*Seromantis Hatta

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Desember 2016
*Seromantis Hatta

*Seromantis Hatta
Jika saja sinetron Indonesia dibuat seciamik drama korea. Mungkin kisah Hatta akan jadi kisah teromantis selain kisah Habbie dan Ainun. Mereka orang Korea amat menyintai sejarahnya. Dibalut dengan cerita indah, dramatis dan kadang pilu. Bukan hanya masyarakatnya yang mencintai kisah negeri gingseng itu tapi para pecinta drama di seluruh dunia secara tidak langsung mengetahui perjuangan para tokoh berjasa. Bahkan saya tahu jendral lee Soon Shin dan raja Sejong. Padahal sejarah kita tidak kalah kaya dengan mereka. Semenjak zaman majapahit hingga saat ini, belum lagi kerajaan-kerajaan yang di sumatera, dongeng dan legenda yang kita punya. Betapa kayanya kita. Namun entah mengapa tidak adakah penulis naskah yang tertarik untuk mengabadikan?

Kembali lagi pada Hatta, beliau bersumpah tidak akan menikah kecuali setelah Indonesia merdeka. Beliau memberikan mas kawin yang mungkin jarang ada atau belum ada waktu itu yakni sebuah buku "Alam pikiran yunani"  ditulis oleh dirinya sendiri dipersembahkan untuk isteri tercinta. Beliau menikah diumur yang tidak dianggap muda lagi yang bisa jadi jika beliau hidup di masa ini sudah menjadi bahan candaan dan ledekan. "Selalu ditanya kapan menikah?" Untungnya beliau hidup di masa penjajahan. Bagi saya itu romantis.

Saya tertarik dengan beberapa pahlawan yang ingin saya tahu dan diantaranya adalah Hatta. Bukan karena beliau wakil presiden atau sekedar pahlawan. Namun beliau dikenal amat sederhana atau mungkin ada beberapa tulisan yang selalu menyentil menyebabkan rasa ingin tahu saya bertambah. Anggap saja saya terlambat penasaran terhadap beliau. Namun bukan kah lebih baik terlambat dari pada kamu tidak ada ketertarikan sama sekali untuk mengenal para tokoh. Atas jasa mereka  jua kamu dapat nongkrong asyik di kafe  terkenal nan mewah hanya sekedar tertawa dan melepas lelah.

Entahlah tadinya saya hanya ingin menulis tentang keromantisannya. Namun tiba-tiba jadi lebih sensitif terhadap perjuangan. Mungkin tiba-tiba saya prihatin dan sedih atas darah yang dulu tertumpah, atas pengasingan yang pernah dialami dan perjuangan sampai menunda untuk menikah hanya untuk sebuah kemerdekaan. Namun dalam hati, saya ini merasa cuek dan tidak lagi peduli dengan negara ini. Bosan dengan politik yang begitu-begitu saja. Berita diseputar teroris dan demonstrasi. Membuat saya enggan untuk melihatnya. Padahal sikap yang paling bahaya di sebuah negara adalah cuek. Ketika semua orang sudah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya memilih untuk mengurus urusan masing-masing. Itu lebih memperhatinkan.

Hemss Hatta, dapatkah engkau melihat tanah yang engkau perjuangkan hari ini? Kecewakah engkau? Senangkah? Kenapa enkau sampai bersumpah tidak akan menikah kecuali setelah Indonesia ini merdeka? Sekarang anak-anak muda ini mungkin sudah jarang mengingatnya lagi.

Ah ya... ketika sedang menulis ini sayapun teringat denga jendral Soedirman. Beliau sakit TBC tapi tetap berperang meskipun ditandu. Kenapa beliau seperti itu? Akan lebih nyaman dirawat di rumah sakit? baiklah saya akhiri dulu tulisan ini, sebelum mengingat pahlawan lainnya dan hati saya teriris. Menemukan diri ini tidak dapat berbuat apa-apa dan banyak sekali mengeluh
Rangkas, 21-12-2016

  • view 270