Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 20 April 2016   17:20 WIB
Begin again

2

 

Kebingungan ku terjawab, kenapa ada seorang laki-laki asing entah berantah datang seolah mengenal ku, pihak hostel sudah menunggu ku karenan tamu yang hari ini belum check ini hanya tinggal bernama Juni dan mereka bisa menebak bahwa yang di dalam taksi adalah Juni, tamu perempuan yang mereka tunggu sejak tadi.

“Mas tapi saya tuh takut anjing” jujur ku saat turun dari taksi, gonggongan anjing kembali terdengar, membuat ku begidik, pikiran ini udah jelek banget sama yang nama nya anjing, bayangan si anjing bakal menerkam ku, atau mengejar ku dengan taring nya yang tajam dan Aahhh...memikirkan saja sudah membuat aku ketakutan setengah mati.

“Is okay, mereka itu baik, itu sambutan selamat datang untuk setiap tamu yang datang” jelas nya tenang dengan senyum kecil menghias wajah nya yang terlihat ramah. Aku suka dengan gaya pakaian nya, memakai sarung batik yang terlilit asal di pinggang nya yang panjang sarung nya hanya sepangkal paha dan sendal jepit mengalaskan kedua kaki nya, santai dan cuek, namun rapih dan chic, gaya modern di satukan dengan tradisional, tidak ada kesan formil dalam bahasa tubuh nya yang menunjukan terbuka ini.

“Mereka?? Anjing nya lebih dari satu?!” sontak ku kaget, makin jiper deh tinggal di sini, padahal aku mulai menyukai ke ramah tamahan staf hostel nya, bukan karena si mas mas ini cakep walaupun berkulit coklat dengan kulit wajah memiliki beberapa biji jerawat yang lagi mateng-mateng nya.

“Emm gini deh, kamu bisa masuk dulu, liat hostel nya, aku bisa yakin kan kalau anjing-anjing yang kita punya itu baik” tawar nya berusaha menyakinkan ku.

Aku terdiam menatap hostel berbentuk rumah biasa itu, malah terkesan tua dari luar, sinar matahari jogya yang panas, terasa membakar kulit ini dan kayak nya manteng banget di atas kepala ku.

Tenang Ju! Tenang! Masa anjing aja kamu takut setelah segala hal yang pernah kamu alamanin?! Ketemu pertama kali sama calon mantan mertua kamu yang muka nya galak engga ada senyum-senyum nya. Akhir nya berani bilang tidak saat si Rizal meminta kamu untuk membatalkan pertemuan dengan calon nasabah-yang sekarang jadi nasabah prioritas yang membuat kamu dapat bonus gede dan si Rizal yang sekarang jadi mantan. Berani menjelaskan dengan tenang saat Chef Manager pas dia meminta pertanggung jawaban kenapa belum sampai target. Dan ketika kamu harus menghadapi keluarga besar dan khusus nya orangtua untuk mengatakan kamu membatalkan pernikahan kamu. Dan semua itu lebih menakutkan dari anjing-anjing yang hanya menggonggong yang bahkan kamu nggak ngerti mereka gonggongin apa, siapa tahu kan anjing-anjing itu mengucapakan selamat datang dengan penuh semangat karena ada tamu perempuan cantik untuk penginap di hostel ini.

“Okay!” aku meneriman tawarannya dengan yakin, menghela nafas pasrah.

Setelah meminta bapak taksi menunggu sebentar dan mengijinkan argo jalan karena barang-barang sengaja aku simpan dalam taksi untuk jaga-jaga , ya siapa tahu kan aku engga suka suasana hostel nya jadi aku engga perlu repot cari taksi lagi.

“Kami lebih baik merawat anjing sebagai penjaga hostel ini dari pada satpam, jadi mereka itu semacam penjaga di sini” jelas nya mengikuti ritme langkah ku.

“Ok” aku mengangguk mengerti.

