asal usul gunung fatuleu

osniserlianti taklal
Karya osniserlianti taklal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
asal usul gunung fatuleu

              ***                                   ASAL USUL GUNUNG FATULEU

                Pada waktu itu belum ada batas tanah antara kedua kerajaan tersebut diatas yaitu Fatuleu dan Amfoang,dan perkembangan antara ekedua kerajaan itu belum berkembang banyak penduduk, sehingga dalam upaya masyarakat mencari hidup seperti berladang,mengambil hasil hutan, berburu mengambil madu dlakukan secara bebas.

                “Orang Amfoang biasa mengambil madu hingga dI Oelnunu L ili”selain berburu dan mengambil  madu, juga mengambil rempah rempah, kayu manis,gaharu kayu kuninguntuk kebutuhan orang-orang Portugis, Belanda dan orangThiongkok pada tahun 1700-an penduduk dan kedua kerajaan sudah bertambah banyak.

                Ketika di saat musim petang, lebah/madu juga bertepatan dengan musim persiapan lahan kering,ada tiga orang bersahabat dari Amfoang pergi memotong lebah/madu di Fatuleu-lili.disaat mereka kembali keAmfoang ketika mereka tiba disuatu tempat yang bernama Fatupanu, mereka melihat seorang petani yang sedang memotong belukar.

                “Ketiga orang Amfoang berhenti dan mengejek para petani itu dengan menggunakan bahasa Daerah  Orang yang mengejek tadi bernama” Niti sau nakmofa” katanya  Waaah.” waaah..waah..ehhh ko nai en ije teko-teko one mak bula, Bati mak bula uni nasaun natau mone,ejekan ini diulang hingga tiga kali dengan menggunakan kalimat yang sama.

                “Petani yang diajak itu adalah orang fatuleu yang bernama Siku Smaut, sedangkan tiga orang dari Amfoang yang mengejek tadi masing-masing bernama Niti sau Nakmofa,Bano masu,dan Bano koma/Tahanae”l. Artinya dari bahasa ejekan yang diungkapkan ketiga orang adalah “Dasar sarang lebah yang tidak bersengat, maka perut kita menjadi kumbang, tetapi seandainya lebah itu bersengat pasti kita makan tidak seperti ini.

                Ungkapan di atas bermaksud untuk memanas-manasi serta memutuskan waktu berperan antar suku sekaligus bermaksud untuk merebut wilayah kekuasaan kerajaan.Setelah ketiga pengejek itu   lewat maka turunlah suku smaut dari pohon putih dan bergegas menuju rumahnya untuk menceritakan peristiwa yang dialami kepada keluarganya.

                Kemudian suku smaut seorang sahabatnya yang bernama pato lopo lalu keduanya mulai mengatur posisi bagaimna cara untuk berperan melawan suku Amfoang,perang antara suku Amfoang dan Fatuleu pun tidak terhindar.Dengan pecahnya perang dunia. Dan mereka slaling berhati-hati dan saling menaruh curiga antara satu suku dengan suku lain,

                Jika warga kedua suku ini saling bertemu dan  maka langsung terjadi pertmpuran. Orang yang tewas dalam pertempuran ini biasanya kepala di penggal dan dibawa ke benteng pertahanan. Perang suku ini terjadi pada tahun 1000-an,setelah datang nya pemerintaHAN belanda, baru ada upaya membuat kesepakatn perdamaian antara dua suku tersbut.

                Kesempatan untuk Belanda untuk masuk dalam permasalahan kedua belah pihak melalui penjualan obat,dari situ pemerintah Belanda dapat mengetahui permasalan selanjutnya yang terjadi diantaranya kedua suku itu sekaligus mendapatkan jalan guna mengupayakan perdamaian antara keduanya,upaya perdamaian yang di prakarsai oleh pemerintahan Belanda ingin disambut dengan baik oleh kedua belah pihak.Setelah itu di tetapkan di netenbifekasi anakan(sekarang dikenal dengan nainakfatu dan masuk dalam wilayah Desa Tanini Kecamatan Takari).sebagai tempat perundingan perdamaian.

                Lalu mereka menyepakati tempat itu karena tempat itu berada diketinggian dan dapat memandang secara luas ke Amfoang, Pada waktu itu yang ditetapkan hadirlah raja Fatuleu Tusala Pitai dan raja Amfoang yang mewakili oleh fetor Lelogama , Ampupu Baluf, masing –masing berada dengan panglima dan rakyatnya sementara dari Pemerintahan Belanda diwakili oleh empat juru damai yaitu “Tuan Siso, Tuan Hoppy, Tuan Pello dan Tuan Ze’I yang dalam tuturan sejarah dikenal dengan sebutan Siso, Hoppy, Pello, dan zoll.

                Akhirnya dari ketiga orang amfoang tersebut datang dan memeinta maaf kepada orang Fatuleu itu, katanya.

                “Niti sau Nakmofa Selamat Pagi Bpak, sahut Suku Smaut selamat pagi juga,

                “suku smaut kenapa pagi-pagi lu su datang di Beta punya rumah”

                “jawab Niti sau Nakmofa dengan suara lemas,emmmmmm beta ada perlu sedikit dengan Bapak suku smaut,    lalu , ada perlu apa dengan beta jawab Niti sau Nakmofa, Beta datang di rumah untuk minta maaf di lu karena kemarin katong ba olok di hutan itu andia beta bwa diri datang supaya katong badame shu ko jangan pake badendam lai.lalu suku smaut menjawab Oke beta akan kasih maaf lu tapi dengan satu syarat lu harus bersumpah kalau lu snde akan ulang lagi, Niti sau nakmofa ia beta bersumpah ni beta snde akan buat lu lae sakit hati.akhirnya suku smaut dan Niti sau nakmofa berpelukan dan berciuman sambil menangis dan mulai dari itu mereka tidak ada masalah lagi karena sdah melakukan perdamaian.

Dari kesimpulan diatas maka petemuan perdamaian itu yang memimpin adalah “Tuan pello yang memulai acara dengan menawarkan lebih dahulu Raja Amfoang untuk menentukan tapal batas kerajaannya dengan kerajaan Fatuleu.menurut tuan raja Amfoang menunjuk Oelnunuh turun kekali Oesusu-Oelnunuh turun kekali Lili”.dan Raja Fatuleu menunjuk batas tanah dari kali Lili sampai di kaki gunung Fatuleu.dan semenjak dari itu maka raja amfoang dan raja fatuleu dan menuju ke gunung Fatuleu dan mereka membawa babi satu ekor dan beras 1 Karung sebagai tanda pengucapan syukur karena kedua belah  pihak sudah melakukan pembagian batas tanah .

                Setelah selasai makan bersama maka Raja Fatuleu mengajak Raja Amfoang untuk masuk kewilayah Fatuleu untuk menunjuk dari mana letak dan sampai dimana perbatasan gunungdan raja fatuleu mulai menceritakan asal usul gunung fatuleu dan akhirnya raja amfoang juga ingin mendengarkan cerita dari rajafatuleu. Fatuleu,menurut warga desa setempat sebagai tempat berdoa SUAN {Pemilik alam} da nada tiga gunung batu yaitu  Tuik Neno{Suan} Askau anah{Anak dari alam} dan Nua leu asu oko{Raja alam}.

 

                Puncak gunung Fatuleu disebut Tuik neno {Batu Tuhan} tempat ini dijadikan sebagai tempat berdoa ada yang datang untuk meminta kekuatan dari alam sehingga mereka percya kepada alam dan pada waktu itu juga ada raja sonbai biasa datang ke gunung untuk menggelar ritual adat dan memberi makan gunung batu yang ada disekitar ini berupa pemberian sesajian dibawah kaki gunung,

                Tetapi saat sekarang ini tidak ada penyembahan berhala diGunung Fatuleu kara para penjaga yang ada disekitar kakai gunung ini sudah melakukan ritual doa dan membunuh ternak sebagai doa pelepasan , dan mulai saat ini yang namanya ritual pemberian makan gunung batu Fatuleu sudah dihilangkan oleh masyarakat disekitar.setelah itu maka turunlah raja Amfoang dan raja Fatuleu lalu mereka berpisah dan masing-masing kembali kerumahnya.                 

                               

                 ***Fatuleu artinya Batu Keramat

  • view 87