Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 31 Maret 2017   00:28 WIB
Kagum Sebagai Cara, Bukan Rasa

Belakangan ini, saya benar-benar disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus. Tulisan yang diniatkan dan direncanakkan untuk ditampilkan, nyatanya tidak mencapai titik terang. Projek "Taratih" nyatanya terus-menerus berhenti di episode 1, sehingga membuat pertanyaan kembali di dalam benak. Sebenarnya, cerita seperti itu mau dirampungkan atau hanya angin lewat, pikirku.

Daripada menunggu sesuatu yang tidak jelas rampungnya, lebih baik saya bercerita. Sesuai judul, ini adalah cerita tentang kekaguman. Menurut saya, kekaguman adalah cara bagaimana kita menyikapi sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. Kekaguman bukan bagian dari rasa, karena komponen yang harus ada dari rasa adalah keinginan untuk selalu mendekat, entah itu fisik atau bisa saja batinnya.

Saya adalah orang yang pada hakikatnya pemalu. Saya bukan tipe orang yang mudah berbaur, apalagi lentur sosial. Mungkin orang yang benar-benar kenal dengan saya baru akan menyadari siapa saya sebenarnya. Apa sih itu namanya? Ambivert ya? Mungkin. Jadi, saya tidak mudah terbuka begitu saja dengan seseorang, terlebih lagi itu adalah kaum hawa. Entah kenapa, kaum hawa acapkali menjadi batu sandungan saya dalam bertindak. Salah terdapat di diri saya, dan saya ingin mencoba memperbaikinya.

Masuk ke cerita. Saat itu, waktu menunjukkan penghujung akhir tahun. Terdapat kegiatan di kampus yang bisa disebut sebagai supremasi politik paling nyata. Pemilihan umum kampus selalu menjadi hal menarik dengan berbagai intriknya. Saya tidak habis pikir, ditunjuk untuk menjadi salah satu "tim sukses" kecil-kecilan di dalam kandidat yang maju saat itu. Saya jarang sekali datang ketika adal perkumpulan. Jarang sekali. Akhirnya, waktu itu untuk pertama kali saya menghadiri rapat yang membahas strategi dan tetek bengeknya. Ada beberapa orang yang tidak saya kenal, namun saya tahu.

Kebetulan sekali, saat itu tugas kuliah sedang banyak-banyaknya. Lekas perkumpulan, saya langsung membuka komputer jinjing dan mengetik kata demi kata untuk secepatnya menyelesaikan tugas. Kaget betul ketika ada suara perempuan memanggil nama saya. "Fathur, lagi ngerjain tugas ya?" tanya nya dalam bising. "Iya nih deadline," jawabku singkat yang sebenarnya tidak mengenalnya. Balasan terbit dari mulutnya dengan mengatakan "semangat ya!"

Entah, mulai saat itu saya begitu respect kepada orang itu. Manda, yang memang memiliki karunia kecantikan yang lebih dari cukup, saat itu membuatku kagum justru bukan dari fisiknya, namun dari sikapnya. Mungkin, beberapa kali saya memiliki kesempatan berkkomunikasi dengan gadis berkerudung itu, namun dibelenggu rasa malu. Aneh ya, kekaguman menjadi penghambat agaknya. Lambat laun, saya mulai menyadari bahwa kekaguman ini harus diketahui sendiri oleh Manda, agar dirinya mawas diri. Agar dirinya tahu jika perbuatannya merupakan hal yang benar. Agar dia tahu jika perlakuan seperti itu harus dicontoh kepada khalayak banyak. Itulah Manda, kekaguman pertama saya di kampus.

Karya : Fathur Alfarizi