Malam Pertama, Suamiku Marah?

Wurdiyah Nur Madura
Karya Wurdiyah Nur Madura Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Agustus 2017
Malam Pertama, Suamiku Marah?

Sah. Baru kali ini aku benar-benar tidak dapat berkalimat banyak tentang sesuatu, bukan karena kehabisan kata justru karena terlalu rayanya rasa, terlalu penuh yang ingin diungkapkan. Semuanya Cuma bisa aku rangkum dalam satu kalimat “Fabiaayi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan”. Nikmat, sungguh nikmat. Alhamdulillah.

 

Selesai prosesi sakral nan akbar pagi tadi, tiba malamnya aku dan suami benar-benar hanya berduaan di satu ruang dan satu waktu. Selepas sholat berjamaah, entah berdasarkan referensi tontonan atau bacaan, dengan begitu saja selesai sholat dan berdoa, kamu suguhkan tanganmu lalu kuciumi punggung tanganmu.  Disusul kemudian sebuah kecupan lembut bergetar aku rasakan mendarat di keningku.

 

“HHhhhhhmmmmmmhhhhh…. Aaaaaaaahhhhh….,” teriakku tiba-tiba refleks saja begitu. Ada sensasi luar biasa yang tidak mampu aku wakilkan dalam kata-kata. Hati sampai ubun-ubunku terasa meledak-ledak, jadilah aku merayakannya dalam kegaduhan bukan kata.

 

“Hush…,” sergahmu.

 

“Kamu ini kebiasaan heboh. Pura-pura kalem kek, ini moment khusyuk, khidmat, kamu ini…,” katamu. Nada bicaramu terdengar meninggi seperti orang marah-marah, tapi kemudian disusul senyum tersungging di bibirmu,  dan kamu lanjutkan menciumiku. Kali ini aku merasa lebih meledak, tapi tentu saja aku tidak lagi bisa berteriak, kamu bekap bibirku dengan lembut. Pakai apa? Dibekap kok pakai apa, ya pakai tangan lah… Wkwwkwkwkwkwk…

  • view 350