*Jatuh Hati Kesekian Kalinya

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Desember 2016
*Jatuh Hati Kesekian Kalinya

Jujur saja, membaca buku-buku serius membuat saya mengantuk. Meskipun itu  buku Hamka, saya butuh berhari-hari mungkin juga bulan untuk menyelesaikannya. Tapi ibarat wanita yang sedang jatuh hati, meskipun membosankan saya mencoba sabar memahami setiap tulisan. Ketika saya membaca karangan Hamka, makin lama saya makin ingin mengenal beliau dan penasaran pada setiap karyanya. Padahal apa yang beliau tuliskan sebenarnya beberapa sudah saya ketahui. Namun entah mengapa ada beberapa hal yang sama tapi rasanya berbeda. Seperti kita makan nasi goreng yang dimasak oleh orang berbeda bisa jadi bumbunya sama tapi rasanya berbeda. Begitulah tulisan Hamka. Saya cocok dengan setiap tulisan beliau. Terkagum dengan luasnya pengetahuan. Yang jika ditilik baik masa lalu dan sekarang ternyata permasalahannya yang dihadapi oleh manusia itu sama. Entah itu tentang keluarga, pemerintah dan lingkugan sehari-hari. Kali ini saya akan membahas kalimat yang menarik dari bukunya lembaga budi. Pendapat beliau "bahwa bila ilmu pengetahuan bisa didapat hanya dengan sungguh-sungguh dan membaca tentu banyak sekali yang berilmu,namun bukankah tidak demikian? Ilmu didapat bukan hanya kerajinan sang penuntut ilmu tapi ada izin dari sang punya ilmu. Maksudnya Allah" kurang lebih seperti itu pendapatnya. Janganlah engkau sombong dengan pengetahuan yang kau miliki jika Allah mau mengambilnya akan sangat mudah. Mungkin bagi orang yang logis dan percaya sebab akibat kurang percaya dengan kata-kata Hamka. Namun bagi yang percaya adanya tuhan itu adalah hal yang memang demikian. Sesuai dengan apa yang disyairkan oleh Imam syafi'i "aku mengadu pada guruku, susah dalam menghapal. Guruku menunjukan padaku untuk menjauhkan diriku dari maksiat. Karena ilmu itu cahaya, dan cahaya dari Allah tidak akan sampai pada orang-orang yang berbuat maqsiat" dulu saya memahami hal tersebut untuk jauh-jauh dr perbuatan yang tidak disukai pencipta. Namun kadang saya berpikir. Mereka yang berbuat maksiat saja tetep pintar dan nilainya baik. Semakin ke sini saya semakin memahami ilmu bukan hanya sekedar pengetahuan tapi harus dibarengi dengan budi agar bermanfaat dan jadi penerang bukan perusak dan menjadikannya licik untuk membodohi orang-orang yang tidak tahu. Tentu saja ilmu yang digunakan dengan salah bukan menjadi cahaya tapi kegelapan.
Dalam buku ini juga Hamka membahas bagaimana budi yang harus dimiliki oleh pemimpin, pengusaha dan pekerja dari guru sampai dokter.  Mungkin karena niat beliau yang tulus dalam menulis sehingga isi yang sebenarnya sangat bermakna dirasa sangat sederhana. Menelusuk kedalam hati, mengalir layaknya air sungai yang jernih dan sampai pada samudera pemahaman yang dalam. Bisa jadi inilah ilmu yang berkah dijaga oleh sang pemilik ilmu. Bukan kah banyak tulisan dan pengarang namun hanya beberapa saja yang masih hidup sampai sekarang dan dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang. Raga mereka sudah tiada tapi jiwa dan pikirannya masih hidup disetiap orang yang membaca. Begitulah.....
Rangkas, 18-12-2016

  • view 189

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    7 bulan yang lalu.
    @Pepi Nuroniah, satu paragraf????
    .
    lebih baik dibikin beberapa paragraf, agar dibaca lebih enak dimata dan gak bikin pusing.......
    .
    .
    Contohnya seperti dibawah ini :
    .
    "Jatuh Hati Kesekian Kalinya."
    .
    Jujur saja, membaca buku-buku serius membuat saya mengantuk. Meskipun itu buku Hamka, saya butuh berhari-hari mungkin juga bulan untuk
    menyelesaikannya. Tapi ibarat wanita yang sedang jatuh hati, meskipun membosankan saya mencoba sabar memahami setiap tulisannya. Ketika saya membaca
    karangan Hamka, makin lama saya makin ingin mengenal beliau dan penasaran pada setiap karyanya. Padahal apa yang beliau tuliskan sebenarnya beberapa
    sudah saya ketahui.
    .
    Namun entah mengapa ada beberapa hal yang sama tapi rasanya berbeda. Seperti kita makan nasi goreng yang dimasak oleh orang
    berbeda bisa jadi bumbunya sama tapi rasanya berbeda. Begitulah tulisan Hamka. Saya cocok dengan setiap tulisan beliau. Terkagum dengan luasnya
    pengetahuannya. Yang jika ditilik baik masa lalu dan sekarang ternyata permasalahannya yang dihadapi oleh manusia itu sama. Entah itu tentang keluarga,
    pemerintah dan lingkungan sehari-hari.
    .
    Kali ini saya akan membahas kalimat yang menarik dari bukunya, lembaga budi. Pendapat beliau "bahwa bila ilmu
    pengetahuan bisa didapat hanya dengan sungguh-sungguh dan membaca, tentu banyak sekali yang berilmu, namun bukankah tidak demikian? Ilmu didapat
    bukan hanya kerajinan sang penuntut ilmu tapi ada izin dari sang punya ilmu. Maksudnya Allah", kurang lebih seperti itu pendapatnya.
    .
    Janganlah engkau
    sombong dengan pengetahuan yang kau miliki, jika Allah mau mengambilnya akan sangat mudah. Mungkin bagi orang yang logis dan percaya sebab akibat,
    kurang percaya dengan kata-kata Hamka. Namun bagi yang percaya adanya Tuhan, itu adalah hal yang memang demikian. Sesuai dengan apa yang disyairkan
    oleh Imam syafi'i, "aku mengadu pada Guruku, susah dalam menghapal. Guruku menunjukan padaku untuk menjauhkan diriku dari maksiat. Karena ilmu itu
    cahaya, dan cahaya dari Allah tidak akan sampai pada orang-orang yang berbuat maqsiat"
    .
    Dulu saya memahami hal tersebut untuk jauh-jauh dari perbuatan yang
    tidak disukai sang pencipta. Namun kadang saya berpikir. Mereka yang berbuat maksiat saja tetep pintar dan nilainya baik. Semakin ke sini saya semakin memahami
    ilmu bukan hanya sekedar pengetahuan,, tapi harus dibarengi dengan budi, agar bermanfaat dan jadi penerang, bukan perusak dan menjadikannya licik untuk
    membodohi orang-orang yang tidak tahu. Tentu saja ilmu yang digunakan dengan salah bukan menjadi cahaya tapi kegelapan.
    .
    Dalam buku ini juga Hamka membahas bagaimana budi yang harus dimiliki oleh pemimpin, pengusaha dan pekerja dari guru sampai dokter. Mungkin karena
    niat beliau yang tulus dalam menulis sehingga isi yang sebenarnya sangat bermakna dirasa sangat sederhana. Menelusuk kedalam hati, mengalir layaknya air
    sungai yang jernih dan sampai pada samudera pemahaman yang dalam. Bisa jadi inilah ilmu yang berkah dijaga oleh sang pemilik ilmu.
    .
    Bukan kah banyak
    tulisan dan pengarang namun hanya beberapa saja yang masih hidup sampai sekarang dan dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang. Raga mereka sudah tiada
    tapi jiwa dan pikirannya masih hidup disetiap orang yang membaca. Begitulah.....
    Rangkas, 18-12-2016