taruhlah hati didalamnya. Karena siswa adalah butiran tasbih atau doa yang keberhasilannya menjadi tanggungjawab kita.

Jika guru dan pendidik kita menyebalkan dan memiliki sikap yang negatif. Apa juga iah kita harus mencaci, mencerca, menilai dan bahkan menyerang dengan kekerasan dan omongan yang negatif?

Tentu saja jawabannya tidak. Budaya pendidikan kita berbeda dengan pendidikan barat yang bebas berbicara pada guru dan menyampaikan ketidak sepakatan dengan gayanya. Budaya pendidikan kita adalah budaya pendidikan timur.
Yang, kadang terasa lucu karena kita selalu tidak percaya diri bahwa leluhur kita mewariskan nilai-nilai yang baik.

Pesantren misalnya, kita lupa memiliki lembaga pendidikan yang amat tua dibanding lembaga pendidikan lainnya. Penghormatan pada sang guru merupakan kewajiban dan berkah bagi santri. Janganpun untuk berbicara keras menatap matanya saja kita engga. Bukan karena tidak berani namun karena penghormatan dan mengharapkan berkah ilmu pengetahuan.

Dalam kitab ta'lim mu ta'lim duduk dibangku guru adalah ketidaksopanan dan etika dalam memperlakukan buku atau kitab pengetahuan dengan penuh penghormatan. Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan ilmu tapi keberkahan. Kadang dalam sudut pandang moderen itu dianggap "tertinggal". Saya meyakini dalam sudut pandang agama manapun menuntut ilmu adalah bagian ketaatan bagi sang Esa.

Keberkahan ilmu di sini yang dimaksud adalah kebermanfaatan ilmu yang diperkatekan dikehidupan nyata. Menjadi penerang dalam kegelapan menjadikan diri sebagai manusia yang ke ada annya dibutuhkan. Guru saya pernah menjelaskan "kalian tahu mengapa kitab-kitab terdahulu masih kita baca dan pelajari sampai sekarang?"
Karena ilmunya berkah". Guru sayapun melanjutkan, bukankah banyak juga yang membuat beribu buku, tapi hanya sedikit yang dipelajari sampai saat ini?
Saya tidak tahu, apakah para ulama juga melakukan reset atau penelitian ketika itu, karena pengetahuan didalamnya jika ditelaah masih relevan hingga saat ini. Mulai dari jalaludin rumi, Imam ghazali, syakh al bantani dll. Saya membaca karya buya Hamka, jika saya bandingkan dengan keadaan hari ini masalahnya sama persis. Mengapa karya Hamka masih hidup sampai saat ini? Berkah karena ketaatannya pada seorang guru.

Bukan hanya taat tapi meniatkan dan menuliskan pengetahuan dengan berharap ridho dari pencipta. Bagi seorang muslim ada etika dalam menuntut ilmu pengetahuan. Seyogyanya sebelum membaca atau menulis apapun disarankan berwudhu sehigga dalam keadaan bersih baik diri, hati dan pikirannya.

Saya pikir kejadian akhir-akhir ini dilembaga pendidikan kita, mungkin karena kita sendiri lupa tentang nilai dan tujuan menuntut ilmu. Kita lalai bahwa gurupun adalah orang tua yang harus dihormati. Ada tiga yang harus dihormati orang tua yang melahirkanmu, orang tua yang menafkahimi dan orang tua yang memberikanmu ilmu pengetahuan. Guru adalah orangtua yang memberikan ilmu. Doa dan keridhoannya bagi yang beragama adalah kemudahan dalam memahami pelajaran.

Kesimpulannya jika ada seorang guru yang kurang berkanan di hati dan sampai melanggar hukum (melakukan pelecehan misalnya) maka laporkanlah karena ada polisi. Jika ada seorang guru yang mendisiplinkan siswanya maka koordinasikanlah sesuai lazimna etika yang berlaku. Memukul dan berteriak pada seseorang yang menginginkan anak anda berhasil apakah itu pantas? Jika anda berkata "kami sudah bayar pajak, guru dibayar oleh pajak? Atau swasta setiap bulan kami bayar spp" seberapa banyak? Gaji seorang guru golongan 4 A sepengetahuan saya sekitaran 5 jutaan dan itu yang masa kerjanya 20 tahun keatas. Anggap beban guru 150 siswa (karena saya guru BK) 5 jutaan : 26 hari : 150 siswa = 1300 jadi tiap siswa hanya membayar 1300 untuk satu guru. Kalau privat perjam standarnya 50 ribu.

Mari kita kembalikan niat awal kita menyekolahkan anak bukan hanya untuk mendapat ilmu pengetahuan tapi juga agar beretika mampu mengendalikan dirinya, mampu menghalau rasa malasnya, mampu berempati pada sesamanya dan menjadi manusia yang berguna baik bagi dirinya, keluarganya, bangsanya dan agamanya. Guru ikhlas menididik, anak ikhlas dididik dan orang tua mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Kita tidak bisa menjaga anak kita karena kita tidak punya cctv dimana-mana maka titipkan pada sang pencipta.
Semoga semuanya terhindar dari hal yang tidak kita inginkan.

Nuroniah, Malang 02 Maret 2018

Karya : Pepi Nuroniah