Aku cukup tercengang melihat hostel dengan kebun yang hijau nan luas ini, rumah bergaya lama dengan teras yang cukup luas, teras dengan beberapa jajaran meja-meja kecil kayu dan kursi-kursi kecil mengeliling meja, penuh dengan orang-orang asing alias bule, terduduk santai disana, saling mengobrol dan ada yang bermain gitar, menikmati udara panas dengan pemandang hijau dari kebun yang tepat di depan teras, ini lebih dari bayanganku, maksud ku, aku pikir hostel seperti motel atau penginapan tanpa bintang, hanya untuk tidur tapi seperti sebuah rumah tempat nongkrong.

Anjing coklat besar berdiri dekat pintu masuk, menyalak padaku dengan bahasa tubuh sigap, membuat aku terkejut dan mendekatkan diri pada mas-mas ini. Ini bukan aksi curi-curi kesempatan biar jadi kayak adegan ala-ala sinetron yang si cewek dan si cowok langsung merasaka getaran hebat ketika mereka yang tidak sengaja saling bersentuhan, ini pure aksi spontan, dan tidak ada tegangan listrik apapun-ini bukan cerita drama korea.

“Jani! Diam!”pinta nya tegas pada anjing coklat, mimik wajah anjing langsung terlihat sedih dan kemudian terduduk manis, aku menghela nafas lega “Kamu bisa lepas sepatu nya?!” pinta nya sopan tersenyum kecil menatapku.

“Oh sorry” aku melepas sneaker nike yang aku pakai

Dengan malu dan segan aku memasuki ruang utama rumah ini-se gila-gila nya aku, punya rasa malu dan segan juga kalau masuk rumah orang-ruang tamu yang cukup luas dan sejuk, lantai mamer berwarna gelap menambah kesan betapa tua nya rumah ini, dinding yang berwarna krem dengan jejeran pintu, sofa panjang tua berwarna coklat, dan jendela-jendela rumah yang terbuka.

“Hi juni!” seseorang menyapa ku, lagi-lagi memanggil nama ku akrab, aku melihat seorang laki-laki berkulit gelap dengan singlet yang di pakai nya memperlihat otot-otot besar yang di milikinya, tersenyum lebar menatapku dengan deretan gigi nya yang putih dan rapih, ia memiliki lesung pipi yang membuat senyum nya manis.

“Hi” balas ku kikuk, aku tidak biasa menyapa orang asing kecuali kalau sama nasabah, itu mah mau engga mau. Aku lebih tertarik sebuah lukisan, lukiasn yang unik, dan penuh warna. Ada pelangi, seorang anak kecil perempuan dengan bunga-bunga matahari di atas kepala nya, se ekor anjing, karikatur makhluk-makhluk alien , dan sebuah tulisan BHUMI Family di tengah-tengah lukisan, entah kenapa aku tersentum kecil melihat lukisan lucu ini.

“You stay here for one weeks, jun?!” tanya laki-laki hitam ini dari balik meja kecil yang ternyata meja resepsionist, meja kecil dengan laptop, sebuah toples ikan di penuhi kartu nama dan barang-barang kecil lain nya.

“Yup”jawab ku singkat “Tapi saya mau liat-liat dulu”

“Oh okay, silakan” senyum nya mengerti.

“Juni, aku liatin kamar kamu ya?!” ajak mas-mas ini membuka sebuah pintu yang tepat di samping meja resepsionist “Oh iya, nama ku, wildan” akhir nya ia memperkenalkan diri nya “dan dia, jack

“Hi wildan” sapa ku memanggil nama nya, senang mengetahui nama nya, aneh aja ia sudah tahu nama ku tapi aku tidak tahu nama nya.

Wildan tersenyum kecil, ia kemudian membuka pintu kamar, “Silakan kalau kamu liat”

Aku memasuki kamar dengan pintu yang terbuka ini, langsung terasa lantai yang dingin karena ac, ruang kamar yang tidak terlalu besar namun nyaman, kasur yang berbentuk dorm dengan 2 tingkat sebanyak 3 tempat tidur, sebuah lemari-lemari kecil kotak tersimpan di setiap sudut kamar, ruangan kamar di biarkan gelap, ternyata ada yang tengah tidur.

