Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 18 Januari 2018   16:50 WIB
SALADE ( ibu tiri yang kejam )


 SALEDALE ( ibu tiri yang kejam )

Di sebuah kampung di Pulau Rote yaitu Desa Metilopu, hiduplah keluarga petani bernama Tukateik bersama dengan seorang isteri yang tercinta, yang bernama Bingalete. Keduanya dikaruniai tiga orang anak laki-laki yang ganteng-ganteng. Si sulung bernama Lelu Welang, lalu diikuti oleh Pelang Galing dan Tipa Soli.

Pekerjaan keluarga ini sehari-hari bercocok tanam. Mereka tidak pernah menyesali hidup sebagai petani kecil. Hidup dengan tetangga pun selalu rukun. Sang suami pandai menciptakan kondisi yang kondusif. Tak heranlah, mereka selalu bahagia menghadirkan canda ria, ditambah lagi sang isteri yang senantiasa pasang senyum ditengah anak-anaknya yang rada-rada nakal.

Sayangnya, kehidupan yang harmonis itu harus segera berakhir tatkala sang istri tercinta meninggal. Sang ayah bingung. Ia merasa terpukul saat kehilangan orang tesayang. Namun apalah daya Tuhan punya rencana tersendiri.

“Tuhan kenapa secepat ini kebahagian kami berakhir!” ujar dalam hatinya.

 

Ia mulai kebingungan siapa yang dapat membantunya untuk mendidik dan merawat ketiga anak-anaknya ini!

 

Ketika lama ia menduda tiba-tiba ia pun mendapat sang pengganti istrinya itu. Kekasih baru itu bernama Saledale. Orangnya cantik. Sayangnya kecantikan raganya tidak seimbang dengan hatinya. Di depan sang suami ia bertingkah seperti menyayangi anak tirinya. Apabila sang suami pergi kerja, ia tak memperhatikan anak-anak itu. Kalau sang suami pulang dan bertanya tentang anak-anaknya, Saledale selalu menjawab, mereka baik-baik bahkan sudah diberi makan, dan juga kebutuhan lainnya sudah dipenuhi semuanya.

 

Sang ayah tidak begitu saja menerima pengakuan Saledale. Karena itu, ketika tengah malam tiba, Tukateik mendekati anak-anaknya satu per satu kemudian ia menanyakan tentang sikap ibu tiri mereka.

" Anak-anak apakah kamu makan pada siang hari? " Sang Ayah berusaha menggali unek-unek yang terpendam dalam hati anak-anaknya.

."Tidak pernah Ayah," jawab si sulung dan didukung oleh adik-adiknya.

"Lalu sisa-sisa nasi yang belepotan di pipi kamu saat aku pulang, itu apa? " Desak Sang Ayah sembari menahan emosinya

." Oh itu, itu benar Ayah, Tapi itu hanya akal-akalan ibu Saledale saja. Dia mengambil sisa-sisa nasi lalu menggosok-gosokkannya pada mulut dan pipi kami, sehingga tampak seperti baru habis makan," sahut anak-anaknya dengan suara yang dibuat rendah. Mendengar jawaban anaknya, sang ayah tidak mengekspresikan kemarahannya di depan anak-anaknya. “ia mengajak anak-anaknya untuk tabah dalam menghadapi tantangan hidup,” sambil merangku mereka.

Keesokan harinya, Tukateik ingin mengetahui kebenarannya ia memberitahukan Saledale bahwa dia akan pergi jauh dari Metilopu.

"Berapa lama?" Tanya Saledale cukup lembut.

"Seharian penuh," jawab Tukateik sambil memohon agar menjaga baik-baik anak-anak.

Setelah mengatakan Tukateik pun pergi bersembunyi. Sang istri tidak tahu. Begitu Saledale berkunjung ke rumah tetangga, Tukateik kembali masuk rumah. Lalu bersembunyi di loteng rumah.

