Kaktus dan Sukma Kirana

Puji CH
Karya Puji CH Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2018
Kaktus dan Sukma Kirana

Sudah bertahun-tahun lamanya Sukma Kirana mengadahkan tangannya diantara hembusan angin yang mengigil, rupanya ia sedang menanti sebuah jawaban yang hanya dituliskan dalam berkas-berkas lusuh pada dedaunan. Serangkai janji yang rajin ia sampaikan dalam doa.

“Pagi ini lukisan di awan itu tampak gelap bagai hari yang masih malam, angin yang berhembus membekukan hati, tak melihat sedikit perasaan yang mengalir, namun kuyakin pagi ini akan indah karena pijaran mentari sedikit lagi terbuka, perlahan namun sudah memperlihatkan sinarnya walau tak penuh seperti biasanya Sukma.” Suara yang sebelumya tak pernah terdengar.

Pagi sepagi ini ketika rumput terasa harum, udara dingin yang tak pernah membekukan, sapa mentari malu-malu, tak ada yang berkhianat sepagi ini. Sukma Kirana masih saja mengadahkan tangannya diantara gigil angin.

Ketika diantara bukit hijau ada yang meneriakkan Sukmanya,

“Berilah ia nama si Kaktus, aku takkan membicarakannya sebagai tumbuhan, aku akan sebut ia makna kehidupan yang kusebut motivator.” Suara yang sebelumnya tak pernah terdengar kembali menemuinya. Kini Sukma Kirana membuka matanya lebar-lebar sambil menutup kedua telinganya kebingungan.

Terik pancaran sinar memandang, keluhan banyak orang yang menyalahkan cuaca panas tak ia sukai. Lebih baik kedinginan katanya daripada kepanasan, namun ada juga yang berkata tak mau kedinginan dan tak mau kepanasan. Atau ada lagi yang menginginkan kepanasan daripada kedinginan. Sebab jika terlalu dingin semua akan membeku bahkan hati dan pikiran menjadi beku, lalu dimana nurani dan pikiran dapat menyatu untuk bisa berpelukan satu sama lain jika semua jadi beku, pelukan yang hanya mereka ketahui caranya.

Kaktus takkan mengurusi urusan orang yang banyak mengeluh hanya karna suhu. Masih dapat diberi hidup dengan caranya, itulah anugerah yang biasa disebut dengan syukur. Tak ada yang lebih indah dari rasa syukur.

Hamparan luas bukit hijau hanya berisikan pepohonan dan sebuah Kaktus. Sukma Kirana selalu mengadahkan tangan diantaranya dan bicara pada diri makna hidupnya yang terasing. Siang itu cuaca semakin terik. Lukisan awan kebiruan membentuk bayangan dirinya. Sambil memandang langit, semakin buram pandangannya ia tak kuat dengan teriknya mentari. Tapi ia terus berharap bayangan dirinya bergambar warna-warni tak hanya biru seperti langit. Lamunannya berlari dan dirinya kini berhadapan dengan sebuah Kaktus yang katanya bisa bicara.

“Aku hidup diantara bukit dan jalanan berkelok, aku tumbuh selayaknya kau yang memancarkan cahaya bagai bintang dimalam hari, aku menyukai terik matahari yang selalu tersenyum, akupun menerima kehadiran malam yang begitu gelap bersama bulan sabit di kerlingan matamu Sukma Kirana.” Terus berlanjut selama bumi masih berputar, tegas Kaktus.

“Tapi kau bukan sesuatu yang indah, bentukmu juga tak karuan, hanya duri yang ada disekeliling tubuhmu, kau tak pernah berkeringat, padahal kau senang berdiam diri dibawah senyuman sang mentari. Kau terlihat tidak sehat.” Seraya memberi secangkir air minum dari tepi sungai.

            Kaktus tak memerlukan banyak air untuk terus bertahan hidup tapi bukan berarti bisa kuat hidup tanpa air. Sukma Kirana paham betul Kaktus sedang kehausan.

“Kau tak perlu cemas Sukma Kirana,tak usah kau menyiramiku setiap saat dan memberikan pupuk, aku takkan membiarkanmu kelelahan untuk tetap mengkhawatirkan hidupku.”

Sukma Kirana kembali mengadahkan tangannya diantara gigil angin kali ini hari sudah mulai malam.

Tiba-tiba dimalam yang semakin larut badai datang menghadang, angin tak lagi bersahabat, mendadak peri angin menjadi flu, gemericik air bersama halilintar menyatu membentuk hujan yang sangat menakutkan. Pepohonan tak lagi utuh, rerumputan bergoyang ketakutan. Sukma Kirana masih berdiam diri di antara badai malam. Kini ia tak lagi mengadahkan tangannya, melainkan membungkukkan tubuhnya sambil melindungi Kaktus yang tak ingin terlihat tak karuan. Kaktus yang lain sudah tumbang pikirnya. Sambil menahan isak tangis dan berdoa agar badai tak ikut menumbangkan dirinya dan sebuah Kaktus yang tersisa.

