PEMAKAMANKU UNTUK KESERIBUKALINYA

Robin Owl
Karya Robin Owl Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Juni 2017
PEMAKAMANKU UNTUK KESERIBUKALINYA

Kita pernah memberi kesempatan pada langit untuk memeluk bumi. Juga, pada angin untuk mengecup dingin sehingga hanya hangat yang meliputi kita. Lalu, lorong dan koridor waktu menyetubuhi kemaluanmu. Kita lemas. Berkeringat. Tapi kenapa cermin-cermin masa lalu menampakan luka dari pada rupa? Aku tak paha! Kau? Sama saja!

Kau pernah berkata, "Pedang yang dihunuskan olehnya tidak akan pernah sanggup melukaiku."

Nyatanya, kau menangis hanya karena senduri kecil mencucuki dampal kakimu.

Pada segores tinta, aku pernah bercerita pada dunia. Eum, maksudku pada ruh yang bersemayam dalam diriku. Aku mendongeng, "Dulu, seorang pria berambut keriting terluka oleh sebuah penolakan cinta. Dia begitu menderita hingga tangisnya yang tak berujung membuat bola matanya membusuk. Akhirnya dia buta. Tak cuma matanya saja, hatinya pun ikut serta dalam kebutaan."

Setelah itu kau tertawa. Jujur, aku membenci bagian itu.

"Anggap saja kejadian hari ini adalah lemari pendingin yang membekukan perasaanmu. Aku akan mencari sendiri pemanggangku." Jawabmu, tergelak pada lelucon yang menyakitkan itu.

"Apanya yang lucu?" Aku memamah, kemudian pecah menjadi kepingan cahaya yang dilalap gelap.

O, hampir saja aku lupa. Kita juga pernah berjalan di atas benang tipis yang saling berujungan. Membiarkan jemari kita berpegangan pada rumbai-rumbai ruang kosong. Hem, tapi kurasa kau pasti geger otak, kepalamu sudah terlampau jatuh pada gemerlap bintang di langit Bogor. Sementara aku? Aku terbenam dalam nisan yang terkubur guguran daun Beringin, mengingat makam-makam kenangan yang mustahil tak tergali.

"Aku rindu. Sudah itu saja." Kau berkata sewaktu jalan yang bak samudera telah melalangbuana di duniaku.

Aku melempar seringai, "Dasar penggoda iman!"

Meski begitu aku terangsang. Brengsek! Dan aku menggali lagi liang pemakamanku untuk keseribukalinya.  

 

  • view 37