Kerja Kerja Cinta

Qurrota A'yuni
Karya Qurrota A'yuni Kategori Sejarah
dipublikasikan 03 Juli 2016
Kerja Kerja Cinta

( Ustman bin Affan dan Nailah binti al-Qurafashah )

Islam berduka.Satu lagi pemimpin terbaik sepanjang masa telah dirindukan oleh sang Pencipta.Ialah sang Amirul Mu’minin, Ummar bin Khathab.Kepergiannya duka bagi umatnya, namun itulah awal kehidupannya di syurga bertemu dengan rasul dan Rabbnya.Adakah tempat yang lebih baik dari itu ?


Islam harus terus berkiprah menyuarakan kebenaran dan memberantas kebathilan, ia takkan pernah berhenti bahkan mati.Dan sepeninggalan Umar, Ustman bin Affan ditunjuk untuk menggantikan posisi kekhalifahan tersebut.Walupun diawal kepemimpinanya keadaan umat islam kurang kondusif, bahkan seiring berjalannya waktu pemberontakan terjadi di dalam tubuh kaum muslimin itu sendiri.Namun, ia tetap memimpin umat islam di zamannya dengan segala kelembutannya. 


Alkisah perjalanan cinta seorang Ustman bin Affan sangatlah panjang.Bagi sang pemilik julukan Zun Nurain (Sang pemilik dua cahaya) ia diberi keistimewaan dapat menikahi kedua putri kesayangan rasulullah yaitu Ruqaiyah dan Umi kulsum dalam waktu yang berbeda.Namun, pernikahan itu tidak berlangsung lama hingga akhir hayatnya, bukan karena tak saling cinta perpisahan ada.Bahkan tak saling setia bukanlah alasan tuk mengakhiri janji sehidup sesyurga, iman mereka terlalu manis untuk itu.Allah lebih merindukan mereka, Utsman faham benar.


Dari kedua pernikahan itu, Ustman belum diberi kesempatan memiliki keturunan.Pernah ia mendapatkan titipan itu melalui rahim Ruqaiyah, namun lagi lagi Allah memiliki cara sendiri tuk mencintai Ustman dengan mengambil kembali kerinduan.


Diusianya yang sudah  tak lagi muda bahkan terbilang tua, Kala itu ia memutuskan menikah untuk yang kesekian kalinya. Saat itu, usianya sekitar 80 tahun.Rambutnya telah memutih dan jasadnya tak begitu gagah namun tetap gigih.Dan yang lebih mencengangkan adalah bahwa ia akan menikahi seorang gadis belia yang baru mekar. Usianya baru 18 tahun tatkala janji suci itu menggema dihadapan Rabbnya. 


Namanya adalah Nailah binti Al Qurafashah atau Nailah binti Al Farafishah Al Kalbiyah, seorang gadis cantik dari negeri Syam. 


Tentu bukan hal mudah bagi keduanya untuk saling membersamai dalam singgasana pernikahan mengingat usia mereka yang terpaut sangat jauh. Namun, keduanya telah memutuskan untuk saling mencintai.


Dikisahkan, mereka terlibat sebuah percakapan yang menjadikan cinta lekat membersamai mereka dijalanNya.


“Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini,” kata Utsman tatkala pertama kali menyambut Nailah. “Apakah engkau tak keberatan menikah dengan seorang pria tua bangka?” Lanjutnya.

“Aku termasuk perempuan yang lebih suka memiliki suami yang lebih tua,” jawab Nailah sambil tertunduk. Rasa malu menggelayuti hatinya dan cinta hadir saling menyapa satu dengan yang lainnya.

“Namun, aku telah jauh melampui ketuaanku,” kata Utsman kembali. Ia seakan menguji kesungguhan keputusan gadis cantik yang mau dinikahinya itu, menelisik kesungguhan keputusannya untuk mencintai lelaki tua seperti dirinya.

“Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah,” jawab Nailah sambil tersenyum, “Dan itu jauh aku lebih sukai dari segala-galanya.”


Indah bukan ?.Disanalah cinta bekerja.


Saat itu juga cinta tumbuh diantara mereka, Utsman mencintai Nailah begitupun Nailah.Dan cinta itu saling bukan selang.Begitulah para pencinta sejati, melaksanakan pekerjaan pekerjaan cinta bagi orang yang dicintai.Saling memberi dengan tangan yang selalu bergenggam, saling memperhatikan dengan mata yang selalu terdiam, saling merawat dengan dekapan sayang dan saling melindungi bagai sudah menjadi satu kaki.


Bagai bunga yang semakin hari semakin mekar di tamannya.Nailah bukanlah hanya gadis belia yang bisanya  bermanja dipangkuan suaminya, ia bagai bunga yang wanginya mengiringi langkah suaminya.Inilah hasil kerja cinta sang suami dalam membimbing istrinya hingga tutur kata dan sikapnya melebihi keindahan parasnya.Nailah menjadi wanita yang sangat menguasai sastra dengan pemikiran yang luar biasa. 


Pernah suatu waktu Ustman menggambarkan sosoknya seraya berkata “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku “.Itulah ungkapan cinta Ustman kepada Nailah.
Darinya, Utsman memperoleh putri bernama Maryam dan Anbasah. 


Sejarah membuktikan kejujuran cinta mereka. DR. Sa’id bin ‘Abdul ‘Azhim menceritakan untuk kita dalam “Mu’asyarah bil Ma’ruf” bukti kerja cinta mereka.
Suatu ketika para pemberontak berdatangi Khalifah Utsman bin ‘Affan di rumahnya untuk membunuhnya, bangkitlah istri yang dicintai dan mencintainya itu, Nailah binti Al Qurafashah, dengan membiarkan rambutnya terurai, seakan-akan dia bersiasat dengan berusaha menggoda sifat kejantanan para pemberontak tersebut. Spontan Utsman berteriak dan membentaknya, seraya mengatakan, “Ambillah kerudungmu! Demi umurmu, kedatangan mereka lebih ringan bagiku daripada kehormatan rambutmu.”