Mentari pagi kembali tersenyum, tenangkan hati Sukma Kirana. Kini ia terduduk lusuh dihadapan Kaktus. Memandang kosong sambil berkata,

“Sebelumnya aku tak pernah berpikir datangnya badai yang tiba-tiba mengamuk, aku berpikir hanya ada senyuman mentari dan anggunnya malam. Bagaimana jika musim penghujan akan segera datang? Aku tak tahu masih dapat mengadahkan tanganku atau tidak.”

“Musim akan silih berganti dan membawa perubahan disetiap massanya. Jangan bersedih dengan keadaan yang tak biasa ini. Kau bisa berpindah ke tempat yang dapat melindungimu. Dengan caramu kau akan tetap hidup.” Tatapan kosong dengan imaji Sukma Kirana yang memandang perkataan Kaktus.

Kini saatnya Sukma Kirana harus berjalan diantara kelokan jalan terjal di sisi bukit. Tempatnya kini sedang berduka. Ia berjalan megikuti arah agar dapat temukan tempat untuk berlindung sambil membawa segenggam tanah dengan satu Kaktus yang ia lindungi semalaman.Matanya melirik ke arah kanan, ia melihat sebuah rumah dengan bertanaman bunga di dalamnya. Sukma Kirana tersenyum dengan langkah kecil yang buru-buru.

“Aku telah menemukan tempatku berlindung dan tempat Kaktus bertahan hidup, takkan kubiarkan ia kedinginan.” Dengan perasaan senangnya.

Rumah itu berbentuk lingkaran dengan tiang menjulang. Mirip istana kecil yang berdinding mutiara dengan dilengkapi taman yang berbentuk bonsai. “Cantiknya!” Gumam Sukma.

Kaktus mencium harumnya rumput yang berembun, gemericik air kolam yang berirama, hembusan angin yang lembut dan memandang senyuman Sukma Kirana yang tak kalah cantik dengan senyuman sang mentari. Dirinya sudah tak ada lagi digenggaman Sukma Kirana. Tempatnya kini berada di wadah yang berhiaskan keramik, di pijakan antara dinding mutiara yang terpancar hangatnya sinar mentari yang selalu muncul di tempat yang sama. Kaktus tetap hidup dengan caranya.

“Tunggu sebentar Kaktus, aku ingin melihat pemandangan di luar sana. Berdiamlah di tempatmu, jangan khawatir kau takkan kedinginan.”

Lukisan senja sedang ingin berkenalan dengan Sukma Kirana yang kembali mengadahkan tangannya diantara rerumputan yang berhiaskan bunga warna- warni.

“Harumnya bunga melati, indahnya bunga mawar, anggunnya bunga anggrek, cantiknya bunga asoka kuning, tak sabar aku ingin segera melihat mekarnya wijaya kusuma di malam hari. Ah, terima kasih.” Ada bulan sabit di kerlingan mata Sukma Kirana dengan pancaran kebahagiaan.

Lirikan matanya kini terarah diantara dinding mutiara, ia melihat Kaktus yang tak biasa, dari kejauhan ia melihat ada yang berwarna diatas duri, apakah itu mahkota?Ataukah serangga yang sedang mengganggu?Ah tidak tahu. Ia berjalan cepat menghampirinya.

“Kaktus?”

“Apakah itu benar kau?”

“Indahnya!” Terkejut kagum Sukma Kirana memandangnya.

Dengan penasaran ia ingin menyentuh bagian indah itu, namunsebelum tersentuh suatu keindahan yang dimiliki kaktus, ia terkena duri.

“Aaaawww!” Jangan khawatir aku akan segera mengobatinya. Aku takkan menyentuh bungamu yang sekian lama kau nanti. Memandang indahnya, aku merasakan keindahan di puncak bagian tubuhmu. Kini kau bermahkota Kaktus!”

Kaktus memandang senyuman Sukma Kirana kali inilah yang tercantik.

“Jika kau memang pohon Kaktus, aku tak akan menghilangkan durimu dan mengubahnya menjadi bonsai. Bunganya akan segera mekar, duri itu jadi pelindung, ciri khas yang indah. Jika lenganku harus terluka karena durimu, aku akan segera mengobatinya, jangan khawatir! Takkan kubiarkan kau kedinginan, tenang hiduplah dengan caramu.” Sukma Kirana memuji.

  • view 71