Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 1 Januari 2018   08:51 WIB
Delicate

Dia adalah titik di mana aku tak mengharapkan koma di dalamnya, dia adalah dimana aku akhirnya menyimpan segala harapku dalam genggamanya, dia adalah dimana bukan lagi masalah aku dan kamu, tapi kita.

Dia adalah dimana aku kembali percaya bahwa hidup bukan lha hitam atau putih, tapi penuh warna di dalamnya, dan dia adalah dimana ruang di hati ini tidak pernah lagi kosong, penuh dengan sosoknya.

 Dia adalah di mana saat kami berjauh, membuatku begitu membenci jarak dan waktu. Dia dimana, membuatku kembali bermimpi akan masa depan yang tak pernah pasti. Dia dimana alasanku satu-satunya untuk tertawa lepas dan menangis sedih.

Dia adalah harapku, laki-laki yang berhasil membuatku jatuh dalam pelukannya, dalam cinta nya, dalam sorot matanya yang dalam merasuk dalam relung jiwa ini hingga tanpa ada dia, aku merasa hampa sekalipun seluruh dunia tengah hiruk pikuk, sekalipun sekitarku begitu ramai penuh dengan tawa namun tanpanya aku merasa kosong, sepi.

 Seperti ini lha aku mencintainya, seperti ini lha aku menganguminya, menyangjung sosoknya, jatuh cinta padanya tanpa koma, hanya titik. Serangkai kalimat aku buat untuknya, serangkai kalimat yang tidak pernah cukup untuk menjelaskan betapa aku membutuhkan dirinya dalam hidupku, serangkaian kalimat yang menunjukan betapa aku tergila-gila pada nya, serangkaian kalimat untuk mencari alasan kenapa aku begitu mencintainya namun tak akan pernah benar-benar menemukan jawaban kenapa aku begitu mencintainya.

 Dan jauh sebelum dia, aku berada dalam sebuah ruang gelap, mengumpulkan kepingan-kepingan diriku yang porak poranda karena dia yang datang atas nama cinta.

 

Bandung, September 2016. ( Dia)

***

BAB SATU

 

Wajah ini mengadah pada jendela mobil menatap langit di luar sana yang cerah dengan awan-awan melayang di atas nya membuatku tersenyum lega melihat nya setidaknya kemacetan kota Bandung membuatku bisa melihat hari yang cerah ini.

          “Biasa nya jam segini macet ya, Pak?”  tanyaku pada Pak Joko, Driver kantor terduduk dengan tenang di balik kemudi

          “Ya Mbak Rista, apalagi kalau jam-jam sore aduh macet nya nguji iman banget”  jawab Pak Joko menatapku dari spion dalam mobil yang terduduk di jok belakang mobil kantor ini.

          “Kalau gitu saya boleh tidur dulu ya pak?!”

          “Silakan, Mbak” aku bias melihat senyum kecil Pak Joko di kaca spion dalam

          Ku ambil handseat dari dalam tas kerja, ku pasang di iPhone dan mulai mendengarkan lagu di playlist, lagu pertama yang ku pilih untuk ku dengar adalah A Way Back Into love nya Hugh Grant feat Haley Bennett.

         

          I’ve been living with a shadow overhead

          I’ve been sleeping with a cloud above my bed

          I’ve been lonely for so long

          Trapped in the past

          I just can’t seem to move on

 

          Ku jatuhkan kepala ini pada jok mobil berlahan menutupi kedua mata ini merasakan kelelahan yang terasa di seluruh tubuh ini dengan kedua telinga ini terpasang handseat mendengarkan lagu-lagu favorite yang selalu berhasil membuat diri ini tenang.

          Kalau di ingat-ingat sudah 6 bulan ini aku benar-benar di sibukan dengan pekerjaan ku sebagai Senior Marketing di NationalBank, selain memang ada target yang harus ku kejar untuk penghujung tahun yang tinggal hitungan bulan bekerja keras bisa di bilang menjadi pelarian ku yang paling ampuh dari hal-hal yang selalu berhasil membuat buruk suasan hati ini.

          Tapi jujur, aku menikmati betapa sibuk nya aku selama ini, betapa pekerjaan ini benar-benar menyita waktuku, menguras tenaga  dan pikiran ku, tahu kenapa? Karena setiap kali aku bekerja kayak orang gila yang lupa sama waktu setiap kali pikiranku focus pada pekerjaanku aku tidak punya waktu dan ruang untuk memikirkan hal-hal yang membuatku merasa …. Sakit.

