MENDUNG

orange milk
Karya orange milk Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2016
MENDUNG

Kau ingat, kalimat yang selalu kita ucapkan saat perdebatan mulai mengusik kita? Kalimat yang selalu kita teriakkan bersama untuk mengakhiri dan menghentikan pertengkaran kita. Kalimat yang mampu membuat kita terdiam dan tersadar bahwa suatu saat kita akan menyesal karena keegoisan sejenak. Serta kalimat yang selama beberapa tahun mampu menyatukan kita.

 

‘Bagian tersulit dalam cinta bukan pertengkaran dan bukan pula perpisahan. Namun pertemuan kembali setelah perpisahan.’ ---------- Seperti saat ini, kalimat itu kini terbukti.

 

                                                               ============================

Sudah sejak lama ketika kita terakhir memandang. Dua kali tahun kabisat. Dua kali angka 29 muncul dalam bulan Februari yang mendung, seperti hari ini. Jika seketika hujan turun, masihkah kau mau menaungiku dengan payung yang selalu kau simpan dibawah motormu? Masihkah kau memarahiku saat tanganku bermain-main dengan air hujan? Tidak, aku tidak berani menanyakan itu padamu. Terlebih saat ini. Saat kau terdiam dihadapanku tanpa mau memandangku.

 

Aku masih gadis yang kau kenal, mas. Aku tidak banyak berubah. Kebiasaan makan mie ayam tanpa daun hijau dan tanpa diaduk, juga masih ada dalam diriku. Aku juga masih memakai kaos kaki saat tidur. Dan kebiasaanku yang kau benci – menjilati adonan kue mentah – juga masih sering kulakukan. Kecuali wajahku, yang mungkin telah mengalami perubahan. Tidakkah kau ingin melihat dan menatap wajahku? Aku sudah pandai berdandan sekarang dan bibirku juga sudah terbiasa dengan warna merah menyala yang dulu tak kusukai. Mereka bilang warna merah menyala cocok dengan kulitku yang kuning. Tidakkah kau ingin memujiku juga mas?

 

“Maafkan aku...” Aku menarik napas dua kali lebih panjang dari biasanya. Sungguh, seperti katamu, pertemuan setelah perpisahan adalah hal tersulit.

 

“...meskipun kini...” aku memutar cincin yang melingkar di jari kiriku dan menutupinya segera dengan tangan yang lain.

 

“... tapi aku masih mencintaimu. Kau masih akan tetap menjadi seniorku yang sangat menyebalkan namun kucintai. Kau juga akan selalu menjadi sahabat dan kakak - yang selalu ada disaat aku membutuhkan. Kau masih tetap segalanya.”

 

Aku menatap langit sore yang terlalu gelap. Takkan kubiarkan airmata penyesalanku jatuh dan membuatmu ikut bersedih. “Bencilah aku dimanapun dan kapanpun kau berada. Tapi... ketahuilah mas, kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun aku sekarang, aku akan selalu mencintai dan menghormatimu.”

 

Seikat bunga lavender aku letakkan dihadapanmu. Bunga favorit kita. Vender, begitulah kita menyebutnya. “Maaf jika aku baru berani datang menemui... maaf jika aku baru bisa mengucapkan maaf padamu... tapi, terima kasih... untuk cintamu dan untuk jantungmu yang kau titipkan padaku saat ajal hendak merenggutmu.”

 

 

 

NB : * Gambar diperoleh dari internet

       * Quote "pertemuan kembali setelah perpisahan" bukan milik saya. Quote tersebut sangat familiar tapi kurang tahu dari mana berasal