Ketika salah seorang pemberontak masuk ke dalam rumah dan membabat Utsman yang sedang membaca mushaf Al Qur’an hingga darahnya menetes ke mushaf itu, Nailah tidak tinggal diam. Seorang pemberontak lain yang menerobos masuk dicegah oleh Nailah dan merebut pedang yang dibawa si pemberontak itu. Namun, pemberontak itu dapat merebut pedangnya kembali. Ia menebaskan pedangnya dan memotong jari-jemari lentik Nailah yang melindungi sang suami.
Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Nailah menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Utsman untuk melindungi tubuh sang suami dari sabetan pedang para pemberontak hingga jarinya tertebas.

Para pecinta sejati memang senantiasa memberikan perlindungan yang terbaik bagi orang yang dicintainya. Meski harus berkorbankan harta, meski harus berkorban raga, meski harus berkorban nyawa. Bahkan kemudian, potongan jari Nailah bersama baju Utsman dibawa ke hadapan Mu’awiyah di Syam untuk menunjukkan bukti kekejaman para pemberontak dalam membunuh Utsman. Sebuah bukti cinta yang sangat mengagumkan.

Utsman demikian dalam mencintai Nailah. Karena itulah Nailah pun merasakan dan mencintai Utsman dengan sangat mendalam. Curahan cinta Utsman kepada Nailah memenuhi seluruh ruang di hati Nailah hingga mampu menggerakkan dirinya menjadi tameng bagi kesewenang-wenangan para pembunuh terhadap suaminya, seorang lelaki yang senantiasa menghidupkan malam dengan Al Qur’an dalam rangkaian rakaatnya. 


Utsman senantiasa membuktikan bahwa ia mencintainya dalam keadaan susah dan senang. Maka, semakin luaslah ruang hati Nailah untuk menampung cinta dari sang suami. Demikian pula kesadarannya untuk mencintai lelaki tua itu. Ruang hatinya terlalu penuh dengan cinta dari lelaki tua itu hingga tak mampu terisi oleh cinta yang lain.

Maka, ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menyampaikan pinangannya untuk janda Utsman bin ‘Affan itu, Nailah dengan tegar menjawab, “Tidak mungkin ada seorang manusia pun yang bisa menggantikan kedudukan Utsman di dalam hatiku.” Bahkan, kemudian ia merusak wajahnya yang cantik untuk menolak semua peminang yang datang kepadanya. Ia memutuskan untuk hanya mencintai Utsman, lelaki tua itu.


———–Beberapa dikutip dari sebuah blog (file:///C:/Users/User/Documents/Kisah-Cinta-Sejati-Utsman-bin-Affan-dan-Gadis-belia Naila-binti-al-Kurafashah_Abdul-Aziz-Efendy-27Blog.htm )——————-

***********************************************************************************************************************
Dalam blognya penulis mengatakan bahwa “ mencintai adalah sebentuk pernyataan kesiapan diri untuk melakukan kerja-kerja cinta. Maka, mencintai bukanlah tentang romantisme, melankolisme, erotisme, kemesraan, khayalan, dan keindahan semata, namun tentang kerja cinta dan pertaruhan kepribadian serta integritas si pecinta, walaupun kita tidak menafikkan eksistensi hal-hal indah tersebut. Mencintai adalah pekerjaan yang besar dan berat. Karena itu, mencintai adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Namun, hanya sedikit orang yang menyadari hal ini. “
Bagiku beginilah seharusnya cinta berjalan, beginilah harusnya cinta bekerja.Bahkan dalam manisnya iman, cinta berarti pengorbanan bagi orang yang dicintai. 


Aku tak begitu pandai dalam merangkai kata
Menjelaskan manisnya sebuah rasa pun senyumlah yang berjasa
Bahkan bibir ini seakan berseru tuk mengambil andil dalam mengungkapkannya
Namun biarlah ia tetap bungkam
Agar manisnya tak didustai kata

Ustman dan Nailah menciptakan syurga mereka didunia
Dua insan yang dipertemukan atas dasar cinta Sang Maha Cinta
Dengan cinta Ustman bunga yang bernama Nailah mekar seakan mentari yang menyinari pagi
Dengan cinta Nailah, harumnya dakwah terasa hingga pelosok negeri

Usia katamu ?
Itu bukan apa apa, bahkan ia tak mendapatkan sedikit pun narasi dalam cerita
Ia hanya tipu daya yang tak mempesona bagi dua insan yang memang sudah ditakdirkan bersama
Ia bukan lagi alasan, ketika zaman kita mempertimbangkannya melebihi iman sang hamba
Seharusnya beginilah cinta bekerja
Keimanan adalah alasan tuk bersama
Iman yang menghadirkan cinta, sehingga cinta dapat menumbuhkannya lebih tinggi dan tinggi lagi
Sehingga syurga dunia terasa hingga sejarah bercerita

Ah, kembali terbawa suasana.Kembali terbayang didepan mata bagaimana seorang gadis belia yang melindungi tua renta yang tidak lain adalah suaminya tercinta bahkan dengan taruhan  nayawa.Adakah Nailah Nailah zaman sekarang? yang karena iman ia mencintai sehingga kerja kerja cinta sangat nyata dinaluri.
Jika takdirmu dikatakan sepertinya, lakukanlah kerja kerja cinta dan ukirlah sejarah dalam kisahmu sendiri sehingga mengalahkan dongeng putri raja dan pangeran berkuda yang disuguhi tuk menemani tidur sang buah hati ^^

  • view 206