SALEDALE (ibu tiri yang kejam)

PAULINA FEOH
Karya PAULINA FEOH Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Januari 2018
SALEDALE (ibu tiri yang kejam)

SALEDALE (ibu tiri yang kejam)

Saledale           : (ia dalam keadaan tidur)     

Tukateik           : (menanyakan sikap Saledale pada anak-anak ). Anak-anak apakah kamu makan pada siang hari saat ayah keluar?

Lelu Welang      : Tidak pernah Ayah!, (jawab si sulung dan didukung oleh adik-adiknya). ia   betul ayah kami tidak makan.

Tukateik         : Ah....yang benar saja, Lalu sisa-sisa nasi yang belepotan di pipi kamu saat aku pulang, itu apa? ( Desak Sang Ayah sembari menahan emosinya).

Lelu Welang      : Oh itu, itu benar Ayah, Tapi itu hanya akal-akalan ibu Saledale saja. Dia mengambil sisa-sisa nasi lalu menggosok-gosokkannya pada mulut dan pipi kami, sehingga tampak seperti baru habis makan, (sahut anak-anaknya dengan suara yang dibuat rendah).

Tukateik           : (menahan emosinya saat selesai mendengar ucapan atau keluhan anak-anaknya). Yah, ayah percaya kalian. Sekarang harus tabah dalam menghadapi tantangan hidup, (sambil merangku mereka).

Keesokan harinya, di waktu siang Tukateik ingin mengetahui kebenarannya, Tukateik memberitahukan Saledale bahwa dia akan pergi jauh dari Metilopu.

Tukateik           : Sayang, sekarang saya mau pergi jauh dari Metilopu.

Saledale             : (tanya Saledale cukup lembut). Berapa lama?

Tukateik          : Seharian penuh, tolong jaga baik-baik anak-anak.

Saledale             : Iya.

Tukateik            : (pergilah bersembunyi di atas loteng tatkala dan menyaksikan kebenaran. Ia    langsung menangis dan air matanya jatuh menembus di wajah Saledale).

Saledale             : (bergegaslah ke kamar mandi ). Ihh....dasar binatang kurang ajar, bisa-bisanya    mengotori wajah saya. ( sambil mencuci wajahnya)

Tukateik            : (melihat Saledale ke kamar mandi ia pun turun dari atas loteng itu dan   menghampiri Saledale sambil menghela napas yang panjang ). Hmmm....betul-betul melelahkan perjalananku hari ini.”

Saledale             : (setelah melihat suaminya pulang, ia pun menyiapkan makanan di atas meja kemudian ia pura-pura menanyakan anak-anak). Hei kalian sudah makan, kan?

Anak-anak       : (secara polos mereka menjawab ). Tidak.

Saledale             : (saledale membelah dirinya kemudian memarahi anak-anak sementara suaminya berpura-pura terdiam). Anak-anak itu bohong, Pak. Tadi sudah makan kenyang sampai berak berkali-kali. Anak-anak apa macam begini. ( setelah memarahi anak-anak ia bergegas ke kamar).

Tukateik            : (menyusul Saledale ke kamar dan duduk disampingnya lalu meminta saran darinya). Bagaimana solusinya dengan anak-anak kita itu, Saledale?

Saledale           : (hanya membungkam).

Tukateik            : (tanpa menunggu jawaban Saledale, Tukateik pun menghibur). Sungguh berat beban yang harus kamu pikul, terutama ketika aku pergi jauh. Sekarang begini saja, bagaimana kalau kita menghantarkan mereka ke hutan saja? (Sang suami memberi jalan keluar).

Saledale             : (menyetujui pikirannya Tukateik tanpa pikir-pikir lagi). Iya betul, masukan yang bagus!

Malam itu, Tukateik tidak dapat tidur. Ia sedih dan menyesal dengan keputusannya.. Namun ia tidak dapat mengubah keputusannya lagi. Ia pun tak dapat menceraikan Saledale. Karena ia malu dengan tetangga. Ia tidak mau dikatain laki-laki tidak tau malu sudah duda namun punya istri cantik dan perawan namun masih di ceraikan lagi. Tukateik mencoba untuk memperkirakan tanggapan tetangga. Akhirnya, pagi yang ditentukan pun tiba.