“Kamu bisa simpan barang-barang di sini, ini kunci nya” jelas wildan menunjuk sebuah lemari kotak kecil

“Ok”

“so kita keliling lagi” ajak nya keluar dari kamar ini.

Wildan menutup pintu kamar kembali, aku mengikuti langkah nya, melangkah ke sebuah lorong pendek dengan jajaran pintu di kanan kiri tembok, seluruh jumlah pintu ada 5, berarti hanya ada 5 kamar.

Sebuah ruangan luas dan terang menyejukan mata ini, ruangan dengan jendela-jendela di biarkan terbuka sehingga membuat ruangan ini terang karena cahaya matahari masuk dengan bebas di ruangan ini, di tambah ruangan ini langsung menghadap kebun belakang membuar udara terasa segara walaupun cukup panas berada di sini.

“Ini dapur bersih, kamu bisa baked disini, you can keep your food or your drink di kulkas, dan kita makan sama-sama di sini, biasa sarapan dan makan malam” jelas Wildan menunjuk satu-satu, sebuah meja makan panjang dan lebar terbuat dari kayu terletak di tengah ruang makan indah dengan vas bening yang tersimpan bunga-bunga liar yang cantik, dua kursi panjang kayu di setiap sisi meja makan, ruang makan yang nyaman, membuat aku tersenyum berada di ruangan ini. Ruang makan impian ku, aku selalu ingin memiliki ruang makan seperti ini jadi wajar kan aku terkagum-kagum, ketika melihat sesuatu yang di impikan terwujud nyata di depan mata.

Kedua mata ini menyelusuri tiap sudut dan barang-barang yang terletak di sini, seperti seorang anak yang menemukan dunia fantasi yang menjadi kenyataan. Sebuah lemari kaca tua menarik perhatian ku, ukiran-ukiran kayu yang indah, tempat menyimpan piring-piring dan gelas-gelas, bahkan piring-piring dan gelas-gelas nya bergaya kuno, sangat Indonesia, jawa banget. Aku seperti jatuh cinta pada ruangan ini.

Dan sebuah meja kayu dengan tumpukan buku-buku yang tersimpan acak di atas nya, ruangan ini benar-benar mengambil hati ku dengan baik. Ruangan yang cantik, meja makan kayu, cahaya yang masuk di mana-mana, lemari kuno, dan sekarang buku-buku. Ya Tuhan, aku tidak pernah tidak tertarik dengab buku-buku, aku bahkan ingin memiliki perpustakan untuk menyimpan koleksi buku-buku ku sejak aku masik duduk di bangku SD, dan membuka perpustakan umum bagi siapapun, kalangan manapun.

“Itu buku-buku sumbangan tamu di sini” ucap Wildan yang sudah berdiri di sampingku, aku bahkan lupa kehadirannya.

“wow nice” puji ku melihat-lihat buku-buku ini, salah satu buku berwarna putih dengan gambar bulan dan seorang anak kecil laki-laki berdiri di atas nya “The little prince”, seperti nya buku yang bagus.

“Kamu boleh baca, dan menyumbangan buku sama kami” senyum nya.

“Hahaha ya itu berarti aku harus balik dulu ke bandung”

“Hahaha” tawa nya renyah “Oh ruang terakhir” Wildan berjalan melewati ku “sini” ajak nya seperti seorang anak kecil yang mengajak teman nya bermain, aku yakin ia lebih muda dari ku hanya saja wajah nya terlihat dewasa.

Kami memasuki sebuah ruangan yang di tutupi terai-terai, kamar mandi ternyata

“Ini kamar mandi nya, kita punya dua, hot water” senyum nya bangga “dan di sini toliet, ada enam, jadi kamu engga perlu khawatir untuk ngantri karenan kita punya banyak” jelas nya tertawa kecil, wajah nya kini terlihat seperti anak kecil, ada raut ke lugu an di balik kedewasan wajah nya, orang yang menyenangkan.

