KEHIDUPAN

Vivi Oktavia Intan
Karya Vivi Oktavia Intan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 September 2016
KEHIDUPAN

KEHIDUPAN

Hidup, kehidupan, menghidupkan, membuat hidup.Banyak orang membicarakannya, tapi tidak semua orang mengerti makna, apalagi bisa memaknai arti kata ini. Bahkan diriku sendiri. Sampai saat ini aku masih tabu dengan kalimat itu. Ada seseorang yang mengatakan ‘Hidup adalah perjuangan’, jadi apakah setiap yang tidak berjuang, ia tak memiliki kehidupan? Tak berhak untuk hidup?. Dan yang mati-matian berjuang tapi tetap tak menikmati hasil perjuangannya, itukah makna dari ‘Hidup adalah perjuangan?’.
Aku tidak pernah mengerti. Bagiku apa yang aku jalani sejauh ini tidak lain adalah ‘Takdir’. Aku tidak pernah memilih hidup seperti ini, aku tidak pernah menginginkan kehidupan seperti ini. Aku tidak pernah memiliki hak untuk mengeluh. Karena aku tau, itu tak merubah apapun. Aku juga tidak sedang berjuang, aku hanya menjalani semuanya. Apa yang ada di kepalaku tentang apa yang akan aku lakukan adalah sepenuhnya jalan yang Tuhan pilihkan. Bukan aku tidak berharap.Tapi aku hanya tidak mau terlihat lemah.
Lihatkan? Betapa sombongnya aku?Bahkan di hadapanTuhanku?
Aku merasa rapuh bahkan dari semua sisi kehidupan. Keluarga dan Cinta. Disaat aku masih bisa terbangun dari tidur lelapku, berarti aku masih hidup dan masih memiliki hak untuk memberi kehidupan bagi siapa saja yang hidup. Aku hampir menyingkirkan perasaanku waktu itu. Menghentikan kebiasaan menangis di balik bantalku, atau menyembunyikan rindu sendirian, mencoba melampaui diriku sendiri. Diriku yang kemarin, sabarku yang kemarin, air mataku yang kemarin (mungkin).
Aku tau tidak ada hal yang tercipta sempurna, entah rupa maupun rasa.Tapi untuk hidupku.Aku tau ini tak hanya lelucon Tuhan. Aku memiliki keluarga yang kacau dan percintaan yang selalu rumit. Sejak malam itu, atas nama hidupku, aku berani dengan tegas mengatakan bahwa ‘Hidup itu takdir’. Ini menurutku, jika kalian tidak setuju, tak masalah.
Ya, setelah aku belajar memaknai diri dan rasaku, akhirnya aku bisa mengerti arti dari kehidupan. Mungkin yang menjadi pertanyaan, ‘Ada apa dengan keluargaku?’
I’m broken home. Mungkin bukan hal yang mengherankan di zaman sekarang.Mungkin situasi ini keren jika si anak yang menjadi korban broken home ini jadi memiliki ‘serba dua’ dalam semua kehidupannya. Dua kue ulang tahun, dua hadiah, dua fasilitas dan dua es krim. Tapi bagi yang hanya tetap merasakan ‘satu’, ia hanyalah kehilangan segalanya.
Sederhana saja, semua berawal dari melihat ibu ku jatuh sakit karena harus kerja keras demi menghidupi ketiga anaknya. Sebagai anak pertama, aku tau aku wajib menjadi wali untuk adik-adikku. Percayalah, ini tak mudah. Aku harus menguatkan hatiku dua kali lipat. Satu, untuk tersenyum. Dua, untuk membuat ibuku tersenyum. Dan untuk semua keringat dan airmatanya yang jatuh secara bergantian, aku bersumpah untuk tidak akan membiarkannya sendiri menanggung semua kepelikan ini.
Aku pernah melakukan hal sederhana yang akhirnya mampu merubahku.Merubah cara berfikirku dan caraku memandang sesuatu. Aku memperhatikan wajah ibuku yang semakin menua. Aku tidak bisa hanya berdiam dan menjalani takdirku. Aku harus berlari, bukan berjalan.Tak ada seorang pun yang mampu mengubah takdir, tapi kita bisa menikmatinya. Seperti hal nya makanan, kita bisa memesan es jika kita sedang makan makanan yang pedas, kita bisa meniup bubur ayam yang telah kita sendok sebelum memasukkannya ke mulut kita, kita bisa pergi berenang jika kita merasa kepanasan. Pada akhirnya kita hanya perlu menemukan solusi dari setiap masalah yang ada, bukan kalimat ‘jalani saja’.
Aku telah terlahir kembali. Aku ingin menjadi pohon yang kuat untuk ibu dan adikku. Aku ingin bisa di andalkan, bahkan dalam segala cuaca. Melindungi mereka dari panas dan hujan, atau bahkan memberi mereka oksigen. Dan aku ingin kuat dimana angin kencang atau badai sekalipun takkan mampu mematahkanku. Demi ibuku, adikku, hidup mereka, lebih dari itu mungkin semacam ‘sehidup sesurga’.
Tidak ada hal indah yang bisa dicontoh dari keluargaku, karena bagi anak broken home, kami dituntut harus mengubah cara kami untuk bahagia. kami punya cara sendiri, punya keindahan sendiri. atau mungkin tidak mencontoh keindahan, tetapi menciptakan keindahannya sendiri.

  • view 137