Sudut Lokalisasi Yang Terembunyi

Aina Masrurin
Karya Aina Masrurin Kategori Sejarah
dipublikasikan 07 September 2017
Sudut Lokalisasi Yang Terembunyi

Setelah mantan calon ibu mertua menutup telpon, kok tiba-tiba "klimpungan" tidak bisa tidur. Sudah akhirnya kuajak bapak beli pert***x kebetulan besok aku balik ke tempat peraduan nun jauh d sono. Ketika mau berangkat kok rasanya berat ya kalau harus melewatkan kesyahduan dan kemerduan suara paklek menemani temen2 pemuda "langgar" sebelah sedang barjanji-an. Walaupun begitu tetep saja kita berangkat menuju P*M . kalau boleh sedikit cerita, sepanjang jalan sudah tak terhitung berapa puluh warung cethe yang kulewati melewati 3 desa setelah desaku itu bak lewat hutan belantara sepi mampri. Meski demikian warung-warung yang ada d desa setahuku dulu kisaran 40-an sudah mendirikan paguyuban. Nyatanya tetap berbeda dg warung-warung kopi yang konon katanya tidak hanya sekedar ngopi tapi juga diskusi, kalau disini mah kalau gak warung kopi yang menyediakan wifi gratisan, ya warung kopi pangkon(baca : pelayan cantik) atau warung kopi yang hanya dihuni si mbah2 sambil rokok an ngepul sambil ujung2nya berapa harga "boto-merang"( industri khas desaku). 

Lah dalah motor be** kesayangan butuh ganti oli, etdah bapak belok ke daerah jalan gelap untuk mampir di kolega bengkel keluarga (kayak dokter keluarga aja.heuheu) yang ternyata tutup. Bukan persoalan oli motor lagi, tapi kok ya masih ada aja mas-mas, bapak-bapak, para bujang yang suka jajan sembarangan. Oh ya tadi bapak ngajak lewat daerah yang dulu-sekarang masih jadi lokalisasi d kotaku. Lokalisasi yang menjelma di perbukitan makam cina itu terlihat kerlip-kerlip dari kejauhan. Kalau guyonan temen madrasah saya dulu "rom kalau di bukit itu banyak kelip atau sejenis ublik / teplok nah disitulah telah terjadi transaksi permainan syurga duniawi" maksudmu? (Polos, maklum masih bau kencur) entar juga tau sendiri. Nah malam ini juga ternyata kok terbukti (terlepas benar salah) terlihat beberapa di areal parkir  bahu jalan kecil dekat bukit terjejer rapi sepeda motor yang tak terlihat mereknya. Dan memang kalau agak dekat saja terlihat beberapa orang sedang transaksi. 

 

Sepanjang perjalanan pulang hanya nge2n2 "kok bisa ya? Eh ternyata" apa karena malam jumat jadi rame ya?. 

Terlepas dari itu semua, aku jadi teringat dulu ketika masih kanak2 suka pacuan sepeda di bukit itu, sesekali cari bunga kamboja buat hiasan warung saat lomba warung2an d madrasah. Yang beredar rumor ada penunggu ulung yang bernama "nyi roro kembang sore" 

Setidaknya apapun itu entah lokalisasi atau sejenisnya juga masih manusia, bisa melihat tak bisa melarang apalagi aruh2, hanya bisa memaki-maki dalam hati "Yaalah njenengan sepura sedanten-e" sembari bersyukur kok ya alhamdulillahnya saya tidak dijadikan bagian dari mereka.

Akhirnya tiba di rumah disambut sayub-sayub merdunya suara paklek membawakan lagu Qomarun..

Qomarun...

Qomarun sidnan naby...

Sembari terkantuk-terkantuk 

Terbayang senyum merekahnya scoppy merah. 

  • view 168