Dibalik Sosok Rapuh Itu

orange milk
Karya orange milk Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Mei 2016
Dibalik Sosok Rapuh Itu

Tidak, bukan semangkuk bakso maupun segelas teh hangat. Hujan, dingin dan malam sudah seperti pakaian yang harus ia kenakan.

 

‘Pergilah. Lepaskanlah. Tidakkah pakaian itu sangat menyesakkan?‘

 

Kukira, aku tidak akan sanggup mengucapkannya di depan pria itu. Tidak, saat sebuah senyum kesabaran membungkus tubuhnya yang basah oleh hujan.

 

Aku mengintip fakta pahit dari balik senyum dan kesabarannya itu. Seribu perak. Harga yang ia minta untuk sekantung sayur yang mungkin tak banyak orang kota tahu – seperti aku, sebelum ibuku menjelaskan dari mana dan bagaimana cara menghidangkannya. Seribu perak. Harga yang mungkin tidak sebanding dengan lelah dan letih yang diterimanya. Seribu perak. Harga yang tidak berarti apa-apa bagi kita, namun sangat berarti baginya.

 

 

‘Tuhan, aku lelah. Pada hidup ini, pada takdir ini dan pada manusia-manusia itu.’ Pernahkah ia mengatakannya? Pernahkah ia tidak terima dengan kondisinya?

 

Kurasa tidak. Tubuhnya yang rapuh, jalannya yang perlahan dan senyumnya yang tetap mengembang jelas mengatakan jika ia menikmati semua jalan yang diatur Tuhan untuknya.

 

 

Lalu, pantaskah aku menyalahkan hujan yang membuatku berteduh? Pantaskah aku mengeluh saat ketidakadilan yang kuterima ditempat kerjaku? Dan pantaskah aku mengeluhkan setiap masalahku pada semua orang di media social?

 

Hujan mungkin akan berhenti, namun akan tetap turun esok dan keesokan harinya.

 

Inilah hidup. Tidak semua berjalan sesuai keinginanmu

 

Seperti bapak dan masku yang selalu kompak melarangku menonton sinetron dan film yang menjual mimpi.

 

 

NB  :  Gambar karya Basoeki Abdullah "Repro Lukisan Lelaki Tua dan Beban"

  • view 149