          “Mba Rista, Mba! Sudah sampai mbak?!”  suara Pak Joko sopan membangunkanku

          Handseat di sebalah telinga kananku sudah terlepas, aku langsung melepaskan satunya lagi melihat ke luar jendela mobil, mobil sudah terpakir di depan lobby kantor, sudah jam 4 sore saat melihat jam di pergelangan tangan ini, 2 jam perjalanan dari Cigondewah ke Bandung Kota. Aku langsung merapihkan rambut panjang gelombang dengan jemari-jemariku dan ku ikat asal.

          “Makasih ya Pak Joko?!” ucapku tersenyum pada nya

          “Sama-sama, Mbak”  sahut Pak Joko menengokan kepalanya tersenyum tipis

          Aku langsung turun dari mobil kantor dengan membawa tas kerja dan beberapa berkas nasabah dalam pangkuanku.

          “Sore Mbak Rista?!”  sapa Pak Tian menyambut kedatangan ku masih lengkap dengan seragam security nya tersenyum hangat dari balik wajah tegas nya , membukan pintu saat aku memasuki area banking hall.

          “Sore pak” sahutku tersenyum dari balik kelelahan di balik wajah ini

          Banking Hall sudah kosong dengan para nasabah hanya ada teman-teman frontliner yang tengah menyelesaikan pekerjaan mereka di balik meja kerja nya masing-masing, wajah-wajah cantik mereka pun tampak terlihat lelah namun pekerjaan masih belum selesai.

          “Sore banget mbak pulang nya?”  Tanya Pak Tian saat aku terhenti sesaat

          “Iya nih pak, kunjungan nasabah nya jauh ke Cigondewah dan macet parah”  sedikitku mengeluh

          “Aduh pasti capek ya Mbak”

          “Lumayan”  senyumku kecil “Ke atas dulu ya pak?!”  pamitku

          “Siap mbak”

          Aku melangkah menuju lift yang berada di area belakang Banking Hall, memencet angka 3 dari 8 lantai yang berada di bangunan menara Kantor wilayah NationalBank Regional Jawa Barat  sekaligus cabang utama untuk area Bandung yang sudah menjadi rumah kedua bagiku tempat dimana aku lebih banyak menghabiskan waktu ku di sini dari pada di apartement ku.

          Pintu lift terbuka, beberapa teman kerja yang aku lupa siapa nama nya dan seperti nya mereka dari bagian Divisi keluar dari lift, kami hanya saling tersenyum kecil dan aku pun langsung memasuki lift, berlahan pintu lift tertutup.

          Sebenarnya dari semua proses tetek bangek pekerjaan ku hal yang paling ku sukai adalah on the spot, pergi dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu lokasi perusahaan ke perusahaan lainnya, bertemu dengan orang-orang hebat, para calon nasabah dan nasabah,  yang membangun usaha mereka dari nol hingga sebesar sekarang membuatku merasa pekerjaan ini tidak pernah terasa membosankan.

          Banyak hal yang ku temukan saat tengah melakukan kunjungan lokasi usaha untuk mencheck dan meninjau sampai mana usaha mereka berkembang, seperti hari ini aku berkunjung dan melakukan riset usaha ke pabrik kain tekstil di daerah Cigondewah yang memang sudah terkenal dengan industry kain nya di kota Bandung.

                Aku sampai seharian berada di Pabrik kain di Daerah Cigonewah Bandung yang memang terkenal dengan industry kain nya, melihat, menikmati, mempelajari proses pembuatan kain, agak penasaran juga sih dan memang type manusia yang senang menemukan hal-hal baru dalam hidup buatku ini adalah salah satu cara untuk mengurangi kebosanan, menemukan hal-hal baru adalah hal menyenangkan untuk ku.

          Setelah serat menjadi kapas dan di panen selama 6-7 bulan setelah di tanam, setelah itu harus melewati beberapa proses sebelum menjadi kain, ada Ginning (penjeratan), Spinning ( Pemintalan), Weaving (penenunan), Treatmenst ( perawatan) dan terakhir Finishing ( Penyelesain).

          Saat aku melihat proses pembuatan kain yang cukup panjang dan bertahap, mengikuti proses nya  membuat aku percaya dan menyakin sebuah proses, proses selalu membutuhkan waktu, kain yang bagus dan nyaman di pakai melalui proses yang panjang, melalui berbagai tahapan yang cukup melelahkan, waktu yang tidak sebentar, semua itu untuk kualitas yang bagus, tidak sembrangan, tidak instan.

