Ini Aku, Bukan Diamu

Qurrota A'yuni
Karya Qurrota A'yuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juli 2016
Ini Aku, Bukan Diamu

Perkenalan kita mendewasa kala itu, bangku diskusi adalah alur cerita.Narasi menyekat kita tuk saling bercengkrama hingga tatap mata kita bertemu dan saling menyapa.Mungkin setan melihatnya dan mulai membuat atraksi gila.

Namanya Reza, Mahasiswa sastra yang pandai berkata dan berpolemik dengan mimik yang semakin membuatnya menarik. Aku dengan segala tentangku, Mahasisiwi kutu buku yang hanya tau teori yang perlu membukti namun disanalah aku merasakan duniaku menggali.

Semenjak pertemuan itu kita sering dipertemukan waktu, dalam ruang berbeda namun dengan rasa yang sama.Aku masih dengan segala ragu.Bahkan jatuh hati adalah hal yang ingin ku hindari.

Akankah aku jatuh di jurang yang sama (lagi) ?.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

5 thn yang lalu.

Bel masuk berdering gemerincing, membuat para cacing menggeliat menungging.Begitulah kondisi setiap kali bel masuk mulai berulah bermain waktu, setiap langkah kaki terhenti dan kembali menggantung pada tiang-tiang meja dan kursi.Dan aku terpaku disudut ruangan ini, tak bergerak kesana kemari sedari tadi karena kertas ditanganku menggangu dan mengusikku hingga aku seakan tak kenal waktu.

Pagi yang cerah, untuk hari yang cerah dan untuk hati yang marah.Pasalnya, dalam kolong mejaku terdapat surat merah jambu, bagaikan sinetron ala ala remaja ujarku melaju membuka buku.Entahlah siapa pengirimnya yang berujar bahwa ia penggemar rahasiaku,begini katanya “Lama tak bertemu, Aku Rindu “.Singkat, padat dan menarik, membuat rasa penasaranku tertarik.

Semenjak liburan beranjak memang selang itu aku tak bertemu dengan teman sekelasku karena aku merantau jauh ke tempat nenekku.Namun, adakah orang serindu itu padaku ? (aku mulai tersipu)

Bel tanda berakhirnya pelajaran berseru, langkah kaki berseteru berlomba-lomba menjauhi tempat mengabdinya para guru.

“Nay,pagi ini kau berangkat amat dini bukan ?” tanyaku menghampiri teman imutku satu ini, Nayla.

“ iyaiya..kenapa ?” sambarnya berbinar mata.

“ kau tahu, siapa orang pertama yang menghampiri kursiku ?” tanyaku ragu, malu jika ia mulai menelisik kaku.

“ iya, tau dong “ sahutnya.Aku lega. “ ..orang itu kamu “ sambungnya . Aku terdiam ternyata tak ada harap untukku mengetahuinya. “Kenapa ?”tanyanya.

“ Gapapa “ ujarku berlalu.

Sambil melambaikan tangan dan berujar terimakasih kuhindari introgasi yang akan panjang ceritanya nanti.Aku berjalan menghapus koridor demi koridor kelas yang ada, dengan membawa rasa penasaran itu disaku.

“ Ca,... “ panggilan itu menghentikan lamunanku.Kulirik dua sosok lelaki disana, Neldo dan Raya.

“ Eh, Ray... “ jawabku.” Ada apa ?”

“ Sombongnyaaa kau ni... “ ujarnya

“ eh engga gitu...” tepisku

“ Oleh olehnya mana ih ...” candanya

“ada maksud ternyata...” gertakku “ayo main ke rumah kalo mau “.

“ Yuhuuu ..” tatap matanya mengode ke arah Neldo.Tapi Neldo hanya membalasnya dengan senyum.

Raya adalah karibku dan Neldo adalahnya karibnya Raya.Aku tak mencurigai mereka berdua, karena kita berada dikelas yang berbeda.

“ Eh tunggu, tapi pliss kalian hanya boleh di depan pintu menunggu aku...apa kata ibu aku membawa laki-laki ke dalam rumah tanpa seorangpun teman perempuan yang ikut bertamu “ syaratku.

“oke deh..kebiasaan “ sahut Raya.

Kami bertiga mulai berjalan menelusuri jalan taman, Raya sedari tadi asik dengan game yang ada di layar Hpnya.Dan aku berusaha mencari topik dengan Neldo agar tiada hening diantara kita.Mulai dari kisah liburanku dan kisah-kisahnya, kita tenggelam dimakan waktu.Dibalik diamnya, ia orang yang seru.

Sampai di depan rumahku, mereka kubiarkan menunggu.Setelah Raya mendapatkan yang ia mau, entah sudah kemana lagi ia akan berburu.Dan kembali bayang-bayang kertas itu menghantuiku.

Sudah seminggu, kertas-kertas itu hadir dikisahku.Semakin hari semakin mengundang rasa ingin tahu.

Entah tanpa sadar kedekatanku dengan Neldo sudah diluar jalur cerita.2 bulan kedektan itu,Pasalnya aku dan dia menjalin kasih dan saling menyimpan rasa.Terkadang terbersit bahwa surat itu adalah darinya, namun ia adalah orang yang berani mengungkapkannya bahkan dihadap muka, seperti kemarin.Dan tanpa sadar, hubungan kita beranjak menjadi teman tapi mesra (masih dalam batasnya).

Ada yang membuatku janggal dalam cerita, pasalnya tiap kali kita bercerita, masa lalunya mendominasi narasi hingga aku tak berucap bergigi.Rasanya seperti sedang mendokrinku menjadi sosok dia, masa lalu itu.

“ ca..yang ini saja “ sahutnya sambil menunjuk baju ungu yang bertengger disana.Bagus memang namun tak enak kata diakhirnya “ persis sekali ...cantik”.Aku terdiam, aku mulai muak dengan segala rasa yang pernah bertahta.Aku tersenyum, terpaksa.

Hingga aku memutuskan berhenti menjalani, melihat ia yang semakin menjadi di setahun hubungan kedekatan kita belakangan ini.Memang, kertas-kertas itu tak lagi mengunjungi namun dialah sebenarnya penggemar rahasiaku belum juga ku pasti.

“Kau tahu, sekiranya pelarianmu adalah aku maka kuharap kau terus berlari karena mungkin aku adalah duri yang menacap dan menghentikan langkah kaki.Diamu mungkin menunggu dibatas mimpi atau didepan sana dia dia yang lain ada ditepi.Dan biarkan aku tetap aku, hingga nanti “

Ini aku, bukan diamu.Jika kau mencarinya dalam diriku bukan disini tempatnya, mungkin dimasa lalumu.Jika kau ingin diamu adalah aku, jangan harap aku adalah diamu yang dulu.Jika kau tak bisa menerima itu, silahkan pergi mencari boneka yang ingin kau namai sendiri.

Kisah kita berakhir, aku jatuh dalam jurang hitam yang kelam.Raya, karibku malah menjauh seakan menyesalkan aku yang merebut karibnya atau aku yang seakan membuangnya.

Namun, semenjak itu sudah tak lagi aku ingin mengotori pena dijari.

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Namun pasalnya tidak begitu, ia datang menghampiriku tanpa membawa masa lalu bahkan ia menjadikanku seorang yang hidup disepanjang masa-masa itu, Masa lalu, Masa kini dan Masa depan.Ternyata setan sedang cuti kala itu, sehingga takdir kita menyatu.Bagai tangan-tangan Tuhan yang menjalankan kita tuk bertemu.Dan tibalah saat ini, saat janji suci membuatku merinding ngeri.

Senyumku seakan sudah memiliki hak paten tersendiri, hingga tak lagi malu menatapnya kini.Pertemuan kita, tidak selang beberapa lama namun bermakna.Jika Rabbi telah berkata iya, maka semesta adalah milik kami berdua.Hingga rindu-rindu dalam do’a hadir dalam pesta ikut mengamini do’a kita.

“ ca....” Raya mengagetkanku

“ Rayaaa... “ hatiku sangat senang melihat karibku satu ini.

Namun, ia masih saja tertawa geli sambil menatap Reza, suamiku.

“ kenapa ih ?” sahutku penasaran

Reza tertunduk malu, alisku mengerut bertanya berseru.

“ kau tahu...” ucap Raya

“ apaaa ? “ aku mulai geregetan.

Reza menghalanginya bicara, namun aku meraja menatapnya penuh curiga.

“ surat surat dikolong mejamu dulu itu, milik suamimu... itu dari kak Reza, ca “ jelasnya, yang seakan meruntuhkan rasa penasaranku sedari dulu dan kado terindah bagiku.Aku bahagia tak bertitik, bahkan kata tak bisa ungkap semua rasa.

Reza adalah sepupu dari Raya, ia kakak tingkatku memang namun tak pernah hadir namanya dalam cerita.Raya yang meletakkan surat itu dimejaku, karena intruksinya.Walau semenjak kedekatanku dengan Neldo membatasinya.Namun cintanya terus mengalir dalam do’a hingga kini.

  • Terinspirasi dari kisah seorang teman yang sekarang telah menemukan syurga dan bahagianya ^^ (Namanya samaran, dikasih bumbu sedikit ^^)

  • view 216