Alpha (Bagian 1)

Ovi  Humaira
Karya Ovi  Humaira Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Maret 2016
Alpha (Bagian 1)

Bagian 1

?

Kesiman, Bali

1990

??????????? Ada yang berbeda hari itu. Gumpalan serabut kelabu itu menggantung di angkasa, mencecap kering dengan basah yang bercampur tanah. Seolah menyudahi spektrum surya yang sempat bertahta selama putaran menit. Disusul kabut angin yang meniup tubuh ranting, mengayun-ayunkan daunnya, dan berliuk-liuk sempoyongan. Siapa pun yang tak berpegangan erat mungkin akan terseret, terjun ke dalam pusaran spiral yang langsung berhubungan dengan kilat petus. Dua dahan raksasa yang bertengger di empat rumah setelah kami akhirnya mengaku kalah, hingga akhirnya menubruk sebuah gazebo di depannya. Beruntung, tak ada korban. Tetapi kerusakan pasti ada. Bangunan yang biasanya dijadikan tempat rapat kampung dan kumpul muda-mudi, reyot seketika. Angin yang kelihatannya ringan dan tak bermassa itu ternyata mampu menebas dahan pohon sampai ke akar-akarnya. Beringas. Ganas. Beberapa kali terdengar gemuruh pada sisi vertikal, tetapi air yang selalu dirindukan belum juga memeluk bumi. Mencekam. Semua resah. Pagi tidak pernah segelap dan semengerikan ini.

??????????? Beberapa orang berlarian terkencar-kencar menyelamatkan jemuran. Ada juga yang terpaksa menyudahi aktivitas perenungannya di kakus jongkok tanpa atap, dekat sumur, meskipun belum sempat cebok. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang baru dalam perjalanan menjemput anak-anaknya kembali pulang mempercepat langkahnya, termasuk Biyang dan Mbok Nida yang tiba di rumah dengan napas terengah-engah. Pintu-pintu dan jendela-jendela dikunci rapat. Keadaan di luar benar-benar seperti kota mati. Atau, seperti pada saat perayaan Nyepi.

Aku sendiri meringkuk di kolong meja, takut kalau rumah ini juga terbawa arus badai. Aku ingat kata Bapa, tempat berlindung paling aman ketika gempa bumi adalah kolong meja, maka kupikir ini akan sama ketika badai menimpa. Sementara itu Bapa dan Biyang mondar-mandir, naik-turun ruangan dengan langkah cergas. Setiap kali terdengar bunyi guruh di atas sana, aku mempererat pegangan tanganku yang memeluk kedua lututku. Lalu, aku menundukkan kepala. Berkomat-kamit meminta pertolongan, entah kepada siapa. Sementara itu langkah kaki Bapa dan Biyang yang tak beralas menjejak lenggek yang menimbulkan suara jedag-jedug terdengar dari bawah. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka ribut sendiri.

Kepanikan ini mereda setelah sekitar setengah jam bumi Kesiman diombang-ambingkan dengan badai yang tak kunjung menurunkan hujan. Aneh, keadaan di luar berangsur kembali normal seolah tak terjadi apa-apa meskipun langit kelam masih menggantung. Beberapa saat kemudian terdengar gumaman pria dewasa yang memakai udeng di luar rumah kami. Gumaman resah yang tak kumengerti artinya. Satu diantara mereka memanggil Bapa. Mengetuk pintu tiga kali. Bapa keluar. Dan aku mendengar keresahan yang sama.

?Upacara tetap dilakukan.? Setelah cukup lama berkonferensi dan tak kunjung menemukan mufakat, Bapa akhirnya memutuskan secara sepihak.

?Mendungnya gelap begini, Bli, nggak mungkin bisa,? protes salah satu dari pria-pria itu.

?Kalau tidak hari ini kapan lagi? Esok sudah hari kesembilan. Kita harus melaksanakannya di hari kedelapan,? tegas Bapa. Tak ada yang berani protes lagi.

Bapa masuk kembali dan menyuruh kami untuk segera bersiap. Setelah selesai meriasi Mbok Nida, giliran aku yang dijunjung Biyang dan dipasangkan udeng seperti para pria itu. Di hadapan Biyang aku merengek. Takut hujan. Takut badai. Takut mendung. Takut semuanya. Bahkan sampai mengarang cerita ada monster yang sedang mengintai di luar sana. Biyang memelukku, dan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.