          Kayak kita yang bertemu, melihat, atau mengenal orang-orang yang sukses di bidang nya, berhasil dalam bidang yang ditekunin, melihat mereka yang sukses terlihat menyenangkan, terlihat indah dan mungkin kadang merasa envy .But we don’t know on proses di balik semua kesuksesan dan keberhasil itu, proses di mana mereka merangkak untuk berjuang tanpa sebuah kepastian, berhasil atau gagal, mereka hanya memiliki keyakinan dalam diri mereka untuk berjuang, melewati banyak tahapan yang melelahkan, waktu yang panjang, perjuangan yang meminta pengorbanaan. Kadang orang-orang lebih menyukai yang instant, malas dengan tahapan proses dan pinginya yang singkat-singkat aja tapi selalu tidak pernah bertahan lama.

          Orang-orang yang sukses dan berhasil adalah orang-orang yang menikmati proses, buat mereka semua yang mereka lalui itu worth doing, appreciate the process and appreciate the moment, mereka akan lebih menghargai apa yang mereka dapatkan, lebih bisa menjaga karena mendapatkannya dengan susah payah, dan tentunya pengalaman yang segudang, belajar bangkit saat terjatuh, belajar sabar, belajar menikmati waktu dengan baik.

          Aku selalu percaya, setiap manusia di muka bumi pasti pernah berjuang untuk sesuatu dalam hidupnya, yang membuatnya terlihat lebih baik, terlihat lebih arif, terlihat sukses dan berhasil. Entah itu dalam sebuah hubungan, karir, cita-cita, atau mimpi, setiap manusia pasti pernah memperjuangkan sesuatu dalam hidupnya. Saat kita masih dalam kandungan, lahir di bumi ini, hanya bisa menangis, kemudian bisa melihat, merasakan sentuhan, bisa mendengar, berbicara, tertawa, merangkak, berjalan dan terus sampai kita dewasa. Atau saat seseorang baru menikah memasuki kehidupan baru beradaptasi dengan pasangannya menyamakan ritme langkah agar selaras, mengendalikan ego mengenal kekurangan hingga menerima dan kemudian menjadi terbiasa dan menjadi kebutuhan, saling bergantung. Semua itu melalui proses, Proses itu tidak pernah membohongi hasil saat kita menginginkan sesuatu, berjuang dan berdoa, kita akan melakukannya dengan baik, rasa lelah, capek, kecewa itu akan menjadi bumbu yang mengkuatkan, belajar dari kesalahan, setelah kita melalui proses dengan baik, pada akhirnya kita akan tersenyum, bukan tersenyum untuk orang lain, bukan tersenyum untuk di persembahkan pada dunia, tapi tersenyun untuk diri kita sendiri, bangga terhadap diri kita sendiri, bahwa ternyata kita mampu dan bisa.

          For me, proses terpanjang dalam hidupku adalah proses di mana aku mengenali diriku sendiri, menemukan diriku sendiri di antara kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai harapan yang akhirnya membuat aku mengerti hidup ini bukan apa yang kita inginkan tapi apa yang ada di depan mata. Kita hanya perlu mencari tujuan mencari jawaban kenapa kita ada di sini dan memilih berada di sini setelah itu kita hanya tinggal menikmati.

          Ruang Divisi Bisnis Konsumer NationalBank, ruanganyan yang cukup luas dengan banyak meja kosong dari pada meja yang sudah terisi, bukan karena tidak ada lagi pegawai yang mau bekerja di sini tapi karena ruangan ini terlalu luas untuk Team Marketing yang hanya berjumlah 15 orang, 7 Marketing Founding Officer yang target nya itu seputar simpanan dan 8 Marketing Account Officer yang target nya seputar pinjaman, aku masuk di dalam nya.

          Beberapa teman kerja ku terlihat sibuk di balik computer kerja mereka tampang-tampang orang marketing dengan kening mengkerut urat muka tegang kayaknya buat senyum aja susah beban target sudah berhasil bikin lupa cara nya tersenyum, kalau menghadapi akhir bulan seperti sekarang ini.

          “Dari mana maneh?” Tanya seorang perempuan bertubuh mungil yang tengah terduduk di balik meja kerja nya persis di samping meja kerjaku dengan logat sunda nya, Melia, she is my partner in crime, sama-sama Senior Marketing di NationalBank masuk di tahun yang sama denganku tapi kalau perempuan cantik cina-sunda satu ini bagian Instansi dan perusahaan yang jelas target nya lebih besar dari pada aku jadi masih bisa senyum ditambah perawatan ekstra dari Dokter kulit yang selalu bikin kulit muka nya mulus kayak kulit bayi, timpang banget sama gue yang engga pernah sama sekali nih kulit muka nyentuh serum dari Dokter kulit, hasil nya, ya gitu-gitu aja.

