Alpha (Bagian 2 part 1)

Ovi  Humaira
Karya Ovi  Humaira Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Maret 2016
Alpha (Bagian 2 part 1)

Walau bukan anak kandung, tetapi aku diperlakukan layaknya anak kandung sungguhan. Bapa dan Biyang ?memberiku nama Alfa. Di depan namaku tidak tersemat nama orang Bali, seperti Made, Wayan, Nyoman, atau Gede, karena aku memang bukan keturunan asli mereka. Ada yang bilang kedua orang tua kandungku berasal dari luar Bali, tepatnya dari Pulau Jawa. Karena itu, tak sedikit penduduk desa sering mempertanyakan statusku sebagai bagian dari keluarga Bapa. Mereka masih sangat antipati terhadap pendatang sepertiku. Tak segan mereka mengungkapkan pikirannya kepada Bapa untuk mendepakku dari desa.

Entah dari tangan siapa wujud bayiku akhirnya sampai ke tangan keluarga Bapa untuk diasuh. Bapa telah berjanji padaku untuk mengasuhku hingga aku telah mampu membedakan mana yang benar dan salah, atau sampai aku menemukan keluargaku. Selama itu pula aku dan Bapa terus dalam proses pencarian siapa gerangan kedua orang tuaku. Bapa dan Biyang sangat hangat menyambutku dan telah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Sama seperti yang lain, dalam kehidupan sehari-hari Bapa berperan seolah-olah sebagai ayah kandungku. Mengajariku pendidikan sebelum masuk SD yang membahas sekilas tentang agama Hindu di Bali, adat di Kesiman, dan kadang-kadang juga mengajariku bercocok tanam. Aku pernah ingat dulu Bapa pernah bercerita kepadaku, ia amat ingin memiliki anak lelaki. Tetapi kemudian Biyang justru melahirkan Mbok Nida yang usianya tiga tahun lebih tua dariku. Meski awalnya kecewa, tetapi Bapa sadar bahwa ia harus bersyukur atas apa yang telah Ida Sang Hyang Widhi berikan padanya.

Bapa memiliki nama lengkap I Wayan Kelik Gunawan. Postur tubuhnya mungil, kecil dan kurus, mungkin tingginya sekitar 160-an senti. Kulitnya agak gelap tetapi tidak terkesan menyeramkan. Malahan orang akan merasa segan dan kagum ketika melihat dia tersenyum lebar. Ada pancaran ketulusan dan kebijaksanaan yang keluar dari mukanya tanpa dibuat-buat. Garis-garis tegas di wajahnya menandakan dia orang yang sangat arif. Perangainya sangat mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk bertindak tanpa diperintah. Itulah mengapa ia dipilih sebagai pemangku adat Kesiman.

Bapa adalah anak pertama dari lima bersaudara. Bapa merupakan satu-satunya anak Bapa dan Memenya yang menetap di Bali. Adik-adiknya telah merantau jauh, ada yang ke Jawa, Sumatra, Malaysia, bahkan adik bungsunya sampai ke Mongolia. Meskipun begitu, Bapa tidak pernah merasa iri dengan kesuksesan adik-adiknya.

Sebetulnya Bapa itu pintar. Dia adalah salah satu lulusan terbaik Universitas Udayana tahun 1978, yang bergelar sarjana teknik, dan juga sempat menjabat sebagai Presiden BEM selama satu tahun periode, dan pernah menjadi aktivis paling dicari di eranya. Tidak hanya di dalam kampus, geliyat Bapa sebagai aktivis juga tercium di organisasi luar kampus. Bapa pernah menjadi anggota salah satu organisasi yang menentang pemerintahan Soeharto, yang dibentuk secara diam-diam oleh para mahasiswa. Tetapi tak lama organisasi itu dibubarkan karena hampir semua anggota merasa takut dipidana karena membentuk organisasi ilegal di bawah pemerintahan diktator.

?Bapa dan teman-teman Bapa pernah kejar-kejaran sama pengawal presiden, persis kayak kamu main kucing-kucingan sama teman-temanmu itu. Bapa sampai pernah nginep di kos teman selama berminggu-minggu, dan nggak keluar dari kos. Sampai dicari Meme kemana-mana, sampai telepon polisi juga. Untungnya Bapa selamet. Apesnya, dua orang teman Bapa yang jadi ketua dan pencetus terbentuknya organisasi itu tertangkap dan dijatuhi hukuman mati,? tutur Bapa, suatu pagi di pinggir kolam ikan. Aku hanya mendengarkan tanpa mencernanya ke dalam pikiran. Sibuk bermain air.

