Lolongan Bisu

Oprizalovic Lasaip
Karya Oprizalovic Lasaip Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Lolongan Bisu

 

Ia berteriak. Suaranya auman serigala yang rakus minta tumbal pada malam purnama penuh lolongan. Seakan mengajak semua yang ada untuk memangsa apa saja yang nampak. Rakus ia mencakar langit, seakan semesta dibuat terlalu mudah untuk digapai. Ia tak peduli.

Sekiranya begitu, menurut saya.

Ia biasa muncul pada bulan-bulan penuh –tapi siapa? Lalu hilang bersamaan terbitnya permintaan cahaya di ufuk timur. Saya menyadarinya sejak lama.

Setidaknya menurut saya itu nyata.

Persoalannya adalah bahwa tidak semua orang yang saya temui mengakui, bahwa mereka tahu, juga mereka pernah menyaksikan. Namun, mereka lebih memilih diam tanpa berusaha mencari tahu.

Eh, kau itu dikasih tau tidak mendengar,Itu tabu, tabu berarti dilarang, kualat kalau dilanggar...” ucap pacar saya. Saat itu tengah berpusing di suasana jalan malam minggu.

Ah, apa itu tabu. Itu hanya pemikiran kolektif yang berusaha menakar kejadian yang bersifat fisik dengan penggambaran imaji. Coba, belum ada yang pernah melihatnya atau menamakannya apa saja. Mereka terlalu takluk pada ilustrasi mitos. Itulah,cerita untuk menakuti anak kecil

Jangan, kata bapakku nanti kualat. Beberapa orang pernah hilang. Itu sungg... aah!”

Sekelebat bayangan mobil melaju hampir saja mendamprat kami. Saya sigap membanting setir berkelit menghindari tabrakan. Sekejap mata , saya merasa panik namun dengan spontan berhasil terhindar. Namun kontrol saya tak mampu menghindari kecepatan motor yang tiba-tiba muncul dari belakang mobil itu. Tabrakan menghempaskan kami...

Hei... hei! Jangan melamun kau

Saya terjaga dari lamunan. Pacar saya masih juga berkicau tentang belanjaan yang baru dibelinya. Saya mengiyakan saja. Masih juga saya membayangkan beberapa hal yang tak masuk akal.

Sekarang bulan purnama.

Suasana kota di tengah malam tetap saja selalu ramai. Saya berusaha membaca setiap muka yang kebetulan berpapasan, sambil sesekali menyambung omongan belanjaan pacar saya. Saya memperhatikan setiap laju selintas kendaraan yang berpapasan dengan wajah-wajah keramaian yang beragam. Sesuatu yang lebih mirip garis cahaya. Dalam kecepatan yang romantis tentu bisa luput, namun ada yang tergambarkan disana. Ilusi. Mungkin.

Motor yang kami tumpangi melaju menjauhi kota. Niat saya mengantarkan pacar saya pulang. Kami memasuki daerah perumahan yang sepi, jalan menuju rumahnya. Kiri kanan jalan ditumbuhi tembok-tembok yang mengapit bulan. Lorong ini makin diam. Hanya suara motor kami yang membelah sunyi. Sepi begini, selalu sedia menyuguhkan rasa resah.

Tiba-tiba saja ada yang menggonggong panjang. Saya sempat kaget. Bulan purnama perlahan menyingkirkan diri ke balik awan tipis. Cahayanya kian pudar. Pacar saya mengeratkan pelukannya. Degup jantungnya memburu.

“Kau tahu sayang, disini pernah saya sekali dihadang oleh beberapa ekor anjing. Saat itu saya sendirian. Saya bunyikan klakson, tambah sedikit kecepatan motor, beranikan diri  melewati anjing itu. Eh, malah anjing itu menyingkir kearah saya belok. Saya rem saja motornya. Saya sampai jatuh. Ini masih ada bekasnya di lutut kiri”

Kenapa baru cerita? “

Tidak tahu

Lantas, anjingnya bagaimana?”

Yah, tertabrak. Eh,eh, ternyata anak anjing. Untung Cuma anak anjing. Eh ,ya, sebelum belok ke rumah kita ke arah sana dulu”, sambil menunjuk ke arah kiri.

Bukannya ini sudah larut? Nanti bapakmu marah sama saya

Tidak apa-apa. Kau juga terlalu lebay macam bapak saja. Sudah, Sebentar saja , tidak lama. Saya mau ambil sesuatu

Saya ingin bertanya lagi, tapi kalau dipikir lebih baik ikuti saja maunya. Wanita suka didengarkan dan diikuti maunya, saya tak keberatan. Lebih baik menghindari pertengkaran yang konyol.

Kami menyusuri jalan arah kiri. Kian lama tembok tinggi berganti bangunan rumah kayu yang semakin berjarak. Di setiap jarak diisi oleh belukar-belukar liar yang tumbuh hingga menutupi tepi jalan.

Akhirnya motor berhenti di sebuah toko yang hampir tutup. Pemiliknya tengah memasukkan beberapa bilah papan lagi untuk menyumpal mulut jendela toko. Kami berhenti di seberang jalan.

