Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 25 April 2018   08:27 WIB
Simpul Buana

Dengarlah ini cerita berasal dari bening menjadi busa terdampar di tanah dan lenyap terkena terik yang tak sengaja hadir di antara kerikil debu aspal

Bukan kau salah paham,

Ternyata langit masih gelap, terlalu cepat untuk berdiam di tempat ini menanti risik angin dalam sampul pesonanya,

Mentari masih belum menyapa pagi,

senyumnya masih bersembunyi dalam kabut pekat kini.

Namun lihatlah kesenyapan yang begitu indah,

di antara kerlip lampu dan senandung AsmaNya

Perlahan menyambut dengan keelokan warna lukisanNya.

Buana yang slalu cantik rupanya, jika aku ingin bercerita pada kau, biarkan aku pejamkan mata saja, biar hati yang bicara tanpa bibirku yang berkata.
Buana yang tak lelah berkelana, jika perubahan tak buatmu tersenyum, dan tak buat orang lain tersenyum, untuk apa kehidupan? tak ingin ku mengukir hujan di garistawa
Buana yang berhati mulia, maafkan diri ini hanya bisa bersujud dalam ridhoNya, mengadahkan tangan dalam simpul doa, lantunan ayat suci yang menjadi bekal panjang di setiap asmaNya

Hai dinding kehangatan ceritakanlah bagaimana aku terlahir

Sepasang bola mata pama

Beribu garis menyungging gingsul

Terasa tanpa tahu rupanya

Terhitung kontrak dariku sampai kerangka batang pohonan

Kau pemilik bangunan kokoh yang kau sebut mutiara sederhana

Tanpa terlihat siapa pemilikNya.

Ketika tak ada lagi rasa hangat

Pasti guncangan sedang menghampiri

Dan kau sebut itu kiamat

Dari terang sampai gelap dan tak kelihatan

Tapi kau sadar setidaknya kau pernah ngontrak, dan kau punya bangunan

Matahari, bulan, dan bintang adalah kita

Dan sentralnya buana

Bila ada kata lebih dari syukur aku ingin memujinya kepadaMu
Sujudku ini kali lebih lama dari biasanya
Aku berhamdalah padaMu
Mendengar lantunan AsmaMu, slalu ciptakan hujan di pipi
Keindahan yang tiada tandingnya.
Diantara langit subuh bercerita
"Syukur"

PC

 

Karya : Puji CH