Teman Lama, Teman Menempuh Hidup Baru

Wurdiyah Nur Madura
Karya Wurdiyah Nur Madura Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Juli 2017
Teman Lama, Teman Menempuh Hidup Baru

Waktu itu 2014…

 

Aku sedang dalam perjalanan ke Bogor via kereta api saat sebuah pesan masuk di messengerku. Dari kamu, teman lamaku. Kamu sedang transit di Bandara Internasional Changi-SIngapura, tujuan akhirmu Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta-Indonesia.

 

“Kamu pulang. Jadi nikah tahun ini?” tanyaku di ujung percakapan waktu itu.

 

Pesanku tidak berbalas. Tiga hari sudah aku di Bogor, kamu kembali mengirimiku pesan tapi bukan jawaban dari chit-chat terakhirku.

 

“Kapan pulang? Ke Malang apa langsung ke Madura? Kalau ke Madura bareng aja"
“Ongkos dan urusan perut pasti gratis ya sama kamu. Tapi aku masih sampai akhir pekan di sini"
“Iya gampang itu. Yang bilang mau pulang sekarang siapa"

 

Deal. Kita pulang bersama di akhir pekan itu. Selesai urusanku di Bogor, rekan-rekanku kembali ke Malang, sedangkan aku ke Jakarta, menemuimu untuk kemudian pulang ke Madura. Sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu (terakhir bertemu sekitar 2009), pertemuan yang tidak sepenuhnya tidak kita sengaja itu menjadi ajang reuni, tentang cerita yang terlewat, juga cerita yang masih kita awangkan.

 

Aku masih ingat betul bagaimana teguhnya caramu bercerita sepanjang perjalanan tentang niat menikahi pasanganmu waktu itu. Kamu men-deadline tahun 2015 harus sudah berstatus halal dengannya. Dan, kamu pun mungkin masih ingat bagaimana aku bercerita tentang laki-laki yang memintaku untuk memperkenalkannya kepada keluargaku. Kamu mendukungnya.

 

“Bagus itu, laki-laki itu berniat baik sama kamu. Ijabahin lah. Kamu berhentilah main-main,” katamu.

 

Tapi, diri ini hanya tampaknya saja seperti kita, seolah kita memiliki hak penuh atas lahir batin kita. Padahal hanya Tuhan Yang Maha Kuasalah penguasa atas setiap cerita hidup kita.

 

Kamu tidak berjodoh dengan perempuanmu itu, yang sebagai temanmu sejak lama aku cukup tahu kamu beberapa kali tidak beruntung soal perempuan, kamu ditinggalkan dengan beragam alasan bahkan kadang tanpa alasan bahahhaha...

 

Aku juga ingat betul bagaimana jawabanmu saat aku usil bertanya "Kamu nggak kangen sama dia? Nggak kecewa? Marah?”. “Kecewa iya, tapi apa untungnya marah. Mungkin aku memang tidak pas buatnya, mungkin memang laki-laki lain lebih bisa membuatnya bahagia, lebih baik, dan blablabla…”. Kurang lebih begitu jawabanmu, belum pernah aku dengar terlalu berbeda.

 

Kamu teman yang tidak pernah serius saat kita bersama teman-teman yang lain, tapi saat berdua aku tahu kamu tidak semain-main seperti saat bermain.

 

Pada akhirnya, kamu juga tahu bahwa hubunganku tidak di-amin-i keluargaku. Dan, semuanya selesai begitu saja. Aku dan pasanganku waktu itu tidak bisa memaksakan apa-apa. Aku sempat memintanya berjuang, tapi dia mundur. Aku tidak bisa memaksa. Maka, selesai sudah.

 

Entah bagaimana kemudian kita bisa terjebak seperti ini, tidak ada yang tahu pasti di antara kita bagaimana semua ini berawal lebih dari niat sekadar sebagai teman. Keluargamu sepertinya salah paham tentangku, dan ibuku jatuh cinta pada auramu. Kamu tahu sendirilah, bagaimana akurasi kedukunan ibuku.

 

Kita mencoba menjalani apa yang diprasangkakan sesepuh kita. Kita pikir karena kita teman semuanya akan baik-baik saja. Sebagai pasangan yang tidak memulai dengan saling jatuh cinta, kita hanya merasa cukup memiliki niat baik. Tapi, tidak bisa dipungkiri, kemarau rasa tetaplah kering meskipun tidak kerontang. Tidak menyiksa meskipun tidak basah kuyup dengan siraman hujan cinta.

 

“Kalau kamu bertemu dengan yang lain dan lebih nyaman dengannya, aku tidak pernah menahanmu dalam hubungan ini” atau “Jangan ada yang merasa terpaksa di antara kita” atau “Kita adalah teman, berhasil atau tidak berhasil hubungan ini, kita tetap adalah teman”, kalimat-kalimat itu seringkali terulang terucap terngiang menjadi harmoni langkah niat kita.

 

Sekarang, kita berbicara tentang pernikahan itu. Aku akan menikah denganmu. Iya, aku dan kamu. Apalagi yang bisa kita jelaskan. Hanya pesanmu yang selalu coba kutauladani, “Bismillah...”

 

Ini sekadar sebagai tulisan mengingat-ingat sebenarnya sejak kapan ‘skandal’ ini bermula heuheuheu… Teman… Teman lamaku yang sedang berjalan mendekat menjadi teman hidup baru. Semoga kesampaian kita baik, entah sampai pada jodoh pernikahan atau jodoh kematian lebih dulu. Tidak ada yang tahu. Mari tetap ikhtiarkan dan tawakkalkan kepada Allah Sang Satu.

  • view 174