Kami kembali melangkah ke ruang dapur, ini akan jadi ruangan Favorite ku.

Wildan terduduk, aku ikut terduduk di sini, menikmati nyaman nya suasana di sini.

“Sugih!” panggil Wildan saat ada kucing belang dengan 3 warna melintas di depan kami, wildan mengambil kucing yang berjalan dengan santai nya dan memangku kucing belang cantik ini “Kamu engga takut kucing kan?!”tanya nya memastikan sambil mengelus-ngelus bulu halus kucing dengan kalung leher lonceng yang terpasang di leher mungil nya.

Aku menggeser duduk ku mendekati Wildan, “I love cat” senyum ku ikut mengelus-ngelus bulu kucing

Wildan tersenyum kecil, “Oh ya, kamu udah tahu aturan di sini?!”

“aturan??”

“Ya, piring dan gelas yang di pakai di cuci sendiri”

“Oh...ok” senyum ku mengerti.

Perhatian ku teralihkan pada sebuah papan tulis yang di penuhi tulisan kapur warna warni, papan tulis hijau yang besar, sepanjang 2 meter lebih mungkin. Tulisan tentang lokasi-lokasi wisata di daerah bhumi, jadwal tour beserta harga nya, qoute-qoute bijak, di tulis dengan acak namun rapih.

“Siapa tahu kamu mau ikut tour ke borobudor an prambanan, besok jadwal nya”

aku tersenyum kecil, “Mungkin ke tempat yang lain”

Wildan mengangguk kepala nya, “Oh ya, jadi kamu mau stay di sini ya?!”

Aku langsung teringat sesuatu, “wildan?!”

“Yes??”

“Taksi nya” aku langsung berdiri dari duduk nya, otak ku mulai memperhitungkan berapa argo yang harus aku bayar, berapa lama aku di sini? Setengah jam?!

“You stay here?” tanya Wildan ikut berdiri

“Yes, of course” jawab ku berjalan cepat keluar.

“Ok, aku bantu” Widlan ikut berjalan cepat.

Hostel ini benar-benar menghipnotis ku, engga peduli sama anjing sekarang, aku mau tinggal disini.

***

Peer banget deh ini di tempatin kasur di atas, naik turun tangga besi dengan jarak anak tangga yang satu dengan yang lainnya cukup jauh, iya sih cuman ada 4 anak tangga, tapi kalau engga hati-hati, kayak superman is dead deh, lumayan bikin badan remuk, atau seenggak nya keseleo.

Aku bernafas lega saat kedua kaki ini mendarat mulus di lantai kamar, itu juga pake loncat dulu, benar-benar engga bisa anggun disini, udah lampu kamar di matiin, gara-gara ada bule cewe lagi tidur tempat di bawah kasur ku, ini resiko nya kalau se kamar barengan, toleransi nya harus gede banget. Walaupun aku anak tunggal untuk ber toleransi di kamar bukan hal yang baru bagi ku, saat aku di tugaskan di kuningan city selama setahun aku berbagi kamar dengan Rita, teman sekantor dan seperjuang ku saat memulai kariri di perbankan awal tahun 2011, waktu sama-sama menjabat sebagai frontliner. Rita suka tidur dengan lampu yang menyala sedangkan aku terbiasa dengan lampu mati, dan akhir nya kami memutuskan memasang lampu tidur yang redup nya udah kayak warung remang-remang.

Pintu kamar terbuka sedikit membuat ku terkejut, seorang perempuan dengan rambut terikat acak dan berkaca mata memasuki kamar, dalam kegelapan aku bisa melihat keletihan dalam raut wajah nya.

“Hi?!” sapa nya ramah tersenyum pada ku

“Hi” balas ku kikuk, seperti nya aku harus terbiasa bertegur sapa dengan orang asing.

“You’ve come?” tanya nya dengan bahasa inggris logat melayu, aku tebak dia dari Malaysia, china Malaysia, berkulit putih dengan wajah mungil, tubuh yang tinggi dan bermata sipit,wajah tampak ramah saat dia tersenyum.

