Profesi guru, masihkah ada yang mau?

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 Februari 2018
Profesi guru, masihkah ada yang mau?

Kabar duka silih berganti datang dari dunia pendidikan. Mulai dari penganiayaan sampai berujung kematian. Siapa yang salah? Dimana salahnya? Ini kenapa bisa terjadi?
Entah saya harus mulai dari mana. Bagaimana kalau kita mulai dari orang tua? Alasannya, karena kita semua akan menjadi orang tua.

Awal pertama, kita menyekolahkan anak ke sekolah, niatnya untuk apa? Entah semenjak kapan sekolah menjadi tempat penitipan anak? Ada ungkapan "saya sekolahkan anak itu biar aman dari bahaya" hal seperti ini betulkah? Jika demikian kenapa tidak sewa body guard saja? Dulu ada kisah orang tua yang mengeluh pada pimpinan sekolah

Orang tua: "Kenapa anak saya dibeginikan, itu gurunya yang salah?"
Kepala sekolah : menjawab "ibu di rumah memiliki anak berapa?"
Orang tua : "tiga pak"
Kepala sekolah : "gimana bu anak-anak di rumah"
Orang tua : "duh anak-anak di rumah itu kadang susah disuruh ini itunya dan saya juga kadang kerepotan"
Kepala sekolah "Nah ibu yang ada tiga anak merasa kesusahan, bagaimana dengan seorang guru yang harus memerhatikan lebih dari tiga anak?"
Orang tuapun terdiam.

Kesimpulan dari cerita tersebut tidak bisa saya simpulkan mungkin akan dikira sebagai pembelaan diri. Kejadian di atas bisa sering terjadi. Guru tentu saja tidaklah sempurna begitupun dengan orang tua. Adakah anak yang harus disalahkan?

Pada umur yang sudah dianggap baligh, saya terangkan dalam pandangan agama seharusnya mereka sudah mulai bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan. Yang saya pelajari "dosa kamu sudah ditanggung sama kamu bukan lagi orang tua" Anak perlu tahu mana yang salah dan benar.

Hari ini, entah mengapa sangat menjadi abu-abu. Ada rasa marah dan kekesalan betapa menjadi guru itu sangat sulit. Oleh karena itu dulu saya tidak bercita-cita menjadi guru. Sayangnya mulai dari kakek sama orang tua adalah guru. Profesi itu amat lekat dan saya juga tidak punya keahlian lain selain mengajar.

Mengajar selalu menjadi bagian menyenangkan. Kita berbagi pengetahuan dan menyiapkan strategi agar anak paham. Memberi teguran ketika mereka mengganggu teman yang lain dan tidak mengerjakan tugas. Hal itu tersebut untuk kebaikan siapa? Guru sejati menegur tentunya bukan untuk kepuasan dirinya tapi menginginkan anak tersebut berhasil.

Ketika siswa itu berhasil dalam hidupnya, apa yang didapatkan oleh seorang guru ?Pujian? Gaji? Mereka akan bertanya "itu anak siapa?" Bukan "diajar sama siapa?" Jika anak tersebut gagal, pertenyaannya adalah "emang gurunya ngajar gimana sieh"

Ketika dulu guru demo minta naik gaji. Nyinyiran itu sampai, ketika mendapat seritifikasi juga dinyinyirin "enak ya jadi guru dapat sertifikasi", ketika guru yang sudah lanjut usia diperkampungan tidak mampu mengoprasikan notebook masih dinyinyirin "gimana anak mau maju gurunya aja ga melek teknologi",

Duhh dan banyak lagi, yang salah guru lagi, guru lagi, guru lagi. Ada lagi pendapat "Owhh ini harus ditingkatin kualitisa gurunya, soalnya gurunya ga pake strategi pembelajaran yang mutakhir" Terus dalam hati  ngegerunek "kenapa ga bapak/ibu saja yang jadi guru?" Ada lagi yang ngomong "Ini kan pendidikan abad 21, sedangkan gurunya masih pake metode lama ya gimana mau maju pendidikan kita" nyeletuk lagi dalam hati "terus bapak sama ibu itu produk pendidikan kapan" pendapat-pendapat seperti itu seakan-akan meniadakan jasa guru terdahulu yang telah mendidik kita minimal menjadi anak yang tahu caranya menghormati dan berterima kasih.

Inti tulisan ini? Saya berharap dari pada kita saling menyalahkan mari melihat pada diri sendiri niat menyekolahkan dan kita sekolah untuk apa?
Bukankah untuk menjadi manusia yang beradab. Manusia yang memanusiakan manusia. Kita memiliki kearifan lokal khasnya pendidikan Indonesia "Ki hajar Dewantara", "Mahmud Yunus" dan tokoh pedidikan lainnya tapi kenapa kita lebih sering membanggakan model pendidikan dari luar?

-Nuroniah

  • view 47