Kaum yang (merasa) Tersisih

Kaum yang (merasa) Tersisih

Harviah Widianingrum
Karya Harviah Widianingrum Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juni 2017
Kaum yang (merasa) Tersisih

Hiruk pikuk kota industri. Padat pendatang dan pribumi. Semua satu tujuan, yakni sesuap nasi. Senggol sana-sini bukan hal yang tabu lagi. Suap sana-sini tontonan sehari -hari.

Beberapa merasa tersaingi. Koar-koar Tuan rumah, yang mempunyai hak atas tanah ladang rezeki. Pribumi berontak, menuntut apa itu yang disebut hak. Menyuarakan pendapat hingga suara serak. Berharap sang empunya kewenangan mengiyakan, tanpa menolak. 

Beberapa lupa, yang perlu mereka lakukan hanya berbisik lirih pada Yang Kuasa. Menengadahkan tangan selepas menunaikan kewajiban. Meminta pada yang Maha Memiliki Segalanya.

Rezekimu tidak akan tertukar, Bung! Semua sudah ada porsi dan takarannya. Semua sudah Tuhan bagi seadil-adilnya. Masalah dimana, di tanah siapa, kelak kau akan menemukan ketika kau berusaha. Mungkin menurutmu berteriak merupakan sebagian usaha. Tapi, apa kau tidak sayang waktumu, Bung ? Kau bisa mulai berjalan, mencari dimana pintu rizki. Kau bisa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Sudahlah, Bung. Toh mereka menilai kita bukan karena kita siapa dan lahir dimana. Tapi karena kualitas kita dan beberapa memperhatikan track record juga: bagaimana pendahulu Anda. Sekarang, alangkah lebih baiknya perbaiki diri, perbanyak usaha dan do’a. Kelak pintu rezekimu akan terbuka dan generasi penerusmu mudah mencari kerja.

Jangan pernah merasa tersisih di tanah sendiri. Kami tidak merampas dan mengambil hak pribumi. Kami berusaha, berdoa dan kemudian Tuhan tunjukan rezeki kami ada disini. Mari bersaing secara sehat, Bung. Mari sama-sama meningkatkan kualitas diri lagi dan lagi.

Tunjukkan bahwa Anda juga pantas, menjadi ahli di tanah sendiri.

 

Karawang, 04 Maret 2016 
Dari kami, yang selalu mendapat tatapan iri

  • view 137