KurinduITD - Utopia atau Tidak

otong
Karya otong  Kategori Renungan
dipublikasikan 09 Oktober 2016
KurinduITD - Utopia atau Tidak

Berbicara diskriminasi tentu harus dimulai dengan tafsir kata itu sendiri, sebab dia tak mesti berbicara mengenai satu atau dua unsur saja dalam kehidupan. Tak selalu berbicara mengenai agama atau suku atau kecenderungan orientasi seksual. Diskriminasi lebih jauh bisa menimpa apa saya yang melekat pada hidup setiap manusia secara umum, baik itu yang benar-benar tampak ataupun yang samar. Pendirkriminasian terhadap sesuatu yang benar-benar tampak biasanya akan lebih menyerap perhatian, katakanlah diskriminasi terhadap warna kulit tertentu, suku tertentu atau agama tertentu, yang biasanya adalah sebagian dari minoritas dari satu komunitas masyarakat. Terlebih jika penyebab diskriminasi adalah hal terakhir yang disebutkan, maka percik api pertikaian akan segera menjadi besar dan akan sulit dipadamkan.

Definisi tak melulu perihal keinginan bertemu dengan sesuatu yang pernah dijumpai atau yang pernah ada. Merindukan sesuatu yang diinginkan kadang akan lebih terasa mengikat dan emosional. Sebab, sesuatu yang diinginkan dan dikhayalkan adanya, merupakan model ideal dari hal tersebut. Merindukan seorang guru dimasa lalu, yang belum pernah kita temui wujudnya, hanya ajarannya saja yang sampai kepada kita adalah salah satu contohnya. Merindukan sesuatu yang belum pernah kita temui, merupakan harapan dan mimpi.

Indoensia tanpa diskriminasi adalah hal yang termasuk ke dalam sesuatu yang bisa jadi gambaran indonesia yang begitu ideal meski sulit untuk diwujudkan, jika tak bisa disebut utopia. Negara kepulauan, masyarakat yang heterogen dan sejarah yang panjang bisa menjadi alasannya.

Bentang pulau sejak dari Aceh hingga Papua bagaiamanapun tidak akan mampu dijangkau oleh Jakarta siapapun presidennya, atau apapun jenis pemerintahan yang akan diterapkan. Indonesia yang terdiri dari sekian banyak pulau, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang sepi tak berpenduduk hingga yang padar merupakan tantangan sendiri untuk menjadikannya tanpa diskriminasi. Tak perlu bicara konflik agama yang sering terjadi, meruncing dan menjadi berita utama, bicara mengenai apa yang dinikmati Jakarta dan pulau-pulau terluar saja, ketimpangan akan segera terasa. Siapapun yang menjejakan kaki di Pulau Terluar, akan merasa tak sedang di Indonesia jika ia berasal dari Pulau Jawa. Ketimpangan ekonomi tersembunyi ini, dikarenakan luas negara dan bentuknya yang kepulauan. Bahkan, mengenai diskriminasi perlakuan bisa dilihat dengan jelas di Papua, di Tambang Emas Freeport dan sekitarnya.

Masyarakat Indonesia yang heterogen, baik itu dari suku atau agama, berpengaru besar kepada sulitnya Indonesia mencapai gambaran yang ideal tanpa diskriminasi. Masyarakat heterogen yang cenderung berkelompok dalam berbagai kegiatan sosial, akan sangat mudah mengeksklusifkan dirinya. Menjadikan kami dan mereka, mendefinisikan kawan atau lawan. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia terkotak-kotak kedalam label-label tertentu yang menjadi penanda identitas. Penanda identitas yang menjelma menjadi pembeda. Tentu tak asing dan tak jarang berita mengenai bentrok satu komunitas dengan komunitas yang lain berdasar kepada label-label tersebut, dan tak perlu menggali ke pelosok-pelosok yang masih menganut budaya kedaerahan. Antar kampus atau kampung, gang atau desa serta antar angkatan instansi pemerintah sekalipun. Labelisasi indentitas yang terjadi karena turunan, akan lebih terasa lekat dan memiliki daya yang lebih besar bagi kemungkinan bentrok dengan identitas yang lain.

Faktor besar ketiga lainnya adalah sejarah panjang Indonesi yang kental dengan budaya penaklukan. Penguasaan atas koloni yang lain sejak jaman kerajaan tidaklah bisa dihindari keberadaannya. Yang terbesar terakhir tentunya adalah bagaimana Perang Bubat bisa menjadi saksi cerita yang menimbulkan dendam sunyi hingga kini. Datangnya VOC dan populernya kolonialisme modern waktu itu, menambah pengaruh yang sangat kuat kepada budaya penaklukan di Indonesia. Saling mengangkangi dan menjadi yang paling adalah sesuatu kepuasan yang seolah sudah mendarah daging dalam masyarakat Indonesia dan terbawa hingga zaman sekarang. Kekuasaan dan penguasaan merupakan birahi yang susah dibendung dalam diri manusia, menjadikan diri tampil di atas bangkai harga diri manusia yang lain merupakan prestasi yang bisa dibawa mati. Semacam pemerkosaan yang tidak melulu berbicara mengenai nafsu, penaklukan lebih dari itu berbicara mengenai kekuasaan.

Menjadikan Indoensia tanpa diskriminasi merupakan mimpi disiang bolong dengan karakter bangsa yang seperti ini, menilik dari tiga alasan besar di atas. Tetapi, bukankah sudah disebutkan diawal bahwa kerinduan kepada sesuatu yang belum pernah ditemui merupakan harapan dan mimpi. Harapan dan mimpi akan menjadi sesuatu yang sangat nyata tat kala kita dengan sungguh-sungguh mengupayakannya, berjuang untuk meraihnya sekalipun banyak rintangan dan cobaan. Sekalipun susahnya mimpi dan harapan itu terwujud. Dan Merindukan Indonesia tanpa Diskriminasi merupakan tamparan dan pertanyaan bagi semua ; Apa arti Indonesia bagiku?

 

 

Cetak miring adalah kutipan “Sapu Tangan Fang Yin” Karya Denny JA

 

Karya selanjutnya : Mengulas sajak Sapu Tangan Fang Yin Karya Denny JA

  • view 263