Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 31 Juli 2016   12:15 WIB
Sepetak Gelisah

Jika  kau lihat dan merasai panorama seperempat jam terakhir dari senjakala, mungkin saja ada beberapa perihal persoalan yang terjawabkan. Cobalah sesekali, namun, jangan datang beramai-ramai. Cukup seorang diri, kantongi bibit-bibit gelisah.  Kau boleh sebar ke arah cakrawala hingga suatu saat bibit-bibit itu mencapai tumbuhnya yang cukup  untuk disemai rasa perenungan yang dalam. Gelisah tentu saja semakin banyak dan bertumbuh, juga diri ini. Tak selamanya kita akan menjadi penggelisah yang hanya menabur angan-angan. Adakalanya gelisah memberi pelajaran yang baik untuk menggapai hidup yang lebih hidup.

Begitu jua saya biasanya. Kira-kira pukul lima sore, sering mampir mengunjungi sepetak tanah di senjakala. Sekedar menyirami tunas-tunas gelisah yang mulai bertumbuh. Sepetak tanah yang saya punya memang terlalu kerdil untuk menampung segala jenis bibit gelisah, namun itu lebih dari cukup. Menikmati saat-saat bertumbuhnya tanaman itu, merawat dan membesarkan adalah hal yang sedikit banyak mengasah kepekaan hati , bahkan mampu membuat mawas diri. 

 

 

Gelisah memang ada disetiap kita yang hidup. Gelisah dapat memberi seseorang ketentraman, namun di saat yang sama mengoyak hati.

Banyak cara orang-orang membiakkan gelisah. Ada yang menumbuhkan kata-kata, ada yang membuahkan bentuk geomertis, ada bahkan yang menciptakan aliran kepercayaan. Gelisah memiliki pesonanya sendiri. Seringkali mereka yang tak menyadari potensi gelisah itu, justru membuat hidupnya sia-sia. Ia mencari segelintir kesenangan guna membunuh gelisah. tentu saja tak semudah itu membunuh tanaman ini. Semakin berusaha dilupakan ia malah bermetamorfosa menjadi dengki. Ini sungguh bahaya. Dengki tumbuh perlahan bersama gelisah. Tinggal tunggu waktu hingga akar-akarnya tumbuh menjerat sekujur tubuh.

Memang berbahaya. Namun bagi saya tak ada yang lebih berbahaya selain membuat hidup tak berarti. Saya membudidayakan gelisah bukan tanpa alasan. Saya berharap beberapa penggelisah yang dengki mungkin mampir tak sengaja di sepetak tanah saya. Melihat bunga-bunga yang eksotis yang mekar bersama senja. Boleh jadi mereka akan melamun seperti saya ini, yang tengah berupaya mengerti diri sendiri. Boleh pula mereka memetik beberapa kuntum bunga untuk dipajang di ruang hati mereka. 

Sebab saya hanya membiakkan gelisah. Bukan dengan alasan saya sebagai penggelisah. Bukan. Ini hanya penebusan saja.

Karya : Oprizalovic Lasaip