Delicate

Okky  Juniana
Karya Okky  Juniana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Januari 2018
Delicate

Bab 2

    “Ta? Rista??” ia memanggilku, menyadarkan ku dari alam pikirku melamun menatap rintikan hujan yang turun dari langit gelap di atas sana bulir-bulir air hujan membasahi jendela mobil yang tengah aku tumpangai jalanan kota Bandung cukup macet kalau bukan karena dia rasanya aku engga deh ya untuk keluar rumah hanya untuk menikmati malam minggu.

       “Iya??” aku menengokan wajah ini pada nya, tersenyum kecil menatapnya ia melemparkan senyumnya padaku menatapku heran dari balik kedua mata sipitnya setiap kali ia menatapku entah kenapa aku menjadi salah tingkah malu menatapnya kembali dengan perasaan kembang kempis, jatuh cinta itu membuat semua terlihat menyenangkan ya? Sekalipun kemacetan panjang.

       “Lagi mikir apa kamu? Dari tadi diem aja” Tanya nya heran menatapku dari sudut matanya, sesekali memperhatikan keadaan muka jalan yang padat merayap, senyuman simpul terlihat dalam raut wajah dengan kulit putih yang tak mulus, garis-garis wajah yang tegas dan kuat. Suka sekali saat aku melihatnya diam-diam seperti ini, membuat jantung ini berdetup kencang, greget dengannya yang begitu menarik bagiku.

       “Engga cuman bingung aja, kok bandung macet aja tiap weekend?!” ku lirik jalanan Dago yang begitu padat mobil berjalan merayap kayak barisan pasukan semut yang selalu kulihat dari dinding-dinding pojok pantry kantor dan untuk kali ini aku bersyukur kami terjebak dalam kemacetan yang menyebalkan ini karena aku bersama dengannya bahkan aku berharap kami seharian berada dalam kemacetan. Apa aku berlebihan ?

       Ia tertawa kecil, “Ya ampun, kirain mikirn apa gitu, mpe ngelamun gitu”

       “Hehehe” aku tersenyum malu.

       Entah sejak kapan, aku selalu menyukai saat kami bertemu entah di mulai dari mana  hanya melihat nya saja sudah membuat aku bahagia dan entah sejak kapan aku selalu merindukan kehadirannya selalu merasa nyaman berada di dekat nya ke manapun aku tidak peduli, asal bersama nya.

        Namun kuat-kuat aku menahan segala rasa yang begitu kuat ini pada laki-laki yang detik ini berhasil menghipnotis ku sosok yang berhasil merengkuh hati ini suara nya berhasil menghanyutkan ku setiap kali memanggil nama ini dan kedua mata yang menatapku seolah aku adalah satu-satu nya perempuan di dunia ini semua yang ada di dalam dirinya aku suka setiap kali melihat nya,mendengar suara nya ahhh jantung ini rasa nya mau copot dari rongga-rongga yang melindungi nya aliran darah ku berdesir kencang ada hasrat yang kuat akan sosok nya, se-gila ini kah kekuatan saat jatuh cinta? Hingga membuat aku tak berdaya melawan nya.

       Sebelum ini hal yang paling membosankan bagiku adalah hal-hal yang terdengar gak logis like love at the first sight bisa ya jatuh cinta sama orang yang sama sekali kita engga kenal, bahkan ngobrol aja belum pernah tapi udah main cinta-cintaan, love is not easy for me- tapi dengan dia, aku jatuh saat mata kami saling bertemu, saat menatap mata nya aku tahu bahwa ah ini dia laki-laki yang selama ini aku cari lupakan masalah type karena itu tidak menjadi hal penting saat cinta jatuh pada mu.

       Waktu itu 3 bulan yang lalu, saat aku tengah menikmati nyanyian dari suara merdu wedding singer di pernikahan Firman, sepupuku, dengan sepiring pudding coklat aku mengikuti lirik From this moment yang tengah di cover oleh seorang wedding singer dengan irama akustik bernyanyi di atas panggung kecil.

       Dari semua lagu pernikahan yang pernah aku dengar, lagu nya Tante Shania Twain menjadi Favorite ku, selain liriknya yang dalam penuh harap,lagu ini terdengar begitu lembut segala harap seorang perempuan pada suaminya tercurah dalam setiap bait lirik ini maka nya aku begitu menikmati saat lagu ini terlantun kan membayangkan bagaimana pernikahanku nanti, seperti apa sosok suamiku kelak, membayangkan semua itu rasa nya menyenangkan, tapi kapan ya?

       Saat itu lha dia datang, begitu saja, sudah berdiri di sampingku begitu tampan dengan setelan jas berwarna abu gelapnya dengan aroma tubuh nya yang maskulin tersenyum tipis menatapku hangat dalam raut wajah tampannya saat pertama kali mata kami saling bertemu seolah waktu terhenti tidak ada keramaian yang terdengar hanya detak jantung ini sorot mata nya yang langsung tertuju pada hati ini membuatku lemah membuatku tak mampu mengabaikannya aku seperti menemukan apa yang selama ini ku cari.

       Dan di sini lha kami 3 bulan kemudian, waktu begitu cepat berlalu hingga akhirnya aku sadar, aku jatuh cinta padanya

        “Ta?” panggilnya kembali, kali ini suara berat nya terdengar lembut.

       “Ya?” aku menatapnya kembali, memperhatikan setiap sudut wajahnya yang tepat di hadapanku, ada raut kegelisahan dalam wajahnya, menebak-nebak dalam pikiranku, kenapa dia terlihat begitu gelisah?

       “Gimana kalau kita pacaran?” tanyanya menatapku teduh tersenyum lembut dengan wajah penuh harap.

Waktu itu umurku baru saja menginjak 26 tahun, 4 tahun yang lalu hari di mana kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, aku masih ingat jelas bagaimana perasaanku saat itu, betapa bahagianya aku, detik dimana dia mengajakku untuk menjalin hubungan dengannya, jelas dia bukan cinta pertama ku bukan juga laki-laki pertama yang masuk kedalam hidupku dan menawarkan sebuah hubungan tapi dia adalah laki-laki pertama di mana aku ingin memiliki tujuan kedepan bersama nya, laki-laki pertama yang membuat aku berfikir aku ingin menjadi seorang istri untuknya bukan sekedar aku ingin jadi kekasih nya.

Pada kenyataannya, yang di butuhkan seorang perempua dari laki-laki yang di cintainya itu bukan seikat bunga mawar dengan wangi yang semerbak bukan juga kata-kata manis nan puitis bak seorang pujangga pemuja cinta tapi sebuah kepastian akan rasa yang mampu mengikat satu sama lain dan saat itu aku merasa si Rizal sudah memberikannya padaku membuatku memutuskan untuk mencintainya untuk memberikan seluruh hati dan hidupku untuknya.  

       Argh!

       Damn it!

       Kenapa sih untuk bagian ini bagian tentang dia dapat mengingatnya dengan baik?!

       Aku terbangun dengan kepala pusing setengah mati dengan baju kerja kemarin masih menempel di tubuh ini dan uda engga ngerti lagi bentuk rambutku, rasanya kepala ini mau pecah pening bukan main berat terasa dan sial nya saat aku membuka kedua mata ini yang teringat adalah memori tentang nya, perlu gue jedodin juga nih pala biar ilang ingatan?! Kayak di sinetron-sinteron gitu maksud nya.  

       “Udah bangun lo, Ta?” Tanya Bimo saat aku meneleponya setelah membersihkan badan ini aku langsung menelepon Bimo, terduduk di meja makan mungilku dengan segela air jahe hangat yang bercampur dengan gula merah.

       “Ya. Baru nih” jawabku lemas kemudian meneguk air jahe hangat yang terasa manis terasa hangat di perut “gue ijin dulu dari kantor, engga akan bener masuk juga”

       “Ya. Lo parah banget semalam” ungkap Bimo “Sorry ya Ta, gue habis anter lo langsung balik, temen gue nungguin”

       “Is okay”  ku pencet-pencet kepala yang terasa pening “sorry ya Bim, gue engga tahu dan gak ngerti harus ngapain pas denger ….”

       “Rizal mau nikah” Bimo meneruskan ucapanku “Ta, kalau ini cara lo untuk melempiaskan rasa sakit lo, do it, selama sama gue lo aman”

       aku tersenyum tipis menatap mug air jahe yang tengah ku genggam ini setidak aku bersyukur masih ada seorang teman di saat aku mulai jadi orang sinting yang engga bisa nerima kenyataan.

 “Thanks ya Bim?!”

       “Ya uda, gue bentar lagi rapat, siang gue ke apartement lo! Wasap gue aja lo mau di bawain apa”

       “Okay. Gue mau istirahat dulu ya?!”

       “Take your time”

       Telepon tertutup, aku mengenggam iPhone ini menghela nafas panjang ada rasa lelah yang amat terasa di diri ini entah datang dari mana perasaan berat namun terasa kosong di relung hati ini cukup membebaniku.

       Aku mengambil salah satu buku dari rak buku yang berada di tengah ruang apartement, rak buku kayu setinggi 2 meter berwarna putih menjadi pembatas antara ruang tidur ku dengan ruang santai. Aku sengaja tidak tidur dalam ruang kamar di apartement dan membiarkan 2 ruang kamar di sini, satu kamar aku jadikan tempat menyimpan segala pakaian, tempat rak sepatu, tempat aku berdandan dan menyimpan segala kebutuhanku sedangkan satu kamarku ku biarkan kosong dengan tempat tidur, kamar Ibu.

       Aku pecinta buku, novel hingga biografi aku membaca nya kata orang buku itu jendela dunia tapi untukku buku lebih dari itu, buku mengajarkan ku tentang kesabaran aku harus dengan sabar dan tenang membaca setiap halamannya menghentingkan segala spekulasi ku tentang alur cerita sehingga aku mampu menikmati buku yang ku baca dan menyelesaikan dengan baik, buku juga mengajarkan ku untuk focus, focus pada satu buku dan tidak tergiur untuk membaca buku lain hingga buku yang tengah ku baca selesai, memusatkan perhatianku pada satu hal dan menyelesaikannya.

       Tapi kali ini tidak berhasil, ku baca tiap kata dalam buku D’bliss, buku tentang perjalanan seorang wartawan mencari arti kebahagian di setiap Negara aku tengah membaca bagian Negara Maldova, Negara yang paling tidak bahagiam ternyata ada ya. Aku bukan membayangkan tentang Maldova, tapi si Rizal, ketidakbahagianku.

       Terakhir aku komunikasi sama si Rizal saat kami membicarakan seserahan mau di kemanain, si Rizal engga mau terima, dia minta aku untuk simpan dan di pakai aja. Aku sih ogah ya makenya juga, bikin sakit hati jadi aku balikin semua barang ke dia, tapi dia nolak, dan akhir nya aku jualain, ya engga mungkin juga kali ya aku buka museum dengan tema ‘memoar of seserahan from cancelled wedding by arista Hermanto, engga juga kali ya. Dan si Rizal cuman bilang, ‘gimana kamu, barang-barang kamu’ bahkan saat terkakhir kami komunikasi pun engga ada bahasa baik-baik nya, seolah kami tidak pernah saling mencintai, kami seperti dua orang yang saling membenci satu sama lain dan karena semua ini lha aku belum mampu lagi mempercayai seseorang dalam hidupku,  “lo tahu sendiri kan, semua medsos dia, gue unshared, nomor nya gue block” lanjut ku pada Melia setelah beberapa bulan hubungan aku dan si Rizal kandas, mungkin hanya dia satu-satu nya mantan ku yang aku unshared bahkan nomor nya aku block dari phone book, walaupun sebenarnya mungkin dia tidak akan pernah menghubungi ku lagi. Entah kenapa aku melakukan ini, mungkin karena akhir nya aku sadar, si Rizal tidak benar-benar membutuhkan aku dalam hidup nya, tidak benar-benar ingin aku menjadi pasangan hidup nya, seperti yang duluuuu dia katakan padaku,’ aku cuman mau nikah sama kamu, arista sayang’, ‘aku engga kepikiran perempuan selain kamu ‘, ‘kamu yang pantas jadi istri aku’, bla bla dan bla, ucapan manis dan lembut. Sekarang terdengar seperti ocehan anak kecil.

       Tapi saat aku meminta membatalkan pernikahan kami, dengan tenang nya dia menjawab ‘kalau itu yang baik buat kita, aku setuju’ engga ada perlawanan, engga ada pertentangan apapun, atau perdebatan yang selalu kami lakukan untuk mempertahankan keinginan kami, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak mengharapkan itu, hanya saja aku tahu dan sadar bahwa dia tidak sesayang itu sama aku, mungkin itu yang membuat ku kecewa. Dan akhir nya aku memutuskan segala akses dengan dia. childish ya? but sometimes being childish can help you to forget painful things, just do it, even it impressed selfishness.

        Bahkan Melia terkejut waktu dengan tindakan yang aku ambil, kata nya keliatang banget sih lo sakit hati nya, keliatan banget lo kayak anak kecil, kan seharus nya lo enggak boleh mutusin tali sillahturohim, engga baik.

Aku sedikit kecewa saat Melia berkata seperti itu dia tidak melihat dari sisi ku. Dan aku hanya diam beberapa hari, menenangkan diri emosi dan energi sudah habis menghadapi keluarga ku yang menyayangkan keputusan ku. Bagian terberat dari kegagalanku ini adalah saat menghadapi keluarga besar ku menghadapi Ibu, malu rasanya dan aku merasa menyedihkan rasanya ingin menghilang saat itu juga menampakan wajah di hadapan mereka membuat segan.

Saat aku sudah tenang, aku bilang sama Melia, “Kalau lo di posisi gue, dan ingin melupakan hal-hal yang menyakitkan, tapi hal-hal itu masih jelas terlihat di hadapan lo.  Apa lo bisa melupakannya? People got their perspective and they judge only by what we’ve chosen to show them. But they always forget that we have reason towards everything we decide. And you know, dissapointment and pain levels tiap orang itu beda. Can’t you feel how much this is hurting me?aku ingat setelah menjelaskan semua itu, aku nangis se-jadi jadi nya, meluapkan segala kesakitan ku, melepaskan so kuat nya aku selama ini yang sebelumnya aku nangis di sajadah ku dengan besok nya kedua mata udah kayak kena bogem mentahnya Chris John. Melia memeluk ku dan meminta maaf, dia berharap aku dan si Rizal kembali bersama, bahwa permikahan ini bukan batal tapi tertunda. Aku cukup mengerti kenapa Melia mengharapkan itu, karena Melia tahu seberapa besar aku mencintai si Rizal, pengorbanan yang telah aku lakukan untuk nya, menjadi bodoh karena tergila-gila pada nya.

       “arista! Please, Stop it            !!” terikaku dalam benak ini  

 

 

∞∞∞

 

 

 

  • view 57