          “Southbank”  jawabku ngasal menyimpan tas dan berkas-berkas di atas meja kerjaku dan kemudian menghampas tubuh ini terduduk nyaman di kursi kerjaku menghela nafas lega, akhirnya sampai kantor juga.

          “Maunya jam segini udah di southbank” balas Melia menatapku dari balik kedua mata nya yang sipit.

          “Tau aja lo”  senyumku cengengesan menatapnya

          “Nyadar engga sih lo teh, lo kerja udah kayak orang gila?!”

          “Masa sih?! Biasa aja kok”  jawabku santai, membenarkan posisi duduk ku

          “Kalau gini caranya lo menghadapi akhir tahun sih tinggal ongkang-ongkang kaki”

          Aku tersenyum bangga pada diri ini membuka ikatan rambutku yang mengikat rapih rambut panjang gelombang ini, menyisir nya dengan jari dan kemudian mengikatnya asal hingga membentuk cepolan ini terasa lebih nyaman dari pada harus menyepol layaknya mba-mba pramugari.

          “Oh ya” aku teringat sesuatu, menghadapkan wajah ini pada nya“Gimana sama Rumah sakit bersalin? uda ada perkembanganya?” tanyaku pada perempuan berambut menggantung seleher dengan wajah orintelnya yang mungil

          “Bentar lagi gue mau meeting sama Pak Sigit soal rumah bersalin ini karena besok kita mau presentasi sama mereka kalau mereka mau pindah semua pinjaman mereka ke bank kita, gue menyambut akhir tahun tinggal duduk manis deh” jawabnya tersenyum senang

          “Sukses ya lo”  senyumku ikut senang, menyalakan PC computer ku

          “You too, dear”

          Terdengar suara dering dari  iPhone ku, aku langsung mencari nya di tas kerja, langsung melihat siapa menelepon ku, rangkain nomor yang tidak bernama.

          “Dengan Arista Hermanto, ada yang bisa di bantu?”  sapaku sopan, takut nasabah.

          “Hi Bu Arista, lagi apa?” suara seorang laki-laki terdengar lembut dari sebrang sana

          Damn!

          “Sapa ya?”  tanyaku pura-pura lupa, melirik Melia yang tengah memperhatikanku

          “Tuh ya nomor aku engga di save?! Pasti lupa kan?” jawabnya terdengar menyebalkan “Ini Derry, Rista Cantik”

          Pingin muntah kan gue

          “Oh Deri, maaf engga sempat ngesave”  jawbaku malas “kenapa ya der?”

          “Dinner yuk, Ta?”  ajaknya

“Duh lembur nih Der”  jawabku cepat membuka berkas

“Aku samperin deh ke kantor, bawa makanan untuk kamu”

“Kamu kayak ob kantor ku aja suka bawa makanan” balasku

“Kamu lucu deh Ta?!”

“Emang aku badut , lucu”

“Heheh … terus bisa nya kapan Ta?”

Ya engga akan bisa-bisa sih, engga mungkin juga ya aku jawab sekasar itu, susahnya jadi perempuan.

“Next time ya?! Ntar aku hubungin kamu deh”

“Okay, ku tunggu ya?!”

“Okay”

Aku langsung menutup telepon tanpa menunggunya menutup, menghela nafas lega mengabaikan tatapan Melia, mengambil kaca mata minus ku dari tempat nya dan langsung memakai nya.

          “Sampai kapan sih lo Ta sinis, jutek sama laki? Gimana mau dapatin cowok?! satu tahun kurang cukup lo jomblo?!” Melia melihatku dari balik computer nya

          aku menengokan kepala ini pada Melia, “Lebih baik jomblo ya dari pada sama orang yang salah, lagi”

          “Setidaknya lo coba, tahu dari mana dia laki-laki yang salah atau bukan kalau lo engga coba?!”

          Kali ini aku menatap Melia serius, “Engga ada coba-cobaan dalam hubungan dan perasaan”

          “Okay”  Melia berdiri dari duduknya “Pak Sigit calling, gue harus meeting sekarang”

          “Okay. Good luck, dear” senyumku memberikan semangat

          “Thank you, dear”  Melia pergi meninggalkan meja kerja nya 

Waktu tuh cepet banget ya berlalu nya, udah 1 tahun aku sendiri, melewati waktu dengan pekerjaanku, tiap hari nya ku sibukan diri dengan bekerja, menjadi pelampiasan dari segala rasa sakit dan kecewa.