?Ngeri, Pa,? sahut Mbok Nida. ?Bapa kok berani??

?Ya begitulah, masa muda itu memang harus diisi dengan hal-hal yang nakal dan kadang-kadang gila, karena nanti kalau kalian sudah berkeluarga kalian tidak akan punya waktu untuk melakukan hal-hal gila lagi. Tapi jangan kebablasan ya, Gus, Gek, nakalnya yang wajar saja. Kalau yang seperti Bapa, jangan ditiru. Bahaya, taruhannya hukuman mati,? ungkap Bapa. ?

Setelah lulus, Bapa pernah bekerja di sebuah perusahaan elektronik di Jakarta, tetapi hanya bertahan selama satu tahun sebelum akhirnya memutuskan resign dan kembali ke Bali. Sekembalinya, ia merintis usaha kuliner manisan kolang-kaling yang sempat tersohor hingga ke Serawak. Usahanya kemudian mandeg setelah Bapa mendapat tawaran kerja menjadi pengajar di suatu SMA negeri di Denpasar oleh teman seorganisasinya.

Lulusan bertitel sarjana teknik yang sama sekali tak punya fondasi ilmu keguruan, membuat Bapa meragukan pilihannya itu. Tetapi dia akhirnya lolos menjadi guru fisika setelah melakukan serangkain tes, mata pelajaran yang setidaknya masih berhubungan dengan ilmu kuliahnya dulu. Setelah dua tahun menjadi karyawan guru biasa, berkat ketekunan dan pretasinya, Bapa diangkat menjadi wakasek kesiswaan 2, kemudian di tahun berikutnya menjadi wakasek kesiswaan 1. Sampai dua tahun kemudian ketika kepala sekolah lama lengser karena suatu kasus korupsi, Bapa diberi mandat oleh dinas pendidikan setempat untuk menjadi kepala sekolah selama periode yang belum ditentukan sampai sekarang.

Pekerjaan Bapa sebagai kepala sekolah SMA Negeri dan sebagai pemangku adat memang sangat menyita waktunya. Ia kadang-kadang pulang larut. Hampir setiap hari ia jarang ada di rumah. Hanya di hari Minggu dan libur non hari raya umat Hindu saja ia punya waktu luang untuk kami, kecuali pada saat Nyepi. Di hari Kuningan dan Galungan, Bapa bisa tidak pulang seharian. Dan ia masih harus menjagaku semalaman sampai habis berliter-liter kopi.

Bapa menikah dengan Biyang pada tahun 1980. Pernah menjadi aktivis yang diidolakan para gadis-gadis di zamannya dan sempat merantau selama setahun di Jakarta, tak lantas membuat Bapa tertarik dengan gadis-gadis cantik, kaya, dan metropolis. Hatinya tertambat oleh gadis desa yang cantik karena kesederhanaannya, Biyang, yang bernama asli Ni Putu Laksmi Eka Svastika, yang tak lain adalah teman SMPnya. Rupanya, benih perasaan mereka sudah muncul saat masih duduk di bangku sekolah. Mereka adalah teman sekelas selama dua tahun. Biyang merupakan murid teladan di sekolah sementara Bapa adalah murid terbandel. Karena itulah, Biyang diminta oleh gurunya pada waktu itu untuk mengajari Bapa yang agak terlambat mengikuti pelajaran di kelas. Setiap hari Biyang menjadi guru privat Bapa, atau sekadar meminjamkan catatan kepada Bapa. Karena terlalu sering berinteraksi, Bapa akhirny jatuh cinta kepada Biyang. Ia sempat menyatakan cintanya kepada Biyang tetapi nasib belum berjodoh.

Kemudian setelah lulus SMP, mereka sempat hilang kontak selama beberapa tahun. Bapa disekolahkan oleh orang tuanya di Jawa karena prestasinya yang buruk, sementara Biyang tetap di Bali. Namun siapa yang akan menyangka jarak ternyata mampu menyatukan mereka kembali. Lepas lulus SMA, Bapa kembali. Reuni menyatukan kembali rasa yang dulu pernah ada.

Pernah aku iseng bertanya, kenapa Bapa mau menikahi Biyang. Dengan mata berbinar dan senyum merekah ia menjawab,?Karena Biyangmu itu lain. Sederhana, anggun, kharismanya keluar tanpa dibuat-buat. Dia sudah cantik apa adanya tanpa dandanan menor.?

Ya, Bapa benar. Inner beauty Biyang memang sangat tampak. Bercahaya. Di balik kulit sawo matangnya, pada saat-saat tertentu wajah Biyang tampak bersinar bagai candra di tengah gulita. Semua orang yang menatap mata coklatnya pasti akan merasakan keteduhan bak berlindung di bawah pohon rindang. Tanpa perlu taburan bedak seputih apa pun, Biyang sudah cantik bak model. Apalagi sebelum menikah Biyang bekerja sebagai guru TK. Makin cintalah Bapa karena baginya wanita yang setiap hari bergelut dengan anak kecil lebih pantas dijadikan seorang istri.

??????????? Mbok Nida, yang bernama lengkap Ni Putu Svarnida Putryanda, sebagai anak kandung pertamanya, tampaknya mewarisi watak dan fisik Bapa dan Biyang. Mbok mewarisi watak Bapa yang tegas, tetapi dari fisiknya ia lebih mirip Biyang. Bahkan karena saking miripnya, sampai-sampai ada orang bilang Biyang dan Mbok lebih cocok menjadi kakak-adik.

??????????? Sifat tegas Mbok ternyata melebihi dari apa yang melekat pada Bapa. Beberapa hari lalu Bapa mendapat surat dari kepala sekolah tentang kelakukan Mbok di kelas yang dinilai tidak sopan terhadap guru. Menurutnya, Mbok berani menentang apa yang dijelaskan guru dan mengajak pula teman-temannya untuk tidak rajin belajar hanya untuk meraih nilai yang bagus. Dan karena ulahnya itu, Mbok dihukum berjemur di bawah terik matahari sambil hormat kepada bendera sampai kegiatan belajar-mengajar selesai?padahal hukuman diberikan pada waktu pagi?namun Mbok menolak dan ia terancam diskors.

??????????? Walau banyak pihak yang mengatakan sikapnya itu salah besar, termasuk Bapa dan Biyang, tetapi Mbok tetap membela diri bahwa apa yang ia lakukan itu adalah bentuk penentangan terhadap kecurangan yang sudah mulai biasa terjadi di negara ini.

??????????? ?Apa salahnya mengkritik sistem sekolah sekarang ini, Pak? Memangnya anak SD seperti aku nggak boleh kritik? Harus tunduk, patuh terus?? belanya.

??????????? ?Tapi yang kamu hadapi itu bukan sembarang orang, Gek! Kamu menentang gurumu sendiri. Itu yang salah.?

??????????? ?Lah, memangnya kenapa dengan guru? Mereka sama saja kan dengan kita? Manusia yang pernah mengalami SD. Atau jangan-jangan begitu lahir langsung jadi guru??

??????????? ?Kamu itu dibilangin malah melawan. Siapa yang mengajari kamu seperti itu??

??????????? ?Ini bukan melawan, Pa. Ini kritis. Melawan itu pakai fisik, kritis pakai akal.?

??????????? Begitulah yang terjadi di dalam rumah bertingkat seluas 30 meter persegi ini. Perang mulut antara Bapa dan Mbok yang sama-sama keras dan tidak mau mengalah. Aku hanya duduk di sini, di samping Biyang yang sedang mencincang daging babi, membantunya menumpuk kayu bakar untuk memasak lawar kuwir, sejenis makanan campur sayur-sayuran dan daging cincang yang menggunakan ramuan khas Bali, sambil pura-pura tidak dengar meskipun kenyataannya aku mendengar bahkan mengerti adu mulut mereka.

??????????? ?Apa yang kamu kritik, Gek?? Bapa masih melanjutkan.