“Yes, I’ve come today” senyum ku “You?”

“I came yesterday” jawab nya menyimpan tas ransel kecil yang sejak tadi terpangku di punggung nya “where you from??”

“Bandung, indonesia” jawab ku mengambil handphone yang aku simpan di atas meja lemari ini “You?”

“KL” ia terduduk di atas kasur nya, enak sekali mendapatkan kasur di bawah

“Melayu ya? Masih serumpun” senang ku kemudian mengecek siapa yang tadi menelepon saat aku tengah berada di langit-langit, di kasur ku maksud nya. Rini?

“Ya” senyum nya

kami terdiam sejenak, “Saya keluar dulu” pamit ku

“Okay”

aku keluar kamar membawa smartphone ku, ruang tamu atau resepsionist kosong, tidak ada siapa pun, aku berjalan menuju teras, seperti nya adem diam di teras sore-sore gini, mumpung engga ada bule-bule yang lagi nongkrong. Sampai aku melihat Jani lagi malas-malasan di lantai teras dan melihat ku, dan seekor anjing putih dengan ukuran yang sama dengan Jani, berdiri sigap menatapku yang berdiri terdiam kaku melihat nya, ketakutan langsung terasa di sekujur tubuh ku, mata kami saling menatap beberapa detik, berharap siapapun datang menghampiri ku layak nya Iron man yang menyelamatkan papper dan membawa nya pergi dari serangan musuh. Tapi sebelum khayalan ku terwujud, si anjing putih lari menjauh dari ku. Whats ?? harus nya gw lari ketakutan, bukan nyan tuh anjing yang lari ketakutan liat gw?!

Akhir nya aku memutuskan duduk di sofa tua nan empuk di ruang tamu ini, ada apa Rini nelepon? Aku telepon balik.

“Gimana Jogya, neng?” tanya nya lembut, hanya perlu dua kali sambungan telepon, dan Rini langsung mengangkat nya.

“Panas dan penuh kejutan” jawab ku “gw suka hostel nya, homey, feel like home lha” aku agak sedikit aneh dengan suara lembut Rini, biasa nya kalau dia suara lembut ada yang engga baik. Tuh orang biasa nya kayak preman, kalau engga ada apa-apa, pasti nanya nya gini ‘gimana jogya, nyet? Uda nemu laki secakep bradley cooper belum?’ atau ‘Ganjen dong lu jadi cewe, cowok mana berani deketin cewe sedingin es kayak lu’ tapi ini ... “Tadi lu nelepon. Kenapa ? laki lu lembur lagi ya terus jadi perempuan kesepian gitu neleponin gw? Atau baru engga ketemu sehari aja, lu uda kangen aja sama gw?!”

“Hahahaha” Rini cuman ketawa, serius nih kayak nya ada yang engga beres, eh perempuan lagi bunting bisa PMS engga sih?? Kan siapa ta hu nih preman lagi PMS jadi berubah kayak Putri solo, halusss. “Nyet, lu masih suka berkabar sama si Rizal?” baru aja di puji jadi Putri Solo eh keluar lagi deh premanisme nya. Tapi jangan salah, laki nya Rini tuh dokter bedah terbaik di Bandung, walaupun umur nya beda 10 tahun lebih tua dari dia, tapi suami nya cakep banget, anjasmara versi putih nya, Rini mah tinggal duduk manis, jadi istri sholeha, melayani suami dengan baik.

Tapi kenapa juga dia nanyain si Rizal?

“Udah engga” jawab ku singkat, terkakhir aku komunikasi sama si Rizal saat kami membicarakan seserahan mau di kemanain, si Rizal engga mau terima, dia minta aku untuk simpan dan di pakai aja. Aku sih ogah, bikin sakit hati make nya juga, jadi aku berharap semua barang balikin ke dia, tapi dia nolak, dan akhir nya aku jualain, si Rizal cuman bