Duo Serigala, Modal Erotis, dan Payudara Perempuan

Oza Kilova
Karya Oza Kilova Kategori Psikologi
dipublikasikan 06 Maret 2018
Duo Serigala, Modal Erotis, dan Payudara Perempuan

Tak dimungkiri bahwa kecantikan turut berperan dalam perjalanan Duo Serigala. Karena kecantikan ini pula Duo Serigala banyak mudah mendapatkan cibiran, seperti “modal cantik doang”. Pertanyaannya, salahkah menjadi perempuan cantik?

Sebagian orang mungkin akan menjawab iya. Naomi Wolf dalam buku The Beauty Mythmenuturkan bahwa kecantikan adalah mitos yang diciptakan industri untuk mengeksploitasi perempuan secara ekonomi melalui produk-produk kosmetik.
Pandangan Naomi beserta pendukungnya boleh jadi tidak bisa disalahkan, namun kurang lengkap untuk menjadi genggaman. Pasalnya Naomi tak mementingkan paras cantik sebagai salah satu modal untuk perempuan, seperti diungkapkan oleh Catherine Hakim melalui konsep erotic capital.

Erotic capital
 merupakan kombinasi dari daya tarik fisik, estetik, visual, sosial, dan seksual yang dimiliki seseorang untuk menarik orang lain. Ada enam bagian dalam erotic capital, kecantikan adalah salah satunya. Sepertihalnya jenis modal lain, erotic capital juga dapat diupayakan, kosok bali dengan pandangan yang cenderung menyangka bahwa kecantikan hanyalah ketetapan Tuhan (buat yang percaya Tuhan) atau suatu kebetulan alamiah (buat yang cuma percaya Hukum Alam).

Cibiran terhadap Duo Serigala banyak berpijak dari pandangan yang menyebut bahwa pintar adalah hasil tekun belajar, sedangkan cantik adalah bawaan lahir. Cerdas dianggap sesuatu yang diperoleh lewat kerja keras, sedangkan kecantikan adalah anugerah yang didapat tanpa usaha. Padahal posisinya bisa saja terbalik. Pasalnya faktor genetis pun, terutama dari ibu, berperan penting dalam menentukan kecerdasan seseorang. Sedangkan untuk tampil cantik, seseorang perlu banyak berusaha, mulai dari olah raga, menjaga pola konsumsi, merias wajah, hingga berpikir menentukan pakaian.

Tak perlu membutakan mata menyaksikan bahwa orang yang cantik memang kerap mendapat beragam kemudahan. Contoh paling bagus dalam hal ini ialah Maria Yuryevna Sharapova (Maria Sharapova). Pendapatan sebagai model jauh lebih banyak ketimbang menjadi petenis. Maria bahkan masih tetap menambah kekayaan saat diskors gara-gara kasus obat-obatan terlarang.

Erotic capital sama pentingnya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya. Pertanyaan selanjutnya, mengapa kita tampak enggan mengapresiasi kecantikan perempuan sepertihalnya kecerdasan?

Ketika ada perempuan dandan, dibilang menghabiskan waktu tak berguna. Walakin ketika membaca buku, disangka waktu diisi dengan kegiatan bermanfaat. Perempuan yang berusaha menunjukkan kecantikan malahan tak jarang otomatis dianggap bodoh. Pekerjaan yang menjual badan perempuan, seperti modelling, diberi stigma sebagai pekerjaan hina.

Lebih menyesakkan lagi, ketika ada perempuan cantik ingin menikahi lelaki kaya dilabeli ‘matre’ yang mengkhianati kesucian cinta dalam perkawinan. Padahal, alasan di balik julukan ‘matre’ ini adalah bahwa lelaki harus mendapatkan kenikmatan yang mereka inginkan dari perempuan secara gratis, terutama seks.

Kecantikan dan upaya mempercantik diri dianggap sebagai tindakan tak baik. Para peserta kontes kecantikan, misalnya, mendapatkan banyak cibiran. Kecerdasan dan kecantikan dilihat sebagai dua hal bertentangan yang tak mungkin dipadukan oleh perempuan. Perempuan yang memiliki keduanya, tidak diizinkan untuk menggunakan semuanya, hanya boleh memaksimalkan kecerdasan saja. Mengapa oh Menyapa? Whyyy?