??????????? ?Semuanya, Pak. Pertama, dari sistem sekolah yang sudah salah dulu. Guru menilai muridnya dari hasil ujiannya, bukan dari kemauan dia belajar. Kalau sistemnya begitu, semua cara akan dianggap sah selama hasilnya bagus. Nggak peduli mau menyontek dan nggak ada usaha, selama nilai ujiannya bagus, dia akan tetap dianggap murid teladan. Kedua, anak-anak SD seusia Nida yang baru kelas 1-3 sudah disuruh menghafal dan dibebani PR. Kalau berkaca dari negara-negara maju, sih, mereka nggak akan menerapkan sistem seperti itu, Pak. Sekolah buat mereka cuma main-main, lha memang usia kita kan usianya main-main kenapa harus disuruh belajar dengan ilmu berat,? pungkasnya,?Nida mencoba meluruskan yang salah kenapa jadi dihukum begini. Nida jadi malas sekolah. Nida pengin keluar saja.?

??????????? ?Trus kamu mau ke mana kalau keluar sekolah? Ngamen??

??????????? ?Nida mau langsung nikah aja, Bapa.? Langkah ketipak-ketipuk kaki Mbok menaiki anak tangga.

??????????? Banyak yang bilang, Mbok ini adalah laki-laki yang terperangkap dalam tubuh anak perempuan. Anggapan ini tidak salah karena Mbok sama sekali tidak pernah mengoleksi mainan boneka-bonekaan yang lumrahnya dikoleksi oleh anak-anak perempuan seusianya. Mbok malah lebih suka mainan sejenis tamiya, sentil kelereng, main bola dengan teman-teman lelakinya, bahkan tak jijik saat berburu ikan-ikan kecil di kali pinggiran desa, yang kalinya mungkin telah terkontaminasi oleh kotoran kambing, kerbau ternak Pak Wacik yang selalu dimandikan di situ, hingga air kencing warga yang suka dibuang di kali itu. Kali itu disebut oleh warga sekitar kali kopi karena warnanya yang coklat keruh lebih mirip kopi yang serbuknya mengumpul di permukaan gelas. Itu saja masih lebih baik kopi karena masih bisa diseduh.

??????????? Usaha Biyang membelikan Mbok mainan yang seharusnya ia gunakan?panci-pancian, sendok, piring, yang biasanya digunakan anak-anak perempuan main masak-masakan?ternyata hanya dijadikan hiasan di dalam rumah. Masih dibungkus dengan kardus dengan stempel harga masih tertempel. Perangkat itu akhirnya dijual lagi oleh Biyang. Selain itu, Mbok lebih suka memakai topi daripada bandana. Tetapi Mbok lebih suka rambut panjang daripada rambut pendek, seperti kebanyakan anak tomboy lainnya.

??????????? Melihat geliyat anak sulungnya itu membuat Bapa tepuk jidat dan geleng-geleng. Ngidam apa istriku waktu hamil dia, gumamnya ketika Mbok pulang dalam keadaan kotor dan membawa satu kantung plastik berisi belut-belut yang masih bergerak menggeliyat. Bajunya yang putih menghitam karena nyegur di kali kopi itu.

Suatu sore, Biyang histeris melihat ada banyak belut menggeliyat di dapurnya. Geli, seperti cacing kepanasan. Sontak semua orang di rumah panik karena teriakan Biyang yang begitu ketakutan seperti bertemu ular pyton yang mau menggigitnya, padahal hanya belut yang panjangnya sebesar jari telunjuk.?

??????????? Kesal, Biyang bahkan sampai kejar-kejaran dengan Mbok mengelilingi rumah dengan membawa sebilah sapu ijuk. Jika biasanya adegan ini dilakukan oleh ibu dan anak laki-lakinya, maka kali ini berbeda. Yang semakin membuatku terheran-heran adalah, sikap Bapa yang tidak peduli dengan Biyang dan Mbok yang saling kejar, mirip hansip yang mengejar maling. Bapa tenang-tenang saja duduk di teras dengan menyilangkan kakinya sambil membaca koran dan menyetel radio nasional.

??????????? ?Anak siapa kamu ngaku!?

??????????? ?Anak Biyang.?

??????????? ?Biyang siapa? Yang jelas.?

??????????? ?Biyang Laksmi. Biyang Laksmi istri Bapa Kelik. Biyangnya Nida.?

??????????? ?Biyang pernah mengajari kurang ajar sama orang tua nggak??

??????????? ?Biyang Nida tidak pernah mengajari.?

??????????? ?Trus kenapa kamu nakal??

??????????? ?Ampuuun Biyang!?