          Bohong kalau aku bilang, aku tidak kesepian, aku tidak membutuhkan laki-laki dalam hidupku, tidak ingin di cintai dan mencintai. Tapi 1 tahun ini aku masih belum mampu untuk kembali mempercayai seseorang untuk memasuki kehidupananku, untuk memasuki relung hati ini, aku merasa tidak ada yang bisa ku percayai, bahwa pada akhirnya saat aku memutuskan mencintai seseorang aku akan merasa sakit hati, seseorang itu pada akhirnya akan mengecewakan ku. Jadi aku berfikir lebih baik aku sendiri dari pada bersama orang yang salah, lebih baik aku tenggalam dalam pekerjaanku, tidak berharap pada siapapun itu berarti tidak akan merasa kecewa, karena aku belum siap sekalipun aku merasa sepi.

          Jadi ku putuskan untuk focus pada pekerjaanku, pada diriku mengabaikan perasaan sepi di relung hati ini, aku baik-baik saja, itu yang terpenting.

          Kembali aku larut pada pekerjaanku, hanya ada aku computer di hadapan dan setumpuk berkas nasabah yang harus aku buat laporannya.

          Mungkin pekerjaan ini terlihat mudah, mencari nasabah setelah dapat melakukan kunjungan lokasi usaha tapi sebenarnya pekerjaan ini lebih dari semua itu. Di sini aku harus pintar berhitung, menghitung laba usaha calon nasabah apa masuk dengan pengajuan pinjaman yang di ajukan, memperhitungkan dengan baik apa asset yang mereka meliki sebanding dengan jumlah pinjaman yang di ajukan atau tidak karena segala kemungkinan bisa saja terjadi dan membuat laporan ini membutuhkan banyak waktu, dari laporan ini lha pimpinan mengambil keputusan untuk menyetujui pinjaman atau tidak selain melakukan kunjungan usaha untuk kedua kali nya.

          Terdengar suara dering dari iPhone yang tersimpan di atas meja nama Melia nongol di layar iPhone ku, ada yang ketinggalan apa ya?

          “Ta, maneh masih di kantor?” Tanya Melia saat aku mengangkat telepon dari nya, jam sudah menunjukan jam 9 malam, sudah 3 berkas aku kerjakan berarti sisa.

          “Masih” jawabku melihat Ruang Divisi Bisnis Konsumer dari balik kaca mata minus ini hanya ada aku dan beberapa orang yang masih di kantor, dan Kang Maman, Office Boy kantor kami yang sedang sibuk merapihkan dan memberishkan meja-meja kerja yang sudah kosong oleh penghuni nya. “Kenapa? Ada barang lo yang ketinggalan?” tanyaku heran karena baru beberapa jam yang lalu Melia pamit untuk pulang, aku mengklik kolom send mengirim email pada Pak Sigit, Pimpinan Divisi Bisnis Konsumer, hasil laporan data calon nasabah untuk besok paginya beliau check.

          “Engga ada kok”  jawab Melia yang suara nya terdengar aneg

“Terus kenapa lo nelepon gue? Engga cukup seharian ini ketemu sama gue? Masih kangen juga?!”

“Iih amit-amit deh kangen sama lo”

Aku tertawa kecil

“Kok lo belum pulang sih, Nyet?” Tanya Melia terdengar basa-basi.

          Ku simpan iPhone di atas meja, memencet loudspeaker dan sedikit mengecilkan volume suaranya walaupun aku yakin engga akan ada yang berniat mendengarkan pembicaraan kami.

           “Lo nelepon gue cuman untuk nanya kayak gini?” aku yakin ada alasan kuat kenapa Melia nelepon ku di jam 9 malam, ku simpan 3 berkas yang telah selesai ku kerja di lemari kerjaku dan mengambil 2 berkas lagi dari lemari “Suami lo pasti belum balik ya maka nya nelepon gue cari teman ngobrol?!” tebakku menyimpan 2 berkas di atas meja melihat 2 berkas yang cukup tebal sedikit menghela nafas melepaskan rasa lelah.

          “Bojo gue udah balik kali, doi lagi mandi”

          “Pantesan” ucapku “Kang Maman?!” panggilku pelan saat meliaht Kang Maman berdiri tidak jauh dari meja kerja ku

          “Masih ada Kang Maman?” Tanya Melia

          “Iya”

          “Kenapa Neng?” tanyanya menghampiriku tersenyum sopan

          “Mau kopi lagi dong Kang?! Habis ” aku menujuk mug kopi ku yang sudah kosong, tersenyum meminta tolong pada nya

          “Oh siap atuh  Neng” Kang Maman mengambil mug ku

          “Bentar ya Nyet” aku menunggu Kang Maman menghampiriku

          “Hati-hati atuh Neng lambungnya entar kena maag minum kopi terus” nasihat Kang Maman dengan logat sunda halusnya.

