Tiba-tiba Keingetan Hitler

Pak Dokter
Karya Pak Dokter Kategori Politik
dipublikasikan 19 Januari 2017
Tiba-tiba Keingetan Hitler

Netizen, “Apaan sih ini debat, lawak dah!”

Kemarin-kemarin abis nonton debat Pilkada DKI yang pertama yang menghasilkan kesimpulan bahwa wanita itu bisa keliatan cantik dari sisi intelejensinya. Lah? Iya, Ira Koesno itu udah 47 tahun lho, padahal tadinya mikir si mbak ini masih seumuran cewek cewek FTV. Yet, dia bisa mendefinisikan arti kecantikan dari cara ngomongnya, which is lebih menarik dari cara paslon ngomong. Yaudahlah ya, harap tenang.

Jadi, sebagai orang yang ga terlalu jago sama gimana membangun alur berpikir yang baik, tetep aja entah kenapa nonton debat tersebut kerasa lawak aja sih. Dari data yang dihimpun sama PoliticaWave, beragam sentimen muncul saat debat maupun setelah debat berlangsung. Diantara sentimen tersebut adalah tentang salah satu calon yang dianggap tidak menguasai materi yang sedang dibicarakan, sentimen negatif terhadap calon lain yang dianggap meniru program calon yang lainnya, terlalu puitis, saat menanggapi ada ad-hominem, saat menanggapi ga nyambung, calon menjawab pertanyaan bertele-tele, dsb.

Selain itu, di media sosial dibicarakan beberapa program yang para calon yang dianggap tidak solutif dan mendidik, tidak berpihak pada rakyat, tidak ada data yang jelas saat calon membicarakan masalah yang bisa dilihat secara kuantitatif, serta gagasan-gagasan lain yang dianggap netizen bukan solusi praktis dan tidak rasional.

 

Politiknya Hitler

Dari sini, kita liat Jerman pada November 1923, waktu itu Hitler mencoba mengambil keuntungan dari krisis yang dihadapi Pemerintahan Republik Weimar dengan mencoba melakukan revolusi di Munich. Keliatannya sih waktu itu bakal berhasil, namun karena perencanaan yang buruk dan salah pertimbangan, revolusi gagal, 16 orang Nazi terbunuh sama polisi. Hitler cabut dan akhirnya ketangkep dua hari setelah melakukan aksi itu. Padahal waktu itu, Hitler punya 3000an pasukan yang siap rusuh demi Nazi. Hitler thought he would be helped by influential bavarian natioanalist politicans. At last, mereka cabut karena konon kaget Hitler tiba-tiba dateng ke Munich bawa pasukan pas mereka lagi anteng nyebat dan ngebir. Makanya insiden ini juga terkenal dengan nama Beer Hall Putsch.

Saat diadili bulan Februari 1924, Hitler memanfaatkan pengadilan sebagai panggung untuk berorasi menyampaikan gagasannya, tentang kebenciannya pada Marxism, tentang semangatnya yang ambis pisan untuk mengembalikan kejayaan Jerman ke level paling tingginya, hakim-hakim yang memimpin sidang terkesima dan merasa simpatik dengan orasi Hitler. Hitler ga jadi digantung, dia didakwa hukuman penjara 5 tahun dan denda 200 gold Mark. Somehow yang tadinya 5 tahun penjara dan denda, Hitler keluar dari penjara pada 20 Desember 1924 setelah mendekam hanya satu tahun. Gara-gara pengadilan itu, rakyat Jerman jadi tahu kalau ada anak muda yang punya gagasan menarik buat rakyat Jerman saat itu.

Diantara tahun 1928 – 1930 dunia mengalami the Great Depression gara gara kolapsnya wall street di Amerika, padahal mereka saat itu jadi kayak pusat perekonomian dunia. Akibatnya hampir semua negara kena sama efek Great Depression ini termasuk Jerman yang nilai mata uangnya jatuh banget. Konon, kalau mau belanja ke warung saat itu, mesti bawa troli buat duitnya.

Dengan permasalahan yang dihadapi Jerman, parpol-parpol saat itu  mulai menawarkan solusi ekonomi. Makin lama makin keliatan porosnya yaitu Komunis dan Nasionalis. Hitler memanfaatkan momentum ini buat menyerang siapapun yang dianggap ga becus dan bertentangan dengan gagasan nasionalisme ekstrem yang dia bawa, pemerintah pusat dan lawan politiknya diserang abis-abisan.

But wait, kampanye politik yang dilakukan Hitler untuk menenangkan rakyat Jerman yang saat itu lagi chaos sama perekonomian ga pernah menyentuh gagasan-gagasan konkret tentang kebijakan ekonomi yang bakal dia bawa kalo Nazi menang, nah lho? Hitler lebih banyak bicara tentang keunggulan bangsa Aria, gimana komunis itu nantinya menjadi ancaman serius buat negara, gimana mereka dianggap biang kerok kalahnya jerman pada PD 1, gimana Jerman seharusnya emang layak jadi bangsa paling didepan, intinya lebih kayak acara ESQ di sekolah sekolah menjelang UN, emosional pisan, padahal topiknya tentang gimana Jerman harusnya berdaulat secara ekonomi. Sound’s familiar ya?