Keluarnya kami berbarengan dengan warga yang lain. Mereka berias serapi mungkin, seperti pada pria menggunakan ikat kepala atau udeng dan para wanita menyelipkan setangkai kamboja di telinganya. Arak-arakan warga memadati jalan setapak kampung. Kami terpaksa bergabung dalam barisan. Bapa pernah bilang, pada hari Redite Pon wuku Medangsia, atau delapan hari setelah Kuningan, kami?khususnya penduduk Kesiman?berkumpul di kawasan Pura Petilan untuk mengikuti rangkaian upacara ngerebong. Upacara ini khusus hanya dilakukan di kampung kami. Di tengah kerisauan ancaman hujan badai yang tak tahu akan bertandang kapan, keputusan Bapa untuk tetap menggelar upacara ini terbilang nekat. Warga sudah mewanti-wanti cuaca buruk tak mungkin bisa diajak kompromi untuk menggelar ngerebong. Mengingat sudah ada dua pohon yang tumbang menimpa gazebo kampung. Tapi Bapa bukan tipe orang yang mudah terpengaruh. Ia selalu yakin dengan keyakinan yang ia yakini, meski kadang-kadang dibilang terlampau nekat. Dan?entah mengapa dan kebetulan?keyakinannya itu tak pernah keliru.

??????????? Genius lokal kampung kami memikat banyak wisatawan lokal dan manca. Di bibir jalan sebelah kanan tak sedikit kutemui bule-bule berdiri dengan barisan warga dan wisatawan lokal. Postur tubuhnya yang tinggi besar menjadikannya sosok yang paling mencolok, apalagi dengan wajah yang sama sekali bukan rasa Indonesia. Mereka menggendong ransel besar?yang mungkin beratnya sampai berkilo-kilo?dan memakai pakaian seperti kekurangan bahan: celana pendek yang nyaris mempertontonkan daging pantatnya dan baju dengan belahan dada rendah. Mereka membidik setiap laku kami dengan benda kotak yang di tengahnya terdapat lingkaran besar menonjol keluar, yang dikalungkan di lehernya. Di sebelah kiri juga kulihat banyak orang-orang lokal luar Bali menonton aksi arak-arakan kami. Takjub, puas, gembira, tergambar dalam wajah mereka. Persis seperti menonton pertunjukkan sirkus.

Sebelum menuju pura, arak-arakan warga terlebih dahulu berhenti di wantilan. Sebelum mencapai puncak upacara adat, beberapa orang melakukan ritual adu ayam di tempat ini. Dikatakan bahwa tempat ini nantinya akan menjadi tempat ritual puncak ngerebong yang mana para pemedek akan kesurupan setelah mengitarinya. Seketika saja aku merasa leherku dingin, seperti tertiup angin, padahal tidak ada hembusan angin sama sekali. Aku memeluk pinggang Biyang.

??????????? Setelah ritual adu ayam selesai, Biyang menggandengku dan mengarak menuju kerumunan para pemedek bersama Mbok Nida, sementara Bapa berangkat lebih dulu terpisah berada di dalam Pura Petilan. Rupanya upacara telah berada di puncaknya. Para pecalang menyisiri jalan dari kerumunan untuk para pemedek. Tak lama, puluhan pemedek keluar dari pura untuk melanjutkan ritualnya, yaitu mengelilingi wantilan sebanyak tiga kali putaran. Inilah yang dimaksud dengan ritual kesurupan massal. Namun, pada saat para pemedek mengitari wantilan, tiba-tiba gemuruh terdengar. Keras. Tak lama disusul keclap petir yang membuat orang-orang tersentak dan refleks menutup kupingnya. Rintikan air yang datang berangsur-angsur lebat membuat orang-orang membubarkan diri mencari tempat berteduh kecuali kami yang telah sedia membawa payung, dan para pemedek yang tak membawa persediaan apa-apa. Berharap tak ada badai. Semua berkomat-kamit memohon pada Indra.

Pemedek itu tetap mengitari wantilan meskipun diguyur hujan lebat. Setelah tiga kali putaran, beberapa dari mereka mengalami kejang-kejang. Pandangan matanya berubah bengis, kadang-kadang bola matanya berputar-putar seperti roda lalu menghilang sehingga hanya menyisakan putihnya. Kesetanan. Mereka melakukan banyak hal ketidakwajaran. Berteriak, meroncal-roncal, dan pada puncaknya menikamkan keris ke bagian tubuhnya, di leher, dada, lengan, kepala, dan lain-lain. Tak ada luka sedikit pun yang mengenai tubuh mereka. Hal ini, menurut Bapa, terjadi karena kekuatan roh yang merasuki tubuh para pemedek begitu kuat, sehingga tubuh mereka akan kebal dengan sendirinya dari tikaman keris yang dihujamkan ke kulit mereka.

Bukannya takut aku justru menikmati aksi tusuk-tusukan itu.

??????????? Biyang tiba-tiba menutup mataku ketika di depan kami ada seorang pria berkumis lebat dan berbadan tambun hendak menikamkan keris di lehernya sembari meraung. Ia juga menyuruh kami mundur agar tak terkena imbas roh yang merasuki pria itu. Namun, payung kami tiba-tiba saja terjatuh disambar oleh seorang pemedek wanita. Wanita itu terbahak-bahak, lalu menangis tersedu-sedu. Roh yang merasuki tubuh wanita itu berkata kalau ia kehilangan putrinya. Putrinya meninggal sejak ada dalam kandungan. Selanjutnya, ia mengumpat dalam bahasa yang tak kupahami. Bukan bahasa Bali. Pandangannya berubah lagi. Tajam, seperti menahan amuk. Wanita itu tiba-tiba melayangkan tangannya, tetapi untungnya Biyang berhasil menghindar sambil menggandengku dan Mbok Nida. Sebelum sampai menyerang kami, dengan cepat Biyang memboyong kami menepi dan wanita itu ditahan oleh dua orang sanak keluarganya.

Setelah sampai tempat berteduh, selanjutnya kudengar rengekan Mbok Nida yang berderai ketakutan. Kurasakan betul Biyang sedang erat memeluk kami secara bersamaan. Takut kalau adegan itu dapat mempengaruhi pikiran anak-anaknya yang masih kecil ini.

??????????? ?Jangan diingat-ingat, Gus,? bisik Biyang kepadaku.

??????????? Biyang kembali menutup mataku. Gelap, aku mencari ruang untuk bisa melihat suasana di sekitarku saat ada adegan-adegan ngeri terpampang di mata. Sebenarnya aku cukup terhibur dengan aksi tadi. Tidak ada rasa takut sama sekali yang aku rasakan. Aku menoleh ke samping kananku dan mendapati seorang anak perempuan seusiaku menangis di tengah kerumuman, mungkin ketakutan. Anak itu menangis kencang sekali, tetapi ironinya orang-orang di sekitarnya seolah tak acuh dengan jeritan ketakutan anak itu. Aku hanya bisa memandangnya dari dekapan Biyang, sembari berharap ada orang yang, paling tidak, menyelamatkannya dan menariknya keluar dari kerumunan.

??????????? ?Kadek!? seorang wanita muda menghampirinya?kupikir itu ibunya?lalu mendekapkan kepala anak itu ke perutnya. Mereka seperti baru saja tersesat sesaat dari kerumuman karena hujan yang tiba-tiba mengguyur tanpa permulaan gerimis. Sesaat kemudian tangis anak yang bernama Kadek itu mereda, dan hanya menyisakan sedu-sedannya.

??????????? Pandangan kami bertemu di titik yang sama. Gadis kecil bernama Kadek itu memandangku dengan isak yang masih menyertai. Sementara aku, sejak tadi pandanganku tak pernah lepas dari sosoknya sejak mencuri perhatianku karena tangisan kerasnya tadi. Kemudian Kadek ditarik keluar dari kerumunan oleh Biyangnya. Ia melangkah menjauh, mungkin pulang. ?

***

??????????? Pukul 10? lewat 30 menit Bapa baru pulang. Suara kosen pintu dari bawah membuatku melek dan bangkit. Buru-buru aku turun untuk menyambutnya, menemui Bapa yang seharian penuh ini memimpin upacara pangrebongan. Namun langkahku terhenti di batas ruang tamu dan keluarga, ketika Bapa ternyata pulang bersama dua orang pria dan seorang wanita. Aku hanya tahu salah satu dari mereka, Bli Nyoman, yang rumahnya tepat di sebelah rumah kami ini.

??????????? ?Om swastyastu..?

??????????? Mereka duduk melingkar, mengambil posisi seperti pada konferensi formal meja bundar. Koferensi sederhana. Bapa merebahkan punggungnya sembari menyilangkan satu kakinya. Menopang dagu dengan tangan kanannya sembari berpikir dalam. Tampaknya mereka akan memperbincangkan masalah yang serius.

??????????? ?Bli, ida yakin tan wenten wang sane rungu yan iraga masuara di sini?? (Anda yakin tidak ada orang yang mendengar jika kita bicara di sini?) tanya seorang Bli mengawali rapat pada malam itu.

??????????? ?Ya. Semua orang di sini sudah nyenyak tidur di kasur. Jika tidak ingin terdengar, pelankan saja suaramu.?

??????????? Rahasia? Aku pun beringsut untuk bersembunyi dari balik tembok sekat yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga. Mendengarkan pembicaraan keempat orang dewasa ini.

??????????? ?Jadi, apa yang kita bicarakan di sini?.?

??????????? ?Bli, sudah banyak warga yang resah dengan kehadiran Alfa akhir-akhir ini,? ungkap seorang Bli yang tak memakai udeng di kepalanya.

??????????? ?Kenken??

??????????? ?Bli Kelik ini?. jadi Bli tidak tahu apa yang terjadi pada anak itu?? tanya Bli Nyoman memastikan.

??????????? Bapa menggeleng.

??????????? ?Bli serumah dan hampir setiap hari bersama dengan anak itu. Bli yakin tidak mendengar atau setidaknya melihat kelakukannya yang aneh akhir-akhir ini??

??????????? Bapa kembali menggeleng.

??????????? ?Jadi begini Bli, Alfa, anak angkat Bli itu setiap malam meraung keras sekali dan itu mengganggu tetangga. Raungannya seperti orang kesetanan. Orang-orang sini menganggapnya dia telah kerasukan roh jahat,? tutur Bli Nyoman.

??????????? Bapa terkesiap. Matanya membelalak. Sontak bangkit dari sandaran kursi. ?Yang bener kalian??

??????????? ?Benar, Bli. Kami semua saksinya.?

??????????? ?Saya benar-benar tidak tahu,? ungkap Bapa. ?Kalian yakin suara itu suara anakku Alfa??

?Ya. Saya selalu mendengar tiap malam dari rumah ini teriakan anak laki-laki. Siapa lagi kalau bukan si anak asing itu.?

??????????? Tak kusangka, selama ini aku menjadi bahan pembicaraan orang-orang desa. Pantas saja mereka selalu mempertanyakan kapan Bapa akan melepasku dari Kesiman. Satu hal yang membuatku merasa tertohok ialah kabar mengenai aku dirasuki roh jahat? Darimana gosip itu bermula? Mengapa mereka bisa berspekulasi seperti itu? Aku merasa baik-baik saja dengan diriku ini.

??????????? ?Kapan sih Bli akan melepas anak itu jauh dari sini??

??????????? Bapa menanggapinya dengan tenang. ?Saya akan melepasnya nanti ketika dia sudah balig, mampu membedakan benar dan salah, dan sanggup hidup mandiri. Saya sudah bicarakan ini secara empat mata dengan Alfa.?

??????????? ?Tapi, Bli, anak itu membuat resah warga karena dengar-dengar dia kerasukan roh jahat. Apa Bli tidak menyadari kelakuan anak itu akhir-akhir ini menjadi aneh?? ulang keluh wanita itu lagi.

??????????? ?Nenten. Saya merasa dia baik-baik saja.?

??????????? ?Bli tidak mendengar tiap malam anak itu meraung keras seperti orang kesetanan? Apakah mungkin semua orang di rumah ini tidak mendengar sama sekali, sedangkan suara itu bahkan terdengar keras sekali oleh penghuni di tiga rumah berikutnya?? tungkas wanita itu.

??????????? ?Bli, kabar anak itu kerasukan roh sudah menyebar sampai kemana-mana, sedangkan dia dalam keadaan tidak sadar. Yang kami takutkan di sini adalah, bagaimana jika anak itu tahu apa yang terjadi pada dirinya dari orang-orang, bukan dari keluarganya sendiri,? tambah Bli Nyoman. ?Lagipula status anak itu di keluarga Bli kan hanya anak angkat.?

??????????? Muka Bapa mulai menegang. ?Sebentar, bagaimana bisa kalian berpendapat kalau anakku itu kerasukan roh jahat? Apa kalian sudah pernah memeriksanya??

??????????? Ketiganya diam dan saling pandang. Suasana hening seketika.

??????????? ?Kami memang tidak memeriksanya secara langsung. Tetapi dari apa yang kami dengar tiap malam selalau sama. Apakah mungkin seseorang mengalami mimpi buruk tiap malam, dan selalu berteriak seru sekali, bahkan kadang-kadang sampai mengucapkan kata-kata tak pantas?? sahut Bli Nyoman.

??????????? ?Pada pukul berapa biasanya dia meraung??

??????????? ?Sekitar waktu ini, Bli.?

??????????? Bapa terkekeh. ?Coba lihat, seluruh ruangan sudah sepi. Anak-anakku sudah tidur di kamarnya sejak tadi. Nyatanya sampai detik ini kita semua tidak mendengar suara raungan itu, kan??

??????????? Seketika suasana forum kembali hening. Mereka saling pandang lagi, sampai seseorang yang tak memakai udeng itu menyahut,?Mungkin saja dia belum tidur, Bli.?

??????????? Tiba-tiba saja sepasang mata Bli Nyoman menangkap sosokku di balik tembok seperti menangkap basah seorang perampok, mengetahui aku sedang berdiri di sana.

??????????? ?Kita bisa membuktikannya sekarang,? ucap Bli Nyoman. Cepat, aku segera naik ke kamar, membungkus tubuhku dengan selimut, dan pura-pura tidur.

??????????? Keempat orang dewasa itu benar-benar naik menuju kamarku. Mereka benar-benar masuk ke kamarku untuk memastikan aku sudah terlelap atau belum.

??????????? ?Dia masih terjaga. Barangkali juga anak ini telah mendengar pembicaraan kita di bawah,? ujar Bli Nyoman. Barangkali sebenarnya Bli Nyoman sudah tahu aku berdiri di balik tembok mendengarkan mereka berbicara di ruang tamu.

??Jadi dia nguping?? wanita itu bertanya.

?Cukup! Kedatangan kalian di sini mengganggu kenyenyakan tidur anakku saja. Suara kalian yang terlalu keraslah yang membuatnya terbangun. Pulanglah kalian. Ini sudah larut. Kita bicarakan ini di lain tempat.?

?Bli, masih tak percaya juga??

?Saya belum bisa percaya kalau saya tidak mendengarkan dan menyaksikannya sendiri.?

??Rahajeng, Bli bisa membuktikannya sendiri nanti tengah malam, pastikan Bli untuk selalu terjaga,? ucap Bli Nyoman. Kemudian orang-orang itu meninggalkan kamarku bersama Bapa.

***

??????????? Pagi-pagi sekali saat mentari masih bersembunyi di balik tirai semesta, Bapa mengundangku untuk bicara secara empat mata di kamarnya. Kantung mata itu telah jelas mengisyaratkan bahwa semalaman Bapa tidak tidur. Dua cangkir kopi hitam telah habis diseruputnya semalam..

??????????? ?Ada apa, Pa??

??????????? ?Negak, Gus. Bagaimana keadaanmu pagi ini? Segar? Sehat? Bugar??

??????????? ?Ya, Pa. Seperti biasanya.? Agak aneh saja, Bapa tidak pernah menanyaiku seperti ini. Biasanya setiap pagi ia hanya mengucapkan Om Swastyastu kepada kami lalu dilanjutkan dengan menyarap bersama di ruang makan. Setelah itu ia membaca koran, sesekali mengisi kolom TTS di teras sambil mendengarkan RRI.

??????????? ?Maksudku badanmu, tidak ada yang terluka?? dengan raut panik, Bapa memutar tubuhku, memeriksanya dengan jeli.

??????????? ?Sumpah. Aku baik-baik saja, Pa. Bapa, ada apa memangnya??

??????????? ?Sungguh, Gus, kau tidak apa-apa??

??????????? ?Kalau Bapa tidak percaya periksa saja.?

??????????? Bapa menghembuskan napas panjang,?Syukurlah kalau begitu. Banyak istirahat saja, Gus. Minggu depan kamu sudah mulai masuk sekolah. Kembalilah ke kamarmu lagi.?

??????????? Aku melangkah membelakangi kamar Bapa dengan masih membawa banyak tanya. Tak lama Biyang masuk ke kamar membawa beberapa tumpukan baju yang baru saja ia setrika. Tak sengaja aku mendengar pembicaraan Bapa dan Biyang dari lubang kunci.

??????????? ?Gimana Bagus, Pak??

??????????? ?Aneh, dia merasa baik-baik saja. Padahal semalaman dia meraung seperti itu. Kulitnya halus, tidak ada luka bekas cakaran. Apakah setiap malam dia selalu seperti itu??

??????????? ?Setiap malam Bagus seperti itu, Pak. Selama Bapak tidak ada di rumah pada saat tengah malam, aku dan Gek Nida yang menanganinya. Kewalahan kami karena perempuan semua. Bagus meroncal-roncal dan memberontak. Disekap juga tidak mempan. Anak itu kalau sudah begitu energinya kuat luar biasa, Pak. Mirip orang kesetananlah.?

??????????? ?Jadi Ibu sama Gek Nida sudah tahu lama tentang ini??

??????????? ?Iya, Pak. Kami tidak berani bilang ke Bapak soal ini. Ngomong-ngomong, Bapak tahu ini darimana??

?Dari warga, Buk. Mereka mengeluhkan keresahannya karena setiap malam mendengar Bagus meraung-raung.?

?Apa sebaiknya saat tidur kita memasungnya saja, supaya dia tidak mengganggu lagi, Pak??

??????????? ?Jangan. Dipasung pun juga akan menyakitinya, Bu, meskipun saat dia tidur.?

??????????? ?Lalu mesti diapakan, Pak? Kan tidak bisa dibiarkan terus seperti itu,? ucap Biyang, ?kenapa dengan anak itu, ya, Pak? Apa karena ngerebong? Usianya masih belum cukup untuk menonton??

??????????? ?Tidak mungkin, Bu. Banyak juga anak kecil yang menonton yang umurnya lebih muda dari Bagus. Lihat saja Gek Kadek Kanya, anaknya Pak Broto itu, dia sudah diajak nonton ngerebong sejak umur tiga tahun. Nyatanya baik-baik saja.?

??????????? ?Ibu khawatir, Pak, Bagus kenapa-napa. Apa sebaiknya kita bawa ke mantri saja, Pak? Takutnya kalau terjadi sesuatu dengan dia. Kalau dibiarkan terus, dia akan terus melukai dirinya sendiri. Lagipula, ini sudah sebulan lamanya sejak pertama kali Bagus seperti itu, Pak.??

??????????? ?Beneh, Buk. Warga di sini juga resah, alangkah lebih baik apabila kita mengatasinya segera. Tetapi selama aku bisa melakukannya sendiri, aku akan mengatasinya. Kalau tidak bisa, baru kita bawa ke mantri.? ??????

Suara gagang pintu yang tiba-tiba terdengar membuatku terperanjat. Buru-buru aku langsung kabur ke kamarku lagi. Pada cermin, aku kembali memeriksa seluruh tubuhku. Lebih teliti. Tidak ada bekas luka cakaran seperti yang diceritakan Bapa. Ada apa dengan diriku ketika aku tertidur? Mengapa semua orang menyatakan keresahannya karena tingkah lakuku saat aku tidak sadar? Aku selalu merasa tidur nyenyak.

--Berlanjut ke Bagian 2--

  • view 142