 Saya melihat ibu pemilik toko tersenyum lebar, tangkas menyelesaikan bilah papan tutupan terakhir , kemudian membukakan pintu di samping jendela tadi. Toko tersebut nampaknya satu bangun dengan rumah pemiliknya. Berdinding papan-papan yang dipaku apit  sangat rapi; atapnya menikam malam.

 Pacar saya memberi gerak seolah meminta menunggu sebentar. Saya hanya menatap sejurus lalu mengiyakan, lalu terbenam dalam diam.

Sembari tetap duduk menunggu di atas motor, saya mendongak ke arah langit. Purnama diselubungi awan yang kian pekat, hingga menyisakan tatapan mengintai yang penuh waspada. Angin malam berhembus di tengkuk; bebunyian dedaunan pohon yang digerakkan angin  tak jauh berada di sisi depan saya. Hawa dingin kian menusuk. Saya melirik jam ,

 “Sudah limabelas menit...”,

Lalu tiba-tiba terbersit rasa cemas di dalam benak saya. Lolongan anjing yang tiba-tiba membuat saya tersentak kaget.

Serasa kian jauh lolongan itu, namun pula terasa mencegat pandangan. Ada gerak diantara rerimbunan belukar di balik pohon. Saya menatap lama, gerakan kasak-kusuk itu terhenti.

Mungkin pikiran saya saja” , saya membatin, menguatkan diri.

Saya mengedarkan pandang mencoba mengalihkan perhatian, namun suara kasak-kusuk dari balik semak menyita rasa penasaran saya lagi.

Apalagi ini, sialan!”

Saya turun dari motor, memberanikan diri untuk mencari tahu. Perlahan dengan langkah ragu saya mendekat ke arah pohon besar dengan akar yang mencuat dari balik rerimbunan daun. Saya mengatur nafas yang memburu, degup jantung kian cepat. Saya tak punya piliha selain mencari tahu.

Sudah agak dekat dengan rerimbunan semak tersebut ,gerakan kasak-kusuk mereda. Saya menenangkan diri. Menghela nafas panjang dari dada yang naik turun , jantung degup tak beraturan. Saya pungut beberapa batu kecil sekedar coba-coba melempari semak tersebut alih-alih memastikan rasa ingin tahu saja. Sambil bersiaga terhadap semua kemungkinan buruk, saya lemparkan batu cukup pelan dan langsung berbalik lari tunggang-langgang ke arah motor saya. Sekilas saya mendengar bunyi dedaunan semak yang terkena lemparan. Setelah mengambil jarak yang cukup, saya balik melihat ke arah lemparan saya sambil menekan dada saya yang kehabisan udara. Sesak. Ini belum berakhir. Tapi...

Aneh. Tak ada yang muncul

Berbekal batu-batu kecil tadi, sekali,dua kali lemparan ke arah yang sama, namun tak memunculkan apa-apa selain bunyi semak yang ditimpa batu saja.

Saya yang terlalu takut. Ah, tak ada apa-apa ternyata

Saya terduduk di aspal jalan ; masih memegangi dada saya yang naik turun dengan tangan kanan, tersenyum menyadari keteledoran saya.

Pintu toko tadi terbuka. Pacar saya terlihat bertukar tawa dengan ibu pemilik toko. Ia melambaikan tangan dan terlihat tangan satunya lagi memegang sebuah bingkisan.  Ibu pemilik toko melihat ragu ke arah saya, sejurus kemudian ia menghilang di balik daun pintu.

Ini lihat , jahitan baju saya untuk pesta besok sudah kelar. Eh , kenapa kau duduk di aspal jalan? Berkeringat juga? Habis dikejar anjing?”, ungkap pacar saya sumringah.

Saya hanya menjawab dengan tawa. Pacar saya terlihat bingung, namun melanjutkan ,

Eh, cepat sudah pulang kita, bapak nanti marah sama kamu. Masa tengah malam begini anaknya belum dikembalikan?”

Wah, kan tadi kau...”

Sudah, nanti di jalan saja bicaranya. Ayo kita jalan. Aduh , habis sudah saya dimarahi sama bapak. Kau juga ah...”

Ha...!?”

Ha, hi, hu... ayo cepat!”

Saya lagi-lagi mengambil nafas panjang. Rahang saya mengeras ; ada batu di tangan saya. Angin mendengus bau sedap malam. Dedaunan pepohonan bergemerisik . Purnama mendelik pada saya. Saya berdiri cepat, dan melesatkan batu terakhir dari tangan saya ke arah jauh; masuk lebih dalam ke rerimbunan belukar tadi.

Saya bergegas memutar balik motor, dan berlalu bersama ocehan sinis pacar saya –yang seakan hidupnya akan berakhir di tengah malam.

Disebabkan awan yang kelabu, cahaya purnama terbiaskan oleh gelap. Samar-samar, dari balik rerimbunan belukar yang jauh, di bawah pohon berakar gantung saya mendengar suara riuh seperti lolongan serigala –atau anjing?- yang menangis.   

 

 

 

  

  • view 221