          “Heheh lambung saya sih udah kuat kang maman, udah strong kayak orang nya” ngeyelku cengengesan sambil memberikan Mug “Kang Maman kebagian jaga malam ya?”  tanyaku

“Ya Neng,  bulan depan baru pagi”Jawabnya sudah memegang mug ku “akhir-akhirnya banyak yang betah diem dikantor ya neng? Bahkan sampai ada yang tidur dikantor, heran kang maman mah, teu sono kit1  sama yang dirumah” ucapnya bingung dengan kening mengkerut dan sedikit menggelengkan kepalanya

          “Biasa lha kang menyambut akhir tahun, sono mah sono tapi ku maha dei geus kerjaan, kudu, lemburan na ge kan buat keluarga biar happy bisa jalan-jalan” jawabku dengan bahasa sunda se-ala kadarnya.

          “Nyak oge si neng, ya sok atuh teraskeun, Kang Maman nyieun kopi heula nyak?!” Pamit Kang Maman

          “Mangga Kang, di atos nyak?!” senyumku pada nya

          “Siap”

          aku tersenyum kecil menatap punggung Kang Maman pergi, menghela nafas lega bukan aku aja yang lagi kerja keras.

          “Udah chit chat nya sama Kang Maman?” Tanya Melia menyadarkanku, Melia tengah menungguku di balik iPhone ini.

          Aku langsung mematikan loudspeaker dan mengangkat iPhone ini, “Sorry sorry lupa lagi ngobrol sama lo” sahutku kembali focus “jadi gimana kenapa, Mee? Langsung deh ya, masih banyak harus gue kerjain nih” pintaku membuka lembaran berkas paling atas dari 3 tumpukan rasa kantuk sudah mulai menguasai diri ini, ingin cepet beres deh ini kerjaan.

          Melia terdiam beberapa saat, seperti tengah merangkai kata dalam pikirannya,  terdengar helaan nafas panjang darinya , “Lo masih suka kontak gak sih sama si Rizal?”

          Aku langsung menghela nafas panjang saat Melia menyebutkan nama cucunguk satu itu, beberapa detik aku hilang focus.

          “Kenapa sama dia?” tanyaku malas berusaha memusatkan pikiranku pada lembaran data nasabah.

          Selama 1 tahun ini aku berusaha untuk tidak menyebutkan dirinya, Melia pun enggan membicarakan Cucunguk satu itu dengan ku sampai detik tadi Melia menyebutkan nama nya dan ternyata masih cukup berpengaruh dalam diri ini. 

          “Gue tadi baru buka path nih, si Rizal hari ini…tunangan, lamaran” jawab Melia dengan hati-hati, tahu sekali kalau kata-kata ini akan melukai hati ku.

          Beberapa detik nafas ini tertahan membuat penglihatan ku kabur sesaat pikiranku terhenti  dan rasa sakit terasa di dada ini.

          “Oh” hanya 2 kata itu yang aku sanggup ucapkan, itu pun susah payah aku mengeluarkan suaraku, kerongkonganku terasa tercekat “Mee, masih banyak berkas yang harus gue kerjain, besok kita lanjut di kantor ya?! Bye” tanpa menunggu jawaban dari Melia, aku langsung menutup telepon dari nya, menjatuhkan punggung ini pada sandaran kursi kerja ku, menatap kosong layar computer, pikiranku melayang entah ke mana namun ingatkan terpusat pada nya, Rizal Perdana, Lelaki yang amat ku cintai dan masih ku ingat dengan baik hingga detik ini dan laki-laki itu akan menikah, semua kenangan tentangnya bermunculan dalam benakku, seperti baru saja kemarin terjadi dan sekarang dia meninggalkan ku begitu saja menikah dengan perempuan lain.

          Aku berusaha mengembalikan kesadaranku, berusaha mengembalikan pikirkan, berusaha menghapus semua tentangnya yang kini tengah bermunculan dalam benakku, semua tentangnya teringat indah dan menyenangkan namun sakit rasanya.

           Ku tutup berkas yang ada di hadapanku, menyimpan asal dalam lemari, ku matikan computer, mengambil tas kerja ku, sepertinya aku kelelahan, tiba-tiba rasanya tubuh ini cape sekali, nafas ku pun mulai tak beraturan bahkan kedua kaki ini terasa lemas, mungkin aku memang sudah kelelahan, urusan berkas bisa ku tunda yang penting harus beres minggu ini semua pinjaman nasabah yang ku urus.

