*Review Buku TRI MURTI

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Buku
dipublikasikan 10 November 2016
*Review Buku TRI MURTI

*Review Buku Trimurti
Buku sejarah tentang tiga pendiri gontor (trimurti). Jauh dari kesan serius namun tetap bermakna. Bahkan saya merasa ini buku yang romantis, manis, dan sedih. Penulisannya yang ringan sangat asyik untuk dinikmati.
Kita dibawa pada zaman peregerakan sedang berlangsung.
Motivasi tiga pendiri pondok adalah amanah dari sang ibunda. Hal yang paling saya sukai adalah ketika Kyi Sahal dengan metode uniknya mengumpulkan anak-anak di sekitar kampung lewat suara petasan.
Memberikan pendidikan tidak lewat paksaan namun melalui kebahagian dan kesadaran. Cerdasnya beliau membuat mereka tertarik.
Saya membayangkan beliau bercanda dan berdiskusi dengan anak-anak kampung.
Mereka yang awalnya kurang bersih bisa dikatakan kumel karena jarang mandi. Bukan karena tidak ada air tapi tidak mengetahui arti kebersihan. Yang berangsur-angsur merasa malu jika badannya kotor, setelah pengetahuan itu datang. Saya juga mengagumi bagaimana sang kyai menjemput dan mendatangi para anak satu-persatu. Jika dilogikakan dalam masa kini apa yang beliau cari dan harapkan?Bahkan beliau bukanlah orang yang berpunya. Tapi itulah beliau keikhlasan kiranya yang membuat pondok tetap berdiri kokoh.

Bukan hanya itu, saya mengagumi keromantisan beliau kepada isterinya. Ketika beliau berujar "Besok kalau saya ditanya malaikat, Insya Allah saya bisa menjawab semunya, kecuali satu hal: Saya belum pernah membelikan baju buat Bu Tik". Kalimat tersebut indah dan romantis. Seakan tersirat kepiluan sekaligus kebaggaan pada sang isteri yang beliau persunting dan dikirimkan untuk belajar. Bagi saya beliau bukan hanya kyai namun juga pria yang moderat dikala itu. Memberikan hak dan mendukung pendidikan sang isteri.
Bagaimana dengan kisah yang lainnya? Sungguh sama mengagumkannya. Buku sederhana nan romantis. Diakhir buku ini sayapun ikut merasakan kesedihan, ketika beliau wafat dan menunggu kepulangan kyai Hasan Sahal puteranya. Sampe pada akhirnya tetap tidak berjumpa.
Rekomendasi bagi kawan-kawan yang sedang merintis lembaga pendidikan
Malang, 09-11-2016

 
 
 

  • view 185