Jika Aku yang jadi Orang Ketiga, Bagaimana?

Pepi Nuroniah
Karya Pepi Nuroniah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 April 2016
Jika Aku yang jadi Orang Ketiga, Bagaimana?

Pada hakikatnya semua orang itu baik. Tercipta dengan fitrah yang suci. Berbagai pengaruhlah yang mempengaruhinya yang sebenarnya bisa dia pilih. Okeh, jika aku, atau kamu yang jadi orang ketiga dan menjadi tokoh antogonis itu, bagaimana? ?Amit-amit hindarkan ya tuhan hindarkan? semoga itulah reflek ucapan kita. Jika sebaliknya atau memang kamu tidak sadar, sebenarnya kamu adalah si ketiga itu? Apa yang akan kamu pilih? Meninggalkannya, tapi jika dia memilihmu? Yakin kamu akan meninggalkannya.

Bahkan bukan hanya wanita, kadang atau mungkin banyak priapun menjadi orang ketiga bagi hubungan seseorang. Tidak ada yang suka menjadi orang ketiga semuanya maunya jadi yang pertama. Namun, ucapan-ucapanmu tentang ?ayo maju selama janur kuning belum melengkung?. Bukankah itu dukungan untuk orang ke tiga? Itulah kita, manusia yang mempunyai sisi gelap.

Bukan hanya di dunia nyata, tanpa sadar kita sering mendukung si orang ketiga ini. Di perderamaan, film dan sinetron-sinetron kita perada diposisi depan mendukung tokoh utama yang jadi orang ketiga. Contoh; jika si pemeran utama kaya terus sudah punya tunangan dan dia tiba-tiba bertemu dengan orang baru yang bahkan terlihat biasa saja. Bukankah si tunangan akan ditinggalkan dan memilih orang yang baru datang? Kita sebagai penonton mendukung pilihan pemeran utama. Kita juga diperlihatkan si tunangan itu jadi tokoh antagonis, padahal wajar dong kan calonnya direbut. Tapi, ko kita malah mendukung si orang baru?

Jadi, bagaimana jika kamu jadi orang ketiga? Tidak semua orang beruntung berjodoh dengan orang yang dia cintai. Dan banyak modus orang ketiga ini yang tidak mau disebut orang ketiga dan biasanya bersembunyi dibalik kata ?hanya teman?.

  • view 379