Jingga

Oshima
Karya Oshima  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Maret 2017
Jingga

Aku selalu salah paham. Perjalanan seorang diri dan tak ada yang menyapa keseharian. Kasihan sekali diriku. Pernah suatu ketika seorang gadis dari jurusan lain sepertinya melambaikan tangan tepat ke arahku. Aku sangat senang. Seperti waktu terhenti sebentar, menikmati momen indah yang belum pernah ada. Sialnya, gadis bermata hitam itu terheran ketika ku juga ikut melambai. Aku sadar, ternyata dia melambai ke arah teman nya tepat dibelakangku. Ha? Aku cepat-cepat pergi dari sana dengan muka hampir pecah oleh darah yang naik ke kepala. Malu. Tepatnya tidak tau malu.

Hampir dua tahun aku merantau. Sama seperti orang-orang seusia ku. Mengejar impian demi masa depan yang cerah. Kuliah. Menginjak semester 4 lagi sibuk-sibuknya membuat mega proyek dari kegiatan kuliah. Bagai mengendarai motor tanpa helm di saat hujan deras. Mega proyek yang ku katakan adalah tugas kuliah yang tidak henti-hentinya menerpa wajah. Sakit memang, tapi demi masa depan yang cerah, aku terus menerobos jatuhan air hujan.

Gadis yang sama. Cerita berawal ketika aku duduk di taman kampus. Sambil menyalakan laptop untuk melanjutkan proyek. Tiba-tiba gadis itu duduk di meja yang sama denganku. Oh Indahnya. Aku tiba-tiba sulit sekali melihatnya. Untuk menegakkan wajah saja aku kaku sekali. Bagaimana jika dia tahu kalau aku orang yang kemarin buat malu. Bagaimana juga kalau teman nya kemarin juga datang dan melihat ku. Aku harus siap-siap kabur lagi untuk ke dua kalinya. Tapi, ketakutan itu terbantahkan ketika dia tiba-tiba memulai pembicaraan denganku.

"Anu, maaf aku boleh minta kertas. Aku tadi buru-buru ke kampus dan lupa kalau catatanku belum masuk ke dalam tas. Hehe" Gadis itu meminta dengan cara yang sangat sopan sekali.

Aku segera mengambil kertas dan memberinya dengan cepat. Aku tak sempat bersuara, hanya membalas dengan anggukan dan senyum. Gadis itu benar-benar membuat hati bergetar kuat. Padahal baru saja bertemu dua kali. Ah sudahlah, aku lanjut mengerjakan tugas.

"Maaf, perkenalkan namaku Syifa. Aku dari jurusan biologi. Terima kasih ya kertasnya" Sambil entah menulis apa dia memperkenalkan diri.

"Oh ya sama-sama, namaku Alfi dari jurusan industri" aku menjawab dengan kaku. Agak terkejut ketika dia memperkenalkan diri.

Kali ini aku benar-benar ingin pergi dari sana. Tidak kuat dengan suasana menyenangkan ini. Semakin lama dia disini semakin tidak fokus aku mengerjakan tugas. Aku kaku sekali. Bahkan untuk menggaruk kepala saja aku tidak bisa. Oh please, aku tidak tahu cara menghadapinya.

Keheningan terjadi. Perkenalan terjadi dengan singkat. Kami berdua sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Tak lama kemudian hari mulai beranjak senja. Langit juga ikut berubah menjadi jingga. Membuat sempurna sore ini. Tugas-tugasku hari ini dapat selesai dengan baik. Aku mulai beranjak dari tempat duduk dan membereskan sisa-sisa pekerjaan. Gadis itu sempat melihatku berkemas. Seketika aku memberi anggukan dan senyum perpisahan. Dia juga membalas anggukan itu menandakan kalau dia paham apa yang kumaksud. Sepertinya gadis itu dari tadi juga kaku sama sepertiku. Membuat keheningan yang sangat dalam setelah perkenalan yang singkat.

Aku benar-benar tidak tahu kalau ada sesuatu yang ingin diucapkannya pada saat aku meninggalkan meja. Dia sempat hampir membuka mulut untuk berkata. Tapi apa daya, saat itu aku tidak sadar dan telah melangkah jauh darinya.

---

Pertemuan ketiga. Di tempat yang sama. Tiba-tiba gadis itu datang lagi ke meja ku. Padahal meja lain masih banyak yang kosong sekitar taman. Aku sungguh terkejut. Sepertinya kehangatan sore ini berubah menjadi super dingin dan aku benar-benar beku dibuatnya. Tak bisa bergerak.

"Maaf, eh. Aku boleh duduk disini?"  gadis itu ragu-ragu bertanya.

"Oh iya, silakan" aku menjawab sesopan mungkin agar tidak terlihat gugup di depannya.

Oh tolong aku. Dia membalas dengan senyuman. Gadis itu terlihat manis sekali. Pakaiannya terlihat sangat cocok dengan baju warna biru dan menggunakan rok hitam.  Awalnya aku mengira akan menjadi beku dengan suasana ini, tapi itu perkiraan yang salah. Aku meleleh. Sore ini menjadi hangat sekali. Sepertinya aku harus berlaku sebaik mungkin di depan nya.

Siapa sangka. Sore ini tidak sehangat yang kupikirkan. Tidak ada kata-kata yang kami ucapkan lagi setelah itu. Beberapa lama hingga sore pun hampir usai. Aku pun tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan. Dan sepertinya dia juga sedang sibuk menulis. Mungkin saja dia fokus dengan tugas-tugas. Aku yang terlalu mengaharap. Emang aku siapa. Haha. Baru bertemu tiga kali dan itu tidak ada percakapan berarti.

Sore pun habis. Aku mulai membereskan meja dan hendak pulang. Ketika aku berdiri sesuatu yang langka terjadi. Perempuan itu menatapku seperti hendak meminta menunggu nya sebentar. Dia tidak sempat bicara, tapi tangannya mengisyratkan untuk menunggu.

"Maaf ada apa?" aku bertanya dengan rasa penasaran yang kuat sekali.

"Aku mohon kamu terima ini" dia memberikan amplop polos berawarna biru. Gadis itu terburu-buru memberikannya kepadaku.

Setelah kuterima. Gadis itu langsung bergegas menjauh dari taman. Aku yang masih memegang amplop itu seperti menjadi patung. Melihat dia kabur begitu saja. Hembusan angin membuat ku merasa seperti melayang. Ada apa dengan amplop ini. Apa jangan-jangan dari tadi dia menulis surat yang ada di dalam amplop ini. Kenapa aku tidak memperhatikan dari tadi. Ah sial. Aku bingung. Ada apa dengan isi surat ini. Membukanya saja membuat arwah ku melayang jauh sekali. Mengikuti hembusan angin bersama guguran daun. 

Sepertinya aku tidak bisa membuka surat ini.

 

  • view 87