mahkota itu,

nay nazahah
Karya nay nazahah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2017
mahkota itu,

Mahkota Untuk Ibunda

Banyak hal dalam hidup kita yang dapat dijadikan ibrah atau pembelajaran. Hal-hal kecil yang terkadang kita anggap remeh justru menjadi sebuah alibi kesuksesan. Ya, itulah yang sempat aku alami beberapa kali. Namun, sukses yang menjadi harapan itu belum nampak terbit diufuk kehidupanku. Kesuksesan yang amat ayahku rindukan, kesuksesan sesungguhnya untuk menjadi hamba-Nya yang berangan, berharap dan bercita menempatkan mahkota kemuliaan pada kedua orangtuanya. Ah, mengingat hal itu aku menjadi malu, membuat  hidup serasa hambar.

Perkenalkan aku, seorang anak Adam yang ditempa banyak ujian, namun tak luput dari miliunan kebahagiaan. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Terlahir dari keluarga yang sederhana namun bahagia. Aku, seorang anak dengan banyak tumpuan yang tak berkesudahan. Ditengah ruangan yang berjejal manusia dengan kegiatan mereka, kucoba untuk mengumpulkan puzzle hidupku yang telah lama tercecer.

Munhamika, itulah namaku. Dibesarkan dan dididik di sekolah Islam adalah diriku. Sejak kecil aku sudah dikenalkan Al-Qur’an, mulai membaca dan menghafalnya satu persatu ayatnya. Ya, itulah yang dapat aku rasakan saat kanak-kanak dulu. Setiap ayah pergi aku selalu menyertainya, kemanapun itu. Alunan nyanyian TK menghiasi langkah ayah yang menggendongku diatas pundaknya. Ah, membuatku semakin rindu sosoknya untuk saat ini.

Matahari berganti sinar, semburat fajar tadi pagi telah mencapai Dhuha. Aku baru tersadar saat ini. SDIT menjadi pilihan yang membawa banyak harapan bagi orangtuaku, terutama ayah. Dengan program unggulan Tahfidzul Qur’an 2 juz ayah menyelipkan harapan terbesar padaku. Ya, ayah yang sangat ingin dan bercita anak-anaknya menjadi ahlul qur’an. Syukur Alhamdulillah, target kelulusan dapat aku raih, walau jika aku mengingat rutinitasku menghafal saat itu membuatku begitu menyesal. Bayangkan, setiap hari aku tak pernah bersungguh-sungguh menghafal. Dirumah, Al-Qur’an sama sekali tidak pernah kucoba untuk kubuka dan kemudian menghafalnya, aku terlalu sibuk bermain. Menghafal adalah rutinitas formal sekolah saja, yang jika atap rumah sudah tampak didepan peupuk mataku, maka menghafal sudah terlupa dari sensor memoriku. Itulah penyesalan pertama.

Matahari kini sudah lama beredar, sudah 6 tahun aku tak memperhatikan putarannya. Kini, saat aku tersadar kembali, matahari itu telah berada tepat diatas kepala, waktu Dhuhur telah tiba. Sedikit berfikir mungkin perbedaan yang sedikit terlihat dari seorang Munhamika yang sedang beranjak baligh.Setelah kelulusan SD aku dilema banyak pilihan. Masuk Mts Muhamadiyyah yang menjanjikan dunia dan penambah keharmonisan hubungan keluarga ayah atau masuk Pesantren yang bersiapkan tupukan rindu untuk ayah ibu. Alhamdulillah, aku lebih tertarik masuk Pesantren. Namun, hal tersebut bukan berarti hilang dilema. Kini tawaran muncul dari dua orang yang berbeda, mondok di kota tetangga atau merantau ke kota timur mewarisi pendidikan amahku. Kota tetangga menjadi pilihan paling tepat untukku dan cita-cita ayah.