Dari beberapa tuturan tentang Oza dan Pamela, dua punggawa Duo Serigala, salah satu bagian yang paling disorot adalah bagian payudara (breast). Mungkin karena faktor branding Duo Serigala dengan ‘Goyang Drible’-nya, mereka tampak perlu memperhatikan dan diperhatikan salah satu pemberi visual pleasure buat lekaki tersebut.

Pertanyaannya, kenapa para lelaki selalu menyukai bagian payudara perempuan? Nggak peduli ukurannya besar atau kecil, seperti bola basket atau bola bekel, mereka pasti suka.

Tak dimungkiri, ada juga lelaki yang lebih menyukai bagian tubuh perempuan lainnya, misalnya, paha, pantat, dan juga bibir. Tapi entah kenapa, payudara tetap menjadi bagian tubuh perempuan yang bisa menyuluh imajinasi lelaki.

Saking menjadi ikon kecintaan dan obsesi para lelaki, tak sedikit media, merek, brand, bahkan juga propaganda menggunakan payudara perempuan, seperti iklan Kopi Susu YA!dan Segar Sari Susu Soda.

Hal yang membuat saya merasa ialah faktor yang membuat lelaki menyukainya. Terkait hal ini, L. Monique Ward, Ann Merriwether, dan Allison Caruthers menyingkap istilah yang disebut Masculinity Ideology (Ideologi Kejantanan, selanjutnya MI). MI berperan pada kepercayaan dan cara pandang lelaki mengenai badan perempuan, yang juga berkaitan dengan banyaknya media yang dikonsumsi oleh lelaki. Sayangnya, meski paparan tersebut memberi pengetahuan, belum bisa memberi kepuasan. Apalagi memberi kepuasaan yang sama seperti saat menikmati payudara perempuan, jelas ini!

Terdapat sebagian orang yang mengungkapkan bahwa lelaki menyukai payudara perempuan karena sejak lahir lelaki memiliki hubungan intim dengan payudara ibu. Ada rasa kasih sayang yang diberi pada buah hati tatkala ibu menyusui.

Cuma, ungkapan tersebut agak gimana gitu. Soalnya ada pula lelaki yang tak banyak mengonsumsi air susu ibu (ASI) saat bayi, namun tetap tertarik menikmati payudara perempuan.

Terdapat pula pandangan yang menyebut bahwa dari tahun ke tahun manusia memang mengembangkan payudara perempuan untuk keperluan seks (sex). Hanya saja pandangan ini di-counter dengan pandangan yang mengungkapkan bahwa hal ini kurang tepat lantaran untuk keperluan seks, zakar lelaki juga dibutuhkan.

Brian Alexander, yang mendalami dasar neurologis dari perilaku sosial, menyingkap soal payudara ini dengan menyebut bahwa evolusi manusia telah mengubah sirkuit saraf kuno. Pada awalnya, fungsi utama payudara adalah untuk menguatkan ikatan kasih sayang antara bayi dan ibu, dengan cara menyusui. Tapi sekarang, sirkuit otak ini telah berubah penggunaannya. Selain untuk menguatkan ikatan ibu dan bayi, juga digunakan untuk meningkatkan ikatan antar pasangan. Hasilnya, kebanyakan lelaki menyukai payudara perempuan.

Penuturan Brian lebih make sense buat saya dibandingkan pandangan lainnya «هذا القول أرجح عندي». Pasalnya kalau ditelisik lebih lanjut, otak para ibu akan dibanjiri dengan neurochemical oxytocin yang juga dikenal dengan love drugNeurochemical oxytocin ini membantu ibu untuk fokus pada anak dan memberi rasa kasih sayang melalui ASI. 

Hormon tersebut juga membanjiri otak perempuan ketika terangsang oleh pasangan saat berhubungan seks. Sirkuit pada otak yang tadinya digunakan untuk bayi, pada saatnya juga digunakan untuk orang dewasa. Dari sini, dapat diungkapkan bahwa payudara perempuan merupakan sarana untuk mewujudkan kasih sayang, yang membuat orang lain merasa senang.