Siang itu, ia menyaksikannya sendiri. Saledale tidak mengajak anak-anak itu untuk makan. Remuk redam hatinya. Seketika itu ia menangis. Air matanya membentuk mata air. Lalu mengalir dengan derasnya. Tumpahan air mata itu pun menembusi lantai loteng rumah. Sementara itu Saladale kaget karena wajahnya terkena air. Maklum ia sedang berbaringri di kamarnya. Namun begitu, ia mengira, air itu adalah air kencing tokek atau cecak.

Saledale langsung ke kamar mandi. Saat itu, Tukateik turun dari lonteng. Ia berpura-pura capai dari perjalanan yang melelahkan. Kemudian setelah Saledale melihat suaminya, ia pun segera menyiapkan makanan. Ia pun berpura-pura tanya pada anak-anak.

"Kamu sudah makan, `kan?" Sayangnya, anak-anak itu secara polos menjawab, tidak.

Mendidihlah darahnya. ia memarahi ketiganya. Sementara sang suami berpura-pura diam saja.

“Anak-anak ini bohong Pak, tadi sudah makan kenyang sampai berak berkali-kali. Anak apa macam begini!" ujar Saledale.

Tukateik ia tahu pasti istri jengkel terhadap anak-anak. Perlahan ia menuju kamar istrinya. Ia duduk di samping Saledale.

"Bagaimana sebaiknya, anak-anak kita itu, Saledale?" Ia mencoba menggali pikiran sang istri.

Tanpa menunggu jawaban Saledale, Tukateik pun menghibur, "Sungguh berat beban yang harus kamu pikul, terutama ketika aku pergi jauh." Sang istri hanya membungkam.

" Sekarang begini saja, bagaimana kalau kita menghantarkan mereka ke hutan saja?" Sang suami memberi jalan keluar.

“Iya betul!” Saledale langsung mengiyakan tanpa pikir-pikir lagi.

Malam itu, Tukateik tidak dapat tidur. Ia sedih. Ia menyesal jalan keluar yang diputuskannya. Sebenarnya ia mau berusaha membangunkan Saledale untuk mengubah keputusannya. Tetapi ia takut sama istrinya, nanti dibilang tidak punya pendirian. Ia pun malu dengan tetangga, kalau ia menceraikan Saledale yang cantik itu.

"Tidak tahu malu, duda mendapat jodoh yang masih perawan. Lalu diceraikan seenaknya," Tukateik mencoba memperkirakan tanggapan tetangganya.

Pagi yang sudah ditentukan pun tiba. Tukateik bergegas menghampiri anak-anaknya. Saledale pun tidak ketinggalan. Sementara itu, anak-anak itu kaget. Sepagi itu, ibu tiri mereka memberikan tiga buah ketupat.       

" Nah bawa ini untuk makan di perjalanan," pesan Saledale kepada anak-anak.

"Sejak hari ini kalian tinggalkan rumah. Kamu hidup di hutan," sambung sang Ayah berpura-pura marah karena di sampingnya, Saledale masih berdiri.

Tukateik dapat melihat apa yang tersirat di pelupuk mata anak-anaknya. Karena itu, ia pun mengajak Saledale untuk menghantar ketiga anaknya itu ke hutan.

"Cukup sampai di sini saja kami hantar kalian. Tinggallah di sini!' kata sang ayah.

"Selagi kami masih mendengar suara lesung maka kami akan merasa sedih," anak sulungnya, Lelu Welang, menjawab sang ayah.

Mereka berjalan lagi. Setelah merasa cukup jauh Tukateik ingin pamitan dengan mereka.

“Cukup sampai di sini saja,"pinta sang ayah.

"Jikalau kami masih mendengar suara anjing dan ayam berkokok maka kami merasa sedih” jawablah anak kedua yaitu Pelang Galing.

Mereka kemudian berjalan lagi hingga tiba di suatu tempat bernama Ne'igun Fe'daen, mereka pun berpisah.

Sepeninggal Tukateik dan Saledale, mereka pun lapar. Kemudian mereka membuka bekal masing-masing. Tiba-tiba 'malakale ma leolesu' (tangisan) mereka pun tak terbendung. Ternyata ketupat pemberian ibu tiri Saledale, bukan berisi nasi. Ketupat pertama berisi 'abu ra'o' (abu dapur); kedua, kotoran kucing; dan ketiga, isinya kotoran babi.