??????????? Kejar-kejaran mereka berhenti di dapur. Biyang menjewer kuping Mbok lalu menyuruhnya untuk membuang belut-belut itu. Aku sendiri terbahak melihat mereka.

??????????? Ya, sebenarnya Bapa dan Biyang sudah lelah melihat kelakukan putri sulungnya yang nakal melebihi anak laki-laki. Biyang sampai mengelus dada dan pernah berpikir bahwa Mbok bukan anak kandungnya. Macam sinetron, ia pikir anak kandungnya tertukar oleh bayi orang lain saat lahir di klinik ibu dan bayi. Tapi wajah Mbok sangat mirip dengannya. Semacam Biyang ketika masih seusia Mbok. Apabila foto Biyang ketika masih SD dengan foto Mbok dipadankan, mereka terlihat seperti kembar yang lahir yang dipisahkan oleh lembar dekade.

??????????? Suatu hari Mbok pernah berpesan padaku. ?Gam, kamu itu cowok. Harus berani nyegur di kali cari belut atau ikan-ikan kecil di sana.?

??????????? ?Buat apa, Mbok??

??????????? ?Melatih keberanian. Sekali-kali main ke kalilah, biar kamu tahu indahnya bermain dengan kotor.?

??????????? ?Nanti dimarahin Bapa, Mbok.?

??????????? Mbok menepuk lenganku. ?Trus kamu mau jadi laki-laki rumahan? Yang cuma main di rumah aja? Main sendiri? Cih??

??????????? ?Kapan-kapan aku ajarin cara menangkap belut di kali kopi itu.?

??????????? Kupikir Mbok tidak serius mengatakannya. Ternyata dia benar-benar mengajakku ke kali kopi itu. Kali yang lebih keruh dari yang kubayangkan. Teman-teman Mbok yang semuanya laki-laki terjun duluan. Wajah mereka terciprat air dan mereka sama sekali tidak jijik. Malah mereka bergaya seolah-olah sedang berenang di kolam renang sungguhan. Menenggelamkan kepala mereka seolah di dalamnya tak ada apa-apa. Begitu juga dengan Mbok. Dia menyusul dengan teman-temannya, melompat dan berputar-putar di udara seperti atraksi lompat indah di atas kolam renang, lalu byuurr! Seluruh badannya sontak kumuh.

??????????? Penasaran, aku mendekat ke bibir kali itu. Duduk di sana dan hanya menenggelamkan kakiku. Airnya dingin, seperti kolam renang sungguhan. Tapi aku tidak berani nyegur karena alasan takut dimarahi Bapa.?

??????????? Walau agak galak dan bandel?kata orang?tetapi Mbok memiliki sisi lembut yang belum pernah kutahu. Mungkin sifat itu diwarisi oleh Biyang. Mbok juga tetap melaksanakan tanggung jawabnya sebagai anak sulung yang menjadi panutan adik-adiknya. Meski nakal, Mbok sama sekali tidak pernah menghasutku untuk berbuat tercela. Mbok, meski mainannya macam tangkap belut, cacing, dan suka main kumuh, tetapi ia sama sekali tak pernah mencuri dan berbohong.

??????????? Mbok pernah bercerita padaku kalau ia ingin Bapa dan Biyang melahirkan adik laki-laki untuknya, ketika kelak aku sudah bertemu dengan orang tua kandungku. Aku tak tahu apa jadinya bila esok aku bertemu dengan orang tua kandungku?jika mereka masih hidup?dan kemudian aku harus meninggalkan Bapa, Biyang, dan Mbok yang sudah kukenal sejak aku bayi.

Sosok Bapa sebagai kepala rumah tangga yang tegas dan tak pernah marah, Biyang yang berparas jegeg asli wanita Bali yang santun perangainya, dan Mbok Nida yang perhatian, terkadang membuatku berpikir aku tidak perlu bertemu dengan keluarga kandungku. Karena bersama keluarga angkatku ini, aku sudah mendapat kasih sayang yang semestinya. Sudah cukup bagiku untuk menerima cinta dari mereka, aku takut bila penerimanaan keluarga kandungku tidak seperti yang kuharapkan. Akibatnya, aku lebih memilih tinggal dengan keluarga angkatku daripada keluarga kandungku.

Jika aku boleh memilih dari rahim siapa aku dilahirkan, aku? memilih dari rahim Biyang.

***

  • view 127