Masuk kesebuah pondok yang sedang merintis program tahfidz adalah hal yang aku citakan sebelumnya. Mendengar kabar kakak angkatanku yang kini telah menyelesaikan hafalan 5 juz membuatku berdecak kagum penuh pesona. Bayangan didalam neuron otakku adalah apakah aku bisa sepertinya?. Hari demi hari kujalani dengan antusias tinggi. Menghafal, menghafal dan menghafal. Saat itu aku rela menyita waktu rahahku untuk menghafal Al-Qur’an. Pergi ke serambi masjid saat orang sibuk bercanda dan tidur. Al-hamdulillah, tahun itu aku dapat menghafal 7 juz dari al-Qur’an ditengah padatnya aktifitas formal. Lambat laun hafalanku bertambah banyak, tapi aku melupakan satu hal, TIKRAR atau MURAJAAH. Kegiatan tersebut amat membosankan menurutku dan itulah hal terberat dalam menjaga Al-Qur’an. Murajaah akan menyenangkan jika besok ada ujian. Itulah kebiasaanku. Kebiasaan buruk yang telah menghantarkanku pada penyesalan kedua. Penyesalan yang baru aku rasakan setelah mencicipi bangku kuliah. Ya, aku sekarang baru tersadar sepenuhnya, betapa menjaga kalam-Nya bukanlah mainan belaka, ia penuh dengan pertanggungjawaban dan amat butuh akan usaha.

Kini, matahari telah teduh. Setelah panas membakar, ia beredar menuju Barat, ia kelak akan tenggelam menyertai langkah hidupku. Sekarang Ashar telah tiba, sang Rahman telah memberiku kesadaran sepenuhnya. Namun susah dan sulit, itulah yang kurasa. Alloh..Engkau telah mempertemukanku dengan hamba-Mu yang memiliki cita-cita sama dengan ayah. Perantara hamba-Mu itulah yang mengajariku arti menghafal dan menjaga sepenuhnya, bukan yang selama ini aku jalani. Ya, seorang hamba ar-Rahman yang telah hadir sejenak mengisi cerita saat aku bertugas sebagai penerima tamu. Cerita indah tentang menghafal kalam-Nya. Beginilah, “ anak ibu yang pertama kebetulan diPondok tahfidz yang sangat ketat sistem murajaahnya. Si kakak awalnya mengeluh karena setiap akan naik ke juz selanjutnya harus diulang satu kali duduk tanpa banyak salah maupun lupa. Bisa jadi, tidak dinaikan ke juz selanjutnya sampai berkali-kali murajaah hingga ia benar lulus dhabthan tamman. Tapi, setelah dijalani, yang pada awalnya bosan dan jengkel mulai menikmati dan terbiasa. Kalau dirumah juga si kakak selalu setoran murajaah ke ibu satu juz setiap ba’da shalat, jadi sehari 5 juz. Dan itu sudah jadi kebiasaan. Awalnya murajaah memang susah, tapi jika diusahakan terus, telaten dan disiplin jadinya enak, nyaman dan hafalanya pasti kuat. Ibu ingin anak ibu bisa menghadiahkan mahkota kelak disyurga dan menjadi ahlulloh dengan menjadi ahlul qur’an.” Itulah cerita inspiratif dari tamu special untuk tugas perdanaku. Darinya aku sadar, wajar jika si kakak sekarang dhabit dan rajin murajaah karena beliau telah terbiasa dan telah menjiwai kalam-Nya.

Begitulah, untuk mencapai hafal al-Qur’an sesungguhnya amatlah butuh usaha yang sungguh. Ia tidak didapatkan dengan berleha dan banyak bercanda. Ya hafidhal qur’an rattil aayihi…kini aku hanya berusaha sedikit-demi sedikit merubah cara berfikirku. Dan aku tak ingin menyesal untuk yang ketiga kalinya saat matahari tenggelam nanti.

 

Has written by: Nay Nazahah

  • view 58