Berhenti Bicara

Oprizalovic Lasaip
Karya Oprizalovic Lasaip Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juli 2016
Berhenti Bicara

Saya diam saja. Hanya diam. Sesekali membelai rambutmu yang tergerai oleh hembusan angin laut.  Kami duduk di bawah pohon di tepi terjauh tebing di ujung terjauh teluk. Dibawah tebing curam suara deburan ombak menyapu dasar tebing berbatu-batu. Terdengar pula bebatuan rapuh jatuh tercebur menuju arah dasar laut . kekuatan deburan membuat uap air garam terdorong ke arah langit  yang lalu menerpa ke arah diam kami. 

Kau pun tak bersuara , kala senja tanpa matahari telah jauh . sangat jauh. Mungkin dilenyapkan arus pasang laut...

Ada yang hilang . Kita berdua menatap kosong langit kelabu. Perlahan awan kian menyatu merintangi jarak pandang kita ke angkasa. Kita tahu langit tengah bergelut dalam gelisah. Keluhnya serupa amarah kita yang dahulu kita simpan bersama. Guntur  bersahutan , tak lama diikuti kilatan petir menebas gemawan kelam pekat . Arus angin kian deras tak beraturan menerpa kita. Kekuatan gelombang pasang laut  bahkan mampu membentur batang pohon hingga menyebabkan suara retak bergeletar bercampur bunyi gemerisik dedaunan yang saling beradu.  

Kau diam saja. Saya pun diam. Kita yang tanpa berani mengganggu amukan yang terasa kian memburu bersama detak jantung yang membunyikan kekecewaan. Lalu tanpa ingin sesuatu. 

Kita harus melakukan sesuatu terhadap perasaan kita, atau tidak sama sekali hingga membiarkan segala bunyi kacau balau membungkam kita. 

Saya masih terbujur dan tak kuasa melakukan apapun selain menatap nanar. Kau lelah berusaha menyembunyikan resah yang memang sia-sia. Kita berada di tepi terjauh jurang menuju abadi. Nun jauh di titik pandang kita menatap laut pada batas cakrawala yang larut dalam gelombang itu, ; mungkin ada sesuatu disana, pikirku. Maka kesanalah kita harus menengok, sekadar memberi rasa jawab pada berahi penuh tanda tanya ; apa yang berada dibalik cakrawala?

Diam dan tanpa suara. Kita menutup telinga serta memejamkan mata untuk mengasingkan diri di sebuah ruang diri berisi kenangan yang terbaring bersama tubuh. Kenanglah walau hanya rasa yang terbuai, namun tak lebih baik ;sebab masa lalu tak pernah jelmakan dirinya sebagai masa kini ; sedang kini kita tengah mengasingkan diri dari dunia dan hanya mendapatkan amukan alam yang kian menyesakkan.

Tubuh itu kaku, maka diamlah. Sebab pun dalam diam kamu akan bergulat tentang masa-masa yang lewat demi mengupayakan masa esok yang jua kalut akan kepastian. Maka diamlah dan mulai segerakan membuka mata. Ada kita berdua. Hanya kita berdua. Mari menghilangkan segala suara-suara, buyarkan segala resah, inilah waktunya untuk jujur pada perasaan. Kau pun, aku jua. Kita membuka cipta terhadap segala  nyata. Dan terbangunlah kita di tanpa segala; sebuah ruang.

Ruangan ini memang semestinya kosong. Tanpa arah, tak didikte waktu, serta jauh dari mimpi nyata. Tentu kita boleh menyatakan diri sebagai yang kuasa disisni. Sekarang,  mari kita isi dengan perabotan ala kadarnya.

Kita pun hanya berdua, mana baik jika mengadakan benda yang tak guna. Kepentingan kita hanya satu. Diam dan saling jujur. Maka kuambilkan dari masa silam sebuah meja tamu di masa remajaku, sedang kau mengambil dua buah kursi . Masing-masing dari dua masa; saat kau remaja dan saat kau mengenal prosesi kerja.  Apakah itu cukup? mungkin. Perlu kita tambahkan warna. Ruang ini tanpa warna maka cukuplah warna senja untuk memberikan kesan dalam , sarat makna, romatika dan utamanya puitis. Kau pastikan setuju, dan tak lupa pula kau buat beranda yang kau ambil dari masa depan. 

Cukupkan untuk saat ini.  

Kita duduk berhadap-hadap dibatasi meja. Berada kita di depan beranda saat waktu senjakala menempuh titik paling kelam. Waktu berhenti saat ini namun bergerak pada saat bersamaan. Aneh perasaan yang bercampur aduk . Tapi apalah gunanya mempertanyakan rasa jika memang yang penting jua adalah pikiran kita. Kejujuran adalah rasa, bukan? 

Sekarang , berceritalah..

 

 

  • view 161