KurinduITD - Stop Diskriminasi untuk Indonesia yang Lebih Baik

Uswatun Hasanah
Karya Uswatun Hasanah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 November 2016
KurinduITD - Stop Diskriminasi untuk Indonesia yang Lebih Baik

'Lakukanlah mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan lakukanlah mulai sekarang' 

Berbicara tentang diskriminasi seolah tak kan pernah habis di negeriku Indonesia. Diskriminasi masih menjadi isu yang luar biasa sebagai alasan yang membenarkan adanya konflik di sana-sini. Diskriminasi ini menjadikan intoleransi, yang akhirnya berubah menjadi konflik. Inilah yang masih menjadi persoalan di Indonesia.  Menurut Denny JA dalam bukunya "Indonesia Tanpa Diskriminasi", terdapat beberapa bentuk diskriminasi di Indonesia, seperti Diskriminasi Agama: antara penganut agama berbeda, Diskriminasi Agama: antara sesama penganut agama, Diskriminasi Etnis, Diskriminasi Perempuan, dan Diskriminasi LGBT.

Lalu apa itu diskriminasi? Taukah kau apa diskriminasi itu? Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain.

Bisa kita garisbawahi, bahwa ternyata manusia cenderung membeda-bedakan yang lain. Yaa, dalam hidup ini tentunya kita amat mudah menjumpai perbedaan. Sebagai contoh, ada siang ada malam,  ada kenyang ada lapar, ada perempuan ada laki-laki, ada luang ada sempit, ada tua ada muda, ada sehat ada sakit, ada kaya ada miskin, ada hidup ada mati, dan sebagainya. Ketika kita bertanya, akankah perbedaan ini disamakan? Hei, tunggu bahkan kata 'persamaan' dan 'perbedaan' adalah suatu antonim. Lantas, apakah yang berbeda ini pasti selalu antonim? Hmm, bisa jadi. Artinya bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Semua di dunia ini relatif. Relatif menurut siapa? Menurut persepi akal manusia yang terbatas menghadapi dunia yang sungguh tak terbatas ini. Eits, kembali ke persoalan apakah perbedaan itu bisa disamakan? Kita buat permisalan, apakah siang itu bisa disamakan dengan malam? Apakah kenyang bisa disamakan dengan lapar? Apakah perempuan bisa disamakan dengan laki-laki? Apakah tua bisa disamakan dengan muda, Apakah sehat bisa disamakan dengan sakit? Apakah kaya bisa disamakan dengan miskin? Apakah hidup bisa disamakan dengan mati? Mari nurani kita jawab masing-masing.

Menyoal pada apakah Indonesia mungkin menjadi negara tanpa diskriminasi? Pertanyaan ini menurut saya hampir sama dengan pertanyaan 'apakah bisa kita mengubah dunia'? atau 'dapatkah kita mengubah dunia'?  Hmm, mari camkan.  Apa yang mau kita ubah dari dunia? Apakah kita mau mengubah warna dunia? Warna pohon mau kita ubah dari yang warnanya hijau menjadi biru, kuning, merah, atau menjadi warna kesukaan kita? Atau apakah kita mau mengubah lautan menjadi daratan? Dan mengubah daratan menjadi lautan? Atau mau mengubah banjir menjadi tidak banjir dengan sekali sim salabim? Mari kita renungkan.  Makna mengubah dunia menurut saya adalah mampu menggerakkan orang lain untuk sama-sama menyetujui apa mau kita, untuk sama-sama menuruti yang kita inginkan, untuk sama-sama berkolaborasi untuk kepentingan yang lebih baik. Maka tak lain adalah mengubah dunia adalah mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik demi kepentingan yang lebih besar. Sebagaimana yang kita lihat, banyak sekali organisasi atau komunitas pemuda yang bertujuan untuk membantu masyarakat luas, berfokus pada kegiatan probono atau volunteer, dan tentunya organisasi atau komunitas itu terdiri dari banyak orang yang berbeda. Lalu, mengapa mereka bisa bersatu dalam komunitas atau organisasi tersebut? Karena mereka memiliki tujuan yang sama. Seorang inisiator, founder, atau siapalah yang memulai suatu organisasi atau komunitas berhasil mengajak orang-orang untuk turut serta berbuat kebaikan melalui platform yang ia inisiasi. Mengajak kebaikan merupakan salah satu dari cara orang mengubah dunia, -mempengaruhi orang lain-.

Kembali pada menjadikan Indonesia tanpa diskriminasi. Sebenarnya mau kita jadikan apa Indonesia ini? Indonesia hanyalah sebuah negara, ia bukan manusia yang memiliki perasaaan. Kita mau mengubah indonesia tanpa diskriminasi? yang artinya adalah kita ingin menjadikan indonesia tanpa membeda-bedakan yang lain? Mungkin yang kita maksud bukan negara Indonesianya, tapi manusia Indonesianya.  Bagaimana mengajak manusia Indonesia untuk tidak berperilaku membeda-bedakan yang lain? Bagaimana mengajak manusia untuk memandang sama manusia lain? Bukankah 'semua manusia itu sama di mata Allah? yang membedakan hanyalah taqwa kepada-Nya? Lalu, jika semua manusia itu sama di sisi Sang Pencipta-Nya, lantas mengapa kita membeda-bedakan perlakuan kita kepada sesama kita? Mari kita sama-sama belajar bagaimana memanusiakan manusia. 

Dan apa maksud dari sebaris kalimat pada awal tulisan ini? Mulai dari diri sendiri? Apa yang kita mulai dari diri sendiri? Marilah kita berdamai dengan diri sendiri. Allah menciptakan kita dengan segala kelebihan kita, maka kita harus bersyukur karenanya. Allah pula menciptakan kita dengan segala kelemahan kita, dan kita juga harus bersyukur karenanya. Serta marilah kita mulai mengingatkan diri sendiri untuk senantiasa berbuat baik. Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, berbuat baik kepada Ibu Bapak (orang tua), karib kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Marilah kita senantiasa berbuat baik tanpa memandang agama, suku, ras, dan apapun. Bukankah tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik? Kita pun diminta untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan. Diri ini rendah di mata Allah, diri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah. Lalu pantaskah kita merendahkan, meremehkan orang lain hanya karena dia berbeda? Lalu pantaskah kita berbuat sewenang-wenang kepada mereka? Memangnya siapa kita. Boleh jadi kita merasa berkuasa, tapi Allah yang paling dan lebih berkuasa atas diri kita. Mulailah kita 'listen' dengan 'silent' bukan langsung cuap-cuap tanpa mengerti apa maksud dari perkataan orang lain. Mulailah dari diri kita sendiri untuk mengajak orang-orang di sekitar kita untuk bersikap toleran, bahwa berbeda itu bukanlah suatu hal yang buruk, bahwa berbeda itu tak membatasi kita dalam pergaulan, bahwa berbeda itu indah seindah warna-warni yang telah Allah ciptakan. 

Mulai dari hal kecil? Marilah kita bersama-sama belajar dan terus belajar tentang keragaman, belajar untuk sama-sama menghargai perbedaan, belajar mendengarkan, belajar menyuarakan pendapat kita ke teman kita dengan baik bukan dengan arogansi, belajar untuk tidak menyulut konflik, serta belajar untuk travelling mungkin (hehehe), karena ada yang bilang, bahwa dengan kita sering melakukan travelling, kita menjadi lebih toleran. Hal ini patut dicoba nih, saya pun ingin travelling terus, terutama kalau ada duit, hehehe. Yuk travelling ke luar negeri, luar benua, luar angkasa, #eeh, hehehe

Mulai dari sekarang? Yaa, mengajak berbuat kebaikan hendaknya dimulai dari sekarang. Suarakan pendapat baik kita. Mengajak tidak hanya dilakukan melalui pertemuan langsung, bahkan dengan menulis pun sudah merupakan suatu ajakan. Dan tentu saja, ajakan yang baik harus dilakukan dengan baik pula, bukan dengan anarkhis dan pemaksaan. Ajakan yang baik disertai pula dengan kesabaran, yang artinya ajakan ini tidak lantas berhenti ketika kita sudah sekali mengajak orang lain untuk tidak membeda-bedakan orang lain. Tapi secara kontinu alias istiqomah, guys.  

Indonesia tidak lain adalah sebuah organisasi yang buuuesaaar yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Penduduk Indonesia berbagai macam, dan tidak mungkin kita memaksakan mereka semua harus tunduk apa mau pemerintah, tidak mungkin bisa disamakan, karena memang jelas berbeda. Karena itu muncullah istilah 'Bhinneka Tunggal Ika', berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Meski berbeda-beda, tapi kita adalah satu. Kita adalah bangsa Indonesia. Marilah kita bersatu untuk kemajuan Indonesia. Persatuan dan Kesatuan Indonesia. Indonesia milik kita bersama.

 

15 November 2016 pukul 12.34 waktu indonesia menurut layar terpaku saya.

Uswatun Hasanah (Anna)

Young Interfaith Peacemaker Community

  • view 234