          “Neng Rista! Neng…”  suara panggilan menghentingkan langkahku

          Kang Maman menghampiriku dengan mug di tangannya wajah nya tampang bingung menatapku, “Neng Rista mau pulang? Ku maha atuh ie kopi na?”

          Aku menatap mug di tangannya yang tersodor untukku, “Oh iya! buat kang Maman aja, saya pulang aja”

          “Neng Rista sakit ya? Kok pucat? Matanya merah lagi?!”

          aku menggaruk-garuk rambutku “Iya mendadak pusing, saya pulang duluan ya?! Maaf ya Kang, makasih” pamitku langsung berbalik pulang tanpa menunggu sepatah kata dari Kang Mamah yang melihatku bingung bercampung kekhawatiran, aku tidak peduli.  

          Langkah ku lunglai menyelusuri lorong koridor lantai ruang Divisi ku, terasa sunyi dan sepi, terang dengan lampu-lampu kantor yang masih menyala, menyadarkan ku bahwa sejak tadi aku hanya seorang diri, yang hanya ada aku, sendiri, tidak ada siapapun. Langkah ini terhenti pada pintu lift yang tertutup, dengan pikiran kalut dan hati yang terasa kosong, aku terdiam menunggu kedatangan lift naik ke lantai atas, menatap hampa pantulan diri ini pada pintu Lift yang terlapis cermin, rambutku terikat acak, benar kata Kang Maman wajah ini terlihat pucat dan mata ku merah. Tapi aku tidak pusing, badanku pun tidak terasa sakit, hanya hatiku merasakan satu titik rasa sakit yang membuat dada ini terasa sesak.

          Si brengsek Rizal itu akan menikah? Menikah?! Aku jamin aku tidak memiliki rasa apapun padanya, tapi kenapa mendengarnya akan menikah membuat hati ini terasa sakit, membuat ku terhentak, seharusnya aku tidak merasakan apapun kan? Kenapa terasa begitu menyakitkan? Kenapa dia menikah secepat ini? 1 tahun cukup untuknya melupakanku, melupakan hubungan kami, dan membina hubungan baru, menikah?!

          “Bu Rista, anda mau masuk?” seorang Security keluar dari pintu Lift, tangannya menahan pintu lift, menatapku bingung, keluar dari pintu lift.

          “Oh Ya Pak, saya mau masuk” sadarku, berusaha tersenyum wajahku rasanya kaku sekali.

          “Silakan Bu, hati-hati”

          “Iya, makasih” dengan langkah lemas aku memasuki ruang Lift, memencet tombol menuju Lobby, berlahan pintu lift tertutup dan ku hempaskan punggung ini pada dinding lift rasanya tubuh ini akan jatuh.

          “Arista hermanto, I Love you with all my heart” terngiang bisikan dari nya dalam benakku, suaranya yang lembut mengucapakan kalimat yang meluluntahkan keangkuhanku, tatapannya yang membuatku hanyut, wangi tubuh nya yang membangkitkan hasratku, aku masih mengingat semua tentang dirinya dengan segenap hati ini, ya hanya seorang diri mengingatnya. 

          Dan air mata jatuh begitu saja dari kedua mata ini, bercucuran, membasahi wajah ini. Sakit! Kenapa rasanya begitu sakit? Aku membencinya, tidak lagi mencintainya, kenapa rasa nya sesakit ini? Kenapa? 3 tahun aku bersamanya dengan berakhir kegagalan, dan baru 1 tahun kami berpisah dan dia sudah mau menikah?! rasanya aku tidak ingin mempercayai ini semua.

          Tubuh ini terjatuh lunglai, kedua kakiku lemask rasanya, ku peluk tubuh ini, ada rasa dingin yang menusuk, menyembunyikan wajah basah karena air mata yang terus jatuh dari kedua mata ini, tertunduk dalam rangkulan kedua tanganku yang tengah memeluk tubuh ini, menangis terisak.

          “Bim, di mana lo?” tanyaku, sesampainya di lobby kantor, entah seperti apa bentuk wajah ini sekarang, aku tidak peduli ku memutuskan untuk menelepon Bimo.

          “Lagi di starbucks Ta, nungguin temen. Kenapa?”

          “Ketemuan di southbank ya. Bisa?”

          “Southbank? Serius Ta?! Di hari weekday gini?”