Tukateik            : (ia bergegas ke kamar anak-anak kemudian Saledale membagikan tiga ketupatpada mereka)

Anak-anak       : (kagetlah mereka saat pagi hari mereka mendapatkan ketupat oleh Saledale)

Saledale             : Bawalah itu untuk makan diperjalanan. (Sambung sang Ayah berpura-pura marah karena di sampingnya, Saledale masih berdiri). Sejak hari ini kalian tinggalkan rumah. Kamu hidup di hutan.

 

Tukateik dapat melihat apa yang tersirat di pelupuk mata anak-anak. Karena itu, ia pun mengajak Saledale untuk menghantarkan ketiganya ke hutan.

Tukateik            : Cukup sampai di sini saja kami hantar kalian. Tinggallah di sini!

Lelu Welang     : Selagi kami masih mendengar suara lesung maka kami akan merasa sedih,

Tukateik            : (mereka berjalan lagi. Setelah merasa cukup jauh Tukateik ingin pinta dengan lagi). Cukup sampai di sini saja,

Pelang Galing : Jikalau kami masih mendengar suara anjing dan ayam berkokok maka kami merasa sedih.

Tukateik       : (mereka kemudian berjalan lagi hingga tiba di suatu tempat bernama Ne'igun Fe'daen, maka mereka pun berpisah). Selamat tinggal anak-anak disinilah tempat tinggal kalian yang baru.

Sepeninggal Tukateik dan Saledale, mereka membuka bekal masing-masing. Ternyata ketupat pemberian Saledale, bukan berisi nasi. Meski perut mereka terasa lapar, mereka terus berjalan mengintari hutan. Di ujung perjalanan, mereka bertemu dengan seorang tua yang lumpuh, berjenggot panjang, dan sebagian jenggotnya mengikat sebuah gong besar. Ketiganya, sama-sama heran.

Tipa Soli            : Bagaimana Bapak dapat hidup tenang, senang dan nyaman di hutan ini, padahal Bapak sendiri menderita lumpuh?

Bapak jenggot : Gong yang terikat di jenggotku sangat mujarab. Apa saja yang saya minta pasti dipenuhi. Kalau saya lapar, tinggal memukul saja gong ini.

Tipa Soli           : Kami bertiga lapar, Bapak.

Bapak jenggot : (Bapak Tua itu langsung memukul gong sebanyak dua kali). Nah, sekarang makanlah. Ada nasi, daging, dan buah-buahan

Tipa Soli         : (mereka sama-sama menikmati makanan tersebut.)

Di senja itu mereka tidur lebih awal. Ketika pagi itu mereka bangun, si Bapak Tua sudah menghilang. Mereka hanya mendapatkan gongnya. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kemudian tiba di sebuah tempat yang bernama Kosikona Ma Heladulu. Mereka membangun sebuah istana megah. Berita keberhasilan mereka, kini sampailah di telinga Tukateik dan Saledale, Kedatangan kedua orang tua itu disambut baik oleh anak-anaknya.

Lelu Welang : (ketika mereka mau pulang, anak-anaknya menahan mereka). Inilah seekor kerbau dan dua bakul padi untuk kalian. Kalau membutuhkan sesuatu, jangan ragu-ragu untuk datang lagi.

Saledale          : (melihat pemberian dari anak-anak batin Saledale sembari merenungi lagi tindakannya sewaktu anak-anak itu ada di sampingnya).

Tukateik     : Minta maaflah kepada mereka. (Bisik Tukateik pada Saledale. Sayangnya, Saledale tidak punya keberanian untuk melakukannya).

Setelah mereka menerima kerbau dan padi, merekapun kembali ke rumah. Namun sesampainya di Desa Piluk, perutnya Saledale ditanduk. Tukateik tak sanggup berbuat apa-apa sebab mereka berjauhan. Bakul pada akhirnya jatuh di sebuah tempat bernama Lapudale, sedangkan Saledale di suatu tempat yang bernama Kosi. Nyawa Saledale sudah melayang, padi-padi sudah berhamburan di Lapudale (kini di musim hujan padi yang terbuang itu tumbuh dengan sendirinya tapi tidak bisa dimakan karena berwarna hitam. Akhirnya, dia kembali menemui anak-anaknya di Kosikona Ma Heladulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 144