Saya yakin, saya bisa!

Dina Nur Fajriani
Karya Dina Nur Fajriani Kategori Motivasi
dipublikasikan 31 Januari 2016
Saya yakin, saya bisa!

Saya adalah seorang gadis yang mempunyai cita-cita menjadi seorang akuntan. Cita-cita itu melekat sejak saya masih duduk di bangku SMP. Dengan nilai UAN yang tinggi, hampir semua teman saya di kelas memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMA favorit. Dan di antara kelima sahabat saya, hanya saya yang masih harus berjuang untuk mengikuti testing di SMK. Saya sangat berminat untuk masuk ke SMK dan belajar di jurusan Akuntansi. Sampai kuliah pun, saya tetap konsisten untuk belajar Akuntansi. Hingga saya bekerja, ilmu yang saya dapatkan sesuai dengan pekerjaan saya.

Namun ketika sudah tidak lagi menjadi pelajar dan bekerja pada suatu perusahaan, ada banyak ilmu yang tidak saya dapatkan ketika saya belajar di sekolah maupun kampus, yaitu ilmu kehidupan. Bahwa tidak semua orang yang pintar di sekolah, adalah pekerja yang baik. Kepintaran bukanlah modal yang cukup untuk bekerja, karena modal utama seorang pekerja adalah etika dan kedisiplinan. Sepintar apapun seseorang, tanpa etika akan menjadi tidak berguna.

Selain itu, ilmu kehidupan yang saya pelajari adalah menikmati proses, ikhlas, sabar,dan selalu bersyukur. Awalnya saya bukanlah siapa-siapa di tempat saya bekerja. Bahkan ada seseorang yang berkata kepada saya, "Jika kamu sudah mengerti Tingkat Kesehatan Bank, maka kamu sudah mengerti perbankan secara keseluruhan. Dan kamu tidak akan bisa sampai ke sana." Sampai saya pun berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Namun saya tetap bertahan, saya menikmati setiap prosesnya. Karena proses itu sangat mahal. Dan dari setiap kekecewaan yang saya dapatkan di kantor, saya jadikan motivasi bahwa saya bisa. Saat itu saya merubah pemikiran saya. Bahwa saya tidak sedang bekerja untuk dibayar, tapi saya berpikir bahwa saya sedang belajar dan dibayar, karena saat itu pun saya bekerja sambil kuliah.

Sampai saat ini, saya telah melewati proses yang tidak mudah. Untuk memahami dunia perbankan, saya menganalisa permasalahan-permasalahan perbankan dengan browsing, banyak membaca dan bertanya kepada ahlinya. Setiap masalah yang saya hadapi, adalah penguat perjuangan saya. Dan Tuhan mengabulkan doa saya, walaupun saya banyak mengeluh dan merasa lelah. Karena kadang saya berpikir, di usia saya yang masih berkepala dua, saya ditempatkan dalam posisi serumit ini. Saya harus menyelesaikan segala permasalahan kantor. Saya tidak hanya sekedar bekerja, tapi harus mempertanggungjawabkan pekerjaan saya.

Namun, tidak ada perjuangan dan doa yang sia-sia. Setidaknya saat ini, nama saya terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan sebagai pejabat eksekutif pada suatu Bank Perkreditan Rakyat. Saya dipercaya untuk melaksanakan fungsi pengawasan internal, fungsi manajemen risiko dan fungsi kepatuhan. Saya bersyukur, karena saya telah mengerti Tingkat Kesehatan Bank itu seperti apa dan bagaimana mengatasi setiap permasalahan perbankan, terutama BPR.

Di kantor, tidak jarang saya berbeda pendapat dengan yang lainnya. Karena tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Saya menyadari bahwa saya adalah makhluk sosial dan saya tidak akan bisa memaksa orang lain untuk bisa memiliki pendapat yang sama dengan saya. Dan saya selalu mengingat peribahasa Sunda yang tertulis di dinding ruang rapat Manggala gedung Bank Indonesia Bandung yakni "Sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan," yang artinya adalah selalu bersama-sama tak pernah bertengkar karena berbeda pendapat, rukun dan saling menghargai. Saya sadar, kalau ego saya masih tinggi. Namun saya harus bisa mengendalikan ego, berpikir lebih dewasa, bersikap lebih adil dan selalu sadar diri.

Saya selalu berusaha untuk merubah keresahan dan kekecewaan menjadi sebuah motivasi diri. Dan selalu yakin kalau saya bisa. Tapi dari apa yang saya dapatkan, saya tetaplah makhluk Tuhan. Apa yang saya miliki hanyalah titipan, karena pada hakikatnya semua adalah milik Tuhan.