          “Ya tapi kalau lo engga bisa …. Is okay”  pasrahku menahan isak tangis ini suaraku terdengar parau tak bisa ku sembunyikan

          “Hi, are you okay?”  tanyanya cemas

          Aku menahan nafas ini, entah apa yang harus aku jawab

          “Lo dimana?” tanyannya lagi

          “Kantor”

          “Okay, tunggu gue lima belas menit”

          Telepon Tertutup 

          Kedua kaki ini terhenti di depan lobby kantor, malam yang terasa kelam dengan jalan yang masih ramai dengan kendaran-kendaran yang berlalulang di depan sana,  aku terduduk lemas di tangga kecil pintu masuk, air mata ini kembali jatuh dari kelopak mataku membuat wajah ini basah sesak sekali dada ini, ku peluk kedua kaki ini, memeluk diriku sendiri begitu dingin hingga menusuk  tulang-tulang ku bahkan kepala ini terasa pening namun aku tidak ingin tertidur malam ini aku tidak ingin sendiri, berlahan air mata ini terhenti yang tertinggal hanya rasa sesak yang tak kunjung usai, aku berusaha menghilangkan segala rasa sakit yang begitu terasa di dada ini berusaha mengenyahkan segala tentang nya dalam diri dan pada akhirnya aku sadar belum selangkah pun aku meninggalkan diri nya meninggalkan rasa ini untuknya, ternyata segala hal yang ku lakukan untuk melupakannya percuma di saat hati ini masih enggan untuk melupakannya? Lalu sekarang apa lagi yang ku tunggu? Apa lagi yang ku harapkan dari nya?

          “Ta, Rista”

          Ku angkat kepala ini, seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap berdiri di hadapannku memakai jaket tebal menutup tubuh atletis nya menatapku putus asa dari kedua mata nya yang tersorot tajam, Bimo terjongkok di hadapanku bisa ku lihat gurata-guratan kecemasan dalam wajah tampan nya, yang selalu dia tampakan saat aku merasa seringkih ini, tanpa perlu aku katakan betapa sakitnya aku sekarang, Bimo sudah tahu

          “Hi, Bim…” sapaku lirih menatapnya berusaha tersenyum sebaik mungkin pada nya namun air mata ini kembali jatuh dari pelupuk kelopak mata ini

          Bimo tersenyum tipis, “You are not okay” sahutnya menatapku sendu

          “Apa lagi yang bisa gue bilang?!” lirihku menatapnya cepat menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi

          Aku menarik nafas ini dalam-dalam, kedua mata ini kembali terasa basah dan aku hanya mampu terisak tangis, bingung bagaimana merangkai kata untuk menjelaskan bahwa laki-laki yang saat ini masih ku cintai akan menikah dengan perempuan lain.

          Bimo merangkulku dengan kedua tangannya, mendekatkan tubuhnya padaku memeluk ku dalam pelukannya yang hangat mendekapku membiarkan aku menangis dalam pelukannya tangannya menepuk-nepuk punggung ini menenangkan diri ini.

          Saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang itu sama aja kita siap menyerahkan kehidupan kita sama dia memberikan seluruh hati ini untuknya, lupa dia bisa pergi kapapun meninggalkan kita dan ini lha alasan terkuat kenapa aku memilih sendiri dalam waktuku.

           Aku orang yang pelupa, saat aku mendiamkan pekerjaan yang harus ku kerjakan, pekerjaan itu akan terlewat begitu saja. Seperti laporan mingguan yang aku tunda untuk aku kerjakan dan hasilnya aku hampir melewatkannya, jadi setiap kali ada pekerjaan yang datang padaku akan langsung ku kerja kan. Sayang nya, ingatanku cukup kuat untuk mengingat hah-hal yang menyakitkan dalam hidupku padahal aku sudah mendiamkannya. 

          Ada satu hal yang tidak membutuhkan proses, terjadi begitu saja, yaitu Jatuh cinta. Kita tidak membutuhkan waktu banyak untuk jatuh cinta, kita tidak perlu melewati beberapa tahapan untuk merasakan jatuh cinta, kita tidak peduli dengan hasil akhir, kita hanya ingin menikmati rasa jatuh cinta yang membuat hati kita melambung, membuat kita bertingkah seperti seorang anak kecil, menjadi orang paling bahagi se-muka bumi ini, semua terasa ringan bahkan pekerjaan paling berat pun tak terasa, tenggalam dalam perasaan bahagia yang berjuta rasanya, membuat semua terasa indah di dunia ini. Namun kita membutuhkan proses yang panjang, kita harus melewati beberapa tahapan, melewati waktu yang tidak sebentar saat kita patah hati, melupakannya adalah bagian yang tersulit dan yang terasa hanya satu rasa, sakit.

         

 

         

∞∞∞

 

 

 

 

 

 

           

         

 

Karya : Okky Juniana