Rakyat Jerman yang lagi baper saat itu gampang banget terbujuk dengan orasi Hitler, mereka terbuai dengan janji-janji politik yang dibawa Hitler. Saya kebayangnya kalau Hitler dateng ke permukiman orang Jerman di pinggir kota gitu, rakyat bakal curhat tentang penggusuran, hahaha ga deng, garing.

Pada pemilu bulan September 1930, Jerman berhasil juara 2 dengan memenangkan 107 dari 577 kursi parlemen. Perdana Menteri waktu itu adalah Heinrich Bruning, intinya dia bukan orang Nazi. Meskipun Nazi belum berkuasa mutlak, tapi mereka udah kuat. Setiap ada kebijakan yang mengharuskan ada pemungutan suara, mereka melakukan sabotase suara bulat dengan melakukan walk out. Dengan jumlah kursi yang banyak, pemerintah gagal membuat kebijakan karena terhalang oleh aturan legislatif. Hitler bilang sama orang Jerman, “Kalian kan udah ngasi kesempatan ke Politisi Weimar sejak kita kalah di PD 1, terus mereka gagal ngasi kalian kebahagiaan.” Intinya Hitler nyepik, “Udah, kasi gw kesempatan, jalanin aja dulu sama gw.” Janji semacam itulah. Janji-janji buaya cowok kalau ngajak cewek pacaran. Iya, pernah.

Hasilnya baru keliatan ada pertumbuhan signifikan pada pemilu November 1932, iya pemilunya kecepetan, Nazi memenangkan pemilu. Melalui serangkaian konflik dan menyingkirkan Presiden Hindenburg, pada tahun 1934, Hitler mengadakan referendum untuk menyatukan posisi Perdana Menteri dengan Presiden. Pada tanggal 19 Agustus 1934, mayoritas rakyat Jerman setuju, dan mulai saat itu, Fuhrer resmi menjadi penguasa mutlak di Jerman.

 

Balik lagi ke debat pilkada

Iya, kalau ngeliat kampanye kampanye yang rada ga jelas gitu, jangan uring-uringan dulu. Kalau ada calon yang lebih menekankan gerakan tangan, mimik wajah, serta intonasi dengan flow yang dramatis saat berbicara di depan publik ketimbang konten yang dia bawa, cukup tahu aja. Sekalinya sisi emosional manusia itu berhasil disentuh, rada gampang buat masukin gagasan yang bahkan ga masuk akal sama sekali. Herbert Simon bilang bahwa buat tahu secara keseluruhan sisi rasional dari manusia, harus bener-bener ngerti peran apa aja yang sisi emosional manusia itu sendiri bisa pengaruhi.

Cara-cara ini juga dipakai konon pada ospek-ospek jadul, maba-maba bakal dateng tengah malem ketemu seniornya, terus bakal di kasi nilai-nilai yang nantinya kebawa saat mereka jadi senior, cmiiw sih yang ini, dari beberapa kali diskusi sama temen yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannnya.

Back to topic, berhubung pilkada sekarang lagi rada banyak topik buat disinggung, ya bisa-bisa aja buat ngomongin hal-hal yang bahkan out of topic banget, ga peduli dah yang penting calon pemilih senang. Sering-sering aja memosisikan diri sebagai mereka yang lagi baper sama pemerintah, terserah mau logis apa engga idenya. Dari dokumen “Emotion and Decision Making” yang di-publish orang-orang Harvard dikatakan bahwa orang itu bisa jadi ga jelas karena incidental emotion. Incidental anger triggered in one situation, bisa ngaruh ke kejadian selanjutnya, even though si orang yang disalahkan tadi itu nothing to do karena emang ga ada hubungannya. Di pilkada ini lahan empuk, tinggal singgung aja paslon lain, kayak misalkan warna kemeja paslon ga nyambung sama warna kaos kakinya. Gara-gara incidental emotion sebelumnya, orang-orang yang ga ngerti fashion dan lupa tabayyun bakal ngangguk dan menyatakan paslon tadi ga cocok jadi gubernur.

Ini peluang di Indonesia, pendidikan kita cocok banget, karena jarang banget ada sekolah yang mengajarkan tabayyun. “Ah elah tong, hafalin aja dulu, tinggal bikin singkatan apa susahnya dah!” Kebiasaan kayak gini kebawa sampe tamat sekolah. Jadinya kalo ada friksi dikit yang bahkan ga penting, langsung nerima. Ga ada proses tabayyunnya, langsung baper. Orang baper kalau udah nyaman sama orang, susah buat menjauh, padahal udah sering niat jadi orang yang tahan baper. Kadang sampe kebawa mimpi, trus di mimpi dia tunangan lah sama orang lain, bangun-bangunnya bingung bisa-bisanya mimpi hal kayak gitu, lho kok? Iya. Maaf.

 

Sumber

http://www.whaffindonesia.com/2017/01/debat-pilkada-dki-agus-paling-disorot.html

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/16/23274471/poin.percakapan.netizen.terkait.debat.cagub-cawagub.dki

The Munich Putsch 1923, BBC History, BBC UK

English Translation by Jeremy Noakes and Geoffrey Pridham, The Rise of the Nazis, German History Docs

Hitler Youth, The History Place

Weimar Elections 1928 to 1932, The History Learning Sites

Lerner Jennifer, Li Ye, eds., Annual Review of Psychology, Harvard Scholar, Harvard University.

https://www.zenius.net/blog/13190/biografi-adolf-hitler

  • view 103