Kalau ada sebagian perempuan yang payudaranya begitu digilai lelaki, mungkin karena mereka berusaha menyenangkan orang lain melalui payudaranya. Usahanya antara lain dengan rajin merawat keindahannya agar bisa memberi kesenangan saat lelaki menyaksikannya, apalagi bisa merasakan sentuhannya.

“Untuk mengencangkan payudara, kita olahraga tiap bangun tidur, kita lakukan push-up 10-25 kali lah,” tutur Oza saat ditanya soal rutinitas latihan untuk merawat fisik ‘favorit’-nya, “Kita olah raganya di dalam sih, di kamar,” saut Pamela. “Kita selalu menyempatkan waktu 15 menit paling enggak untuk olahraga kecil, kayak latihan napas, peregangan biar enggakkaku, karena jujur malas olahraga,” pungkas Oza.

Selain perawatan harian, Pamela dan Oza juga rajin melakukan pemijatan payudara untuk merangsang pertumbuhan kolagen. Sah-sah saja kalau Duo Serigala rajin merawat ‘bagian favorit’ atau ‘aset’ atau apalah sebutannya pokoknya di situlah letaknya. Payudara perempuan termasuk salah satu bagian yang memiliki daya pikat kuat dalam merangsang gairah seks lelaki.

Seks terbilang nafsu yang paling sosial. Tanpa memperhitungkan moral, secara naluriah kita bisa turut bergembira menyaksikan orang lain yang sedang memenuhi nafsu seksnya. Kita punya hasrat kesenangan walaupun sekadar untuk menontonnya. Itulah kenapa ada pornografi, yang melahirkan industri seperti blue film (BF) dan majalah dewasa dengan omzet besar.

Seks berbeda dengan nafsu lain, misalnya nafsu makan. Adakah orang, terutama lelaki, yang sanggup suntuk berjam-jam menyaksikan tayangan dengan sajian berupa adegan-adegan orang sedang makan bakwan biarpun orang itu adalah Via Vallen? Adakah media pendulang iklan yang menjebak pengunjung dengan gambar Grace Natalie sedang mangap ngemplok cilok?

Saking sosialnya nafsu yang satu itu, ia jadi begitu canggih buat menyedot perhatian. Ia jadi empuk sebagai bahan berita dengan judul-judul menggemaskan. Ia juga legit buat stok pengalihan isu, yang bisa dengan gampang ditembakkan sewaktu-waktu. Sebab, kabar terkait seks tidak cuma memberikan informasi, walakin memberdayakan imajinasi.

Duo Serigala, baik Pamela maupun Oza, menyadari sisi ini, mengerti hal ini. Tak risau dengan segala caci-maki maupun puja-puji, keduanya berusaha memanfaatkannya memenuhi kebutuhan diri, juga mengajak orangtua naik haji.

Referensi

Adib Rifqi Setiawan. (2018). Ki oza kioza: a rain shine made in indonesia. Alobatnic, 1 Maret. [lihat]

Brian Alexander. (2012). The chemistry between us: love, sex, and the science of attraction, hlm. 72-74 dan 108-109. New York City: Penguin. [lihat]

Catherine Hakim. (2017). Erotic capital. Dalam European sociological review, 26(5), hlm. 499-518. [lihat]

Helen E. Fisher, Arthur Aron, dan Lucy L. Brown. (2006). Romantic love: a mammalian brain system for mate choice. Dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 361(1476), hlm. 2173-2186. [lihat]

  1. Monique Ward, Ann Merriwether, dan Allison Caruthers. (2006). Breasts are for men: Media, masculinity ideologies, and men’s beliefs about women’s bodies. DalamSex Roles, 55(9-10), hlm. 703-714. [lihat]

Laura Mulvey. (1975). Visual pleasure and narrative cinema. Dalam Screen, 16(3), hlm. 6–18. [lihat]

Naomi Wolf. (2002). The beauty myth: how images of beauty are used againts women, hlm. 9-19. New York City: Morrow. [lihat]

  • view 51