DO WHAT I WANNA DO !

Oprizalovic Lasaip
Karya Oprizalovic Lasaip Kategori Renungan
dipublikasikan 23 Februari 2017
DO WHAT I WANNA DO !

Aku tak ingin lagi menulis dalam diamnya gerimis yang menghantarkan cahaya-cahaya lintas-lalu sambil menggenggam bara sisa. Dangkal dan merasakan sia-sia sisa semunya suasana sekawanan sorban para penziarah. makam. komoditi utama dari kesia-siaan ketidakmampuan kegundahan keruh, bak air yang menghitam akibat jamur serta endapan borok, legam, tanpa sisa-sisa.

Aku tak ingin menulis tentang tak pernah jatuh cinta, maupun mencongkel bola matamu akibat pandang remeh, alih-alih menyatakan secara terbuka bahwa aku orang konyol yang mempercayai kegundahan sebagai perasaan yang kuat untuk menghidangkan puja-puji di meja makan. aku ingin. masih ingin...

Aku tak ingin menulis kegembiraan yang sebentar itu, yang membuat matamu berair, mulutmu nganga, menertawakan kekonyolan kita bersama, seolah itu adalah obat yang sebenar-benar obat, penyembuh dari rasa duka kehilangan yang sial. ingin juga aku terkadang membicarakan denganmu tentang warna duka, sesekali saja, tak usah sering memperhatikan dirimu dan kegundahan lagi. gundah kau gantikan sajalah dengan  tawa-tawa konyol tak tertahan-tahan, lepas dan bebas dari pandangan mata-mata iri. mereka hanya iri, sebab tak setiap orang mampu tertawa-tawa dalam situasi apapun, sebab tak setiap orang harus paham alasan orang yang mengganyang dukanya dengan tawa, sebab hanya setiap dari tiap-tiap orang yang tahu bahwa tiap-tiap dari kita adalah tawa yang menyembunyikan keadaan sebenar-benar yang kita pahami secara jujur dan apa-adanya. 

Aku tengah lengah ingin rasanya menyerah saja pada kelegaan luar biasa akibat usaha kerja keras yang tak lagi memberi hasil royalti, penghargaan, nghakiman, pencemaran nama, sebab aku ingin seburuk-buruknya kehidupan, pun kau tetap dalam pemahamanmu. aku melihat dengan mataku. silahkan kau menilai dunia.

Aku ingin berselonjoran di tebing dekat pucak gunung. sendiri, takm usah mempermasalahkan siapa dan untuk apa, sedang apa, serta pertentangan centang-perenang dalam kepala-kepala berkawan yang selalu menakar kebaikan dengan tingkah laku seorang penjagal. Sedangka aku tahu, sebenar-benarnya hidup adalah sendiri. 

Aku ingin sendiri, bukan sendirian. Sebab aku tak terikat apapun, tak berusaha melekatkan diriku padamu, padanya, pada mereka, aku melakukan apa yang aku suka.

  • view 141

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Terlepas dari kesalahan teknis, seperti tidak memulai dengan huruf besar pada awal kalimat, pilihan kami kali ini agak beda dari biasanya. Kami menyebutnya sebagai tulisan yang bebas kreatif. Bebas sebab karya ini pada dasarnya hanya ingin menuangkan uneg-uneg di dalam hati dan kepala. Ia berantakan dalam arti tidak merujuk pada satu cerita khusus, layaknya penggalan dalam novel atau cerita pendek.

    Tetapi yang membuat curahan hati ini sangat layak dibaca adalah totalitas si penulis dalam mengutarakan apa pun yang membuncah di dalam hati menggunakan pilihan kata yang tajam dan tepat. Hasilnya? Silahkan larut dalam apa pun gejolak perubahan suasana hati yang dialami oleh si kreator. Keren sekali, Oprizalovic Lasaip!

  • Dinan 
    Dinan 
    6 bulan yang lalu.
    Manis, asem, asin rame rasanya... hehe.