Meski perut mereka terasa lapar, mereka terus berjalan mengintari hutan. Di ujung perjalanan, mereka bertemu dengan seorang tua yang lumpuh, berjenggot panjang, dan sebagian jenggotnya mengikat sebuah gong besar. Ketiganya, sama-sama heran.

"Bagaimana Bapak dapat hidup tenang, senang dan nyaman di hutan ini, padahal Bapak sendiri menderita lumpuh?" merasa penasaran.

"Gong yang terikat di jenggotku sangat mujarab. Apa saja yang saya minta pasti dipenuhi. Kalau saya lapar, tinggal memukul saja gong ini," si pemilik jenggot menyahuti pertanyaan.

"Kami bertiga lapar, Bapak," si Tipa Soli memberitahu. Bapak Tua itu langsung memukul gong tersebut sebanyak dua kali. Maka di depan mereka terhidang nasi, daging, dan buah-buahan. Mereka pun melahap sampai kenyang.

Di senja itu mereka tidur lebih awal. Kepergian malam pun tidak dirasakannya. Ketika pagi itu mereka bangun, si Bapak Tua sudah menghilang. Mereka hanya mendapatkan gongnya. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kemudian tiba di sebuah tempat yang bernama Kosikona Ma Heladulu. Di situlah mereka menetap. Mereka membangun sebuah istana megah. Mereka begitu bahagia. Semua kebutuhan terpenuhi. Caranya, ya tinggal saja memukul gong sebanyak dua kali. Luar biasa!

Berita keberhasilan mereka sampai juga di telinga Tukateik dan Saledale, Kedatangan kedua orang tua itu disambut baik oleh anak-anaknya. Ketika mereka mau pulang, anak-anaknya menahan mereka. Sebelum keduanya pulang, anak-anaknya memberikan seekor kerbau dan dua bakul padi sebagai bukti kasih sayang anak kepada orang tua. Mereka pun berpesan, kalau membutuhkan sesuatu, jangan ragu-ragu untuk datang lagi.

"Anak-anak ini baik sekali",batin Saledale sembari merenungi lagi tindakannya sewaktu anak-anak itu ada di sampingnya.

Tukateik mengetahui apa yang ada dalam pikiran Saledale.

“Minta maaflah kepada mereka." Bisik Tukateik pada Saledale. Sayangnya, Saledale tidak punya keberanian untuk melakukannya.

Dalam perjalanan pulang, Tukateik yang memegang kerbau dan membawa padi sebakul. Sedangkan sebakul lainnya dipikul oleh Saledale. Ketika mereka tiba di jalan yang agak menurun, tepatnya di Desa Piluk, Tukateik meminta Saledale untuk menarik kerbau. Saledale menerimanya. Mereka pun berjalan lagi, karena awan mendung dan sebentar lagi hujan pasti turun dengan derasnya. Tak seberapa lama, Tukateik kaget karena Saledale tiba-tiba berada di tanduk kerbau, sementara tanduk sebelahnya tergantung bakul padi. Untuk menolongnya, Tukateik tak sanggup. Sebab selain dia barusan membuang hajat (WC besar) juga jarak keduanya agak berjauhan. Apalagi, kerbau itu berlari kencang. Dalam pada itu, Saledale pun tidak sempat meminta tolong, karena kerbau tersebut langsung menanduk perutnya sehingga darah segar mencurat dengan cepat. Bakul padi akhirnya jatuh di sebuah tempat bernama Lapudale, sedangkan Saledale di suatu tempat yang bernama Kosi.

Tukateik memang tidak dapat berbuat apa-apa. Nyawa Saledale sudah melayang, padi-padi sudah berhamburan di Lapudale (kini di musim hujan padi yang terbuang itu tumbuh dengan sendirinya tapi tidak bisa dimakan karena berwarna hitam), juga dia sendiri sudah tua bangka. Satu-satunya jalan, dia kembali menemui anak-anaknya di Kosikona Ma Heladulu dan hidup bersama dengan anak-anaknya yang sudah kaya raya itu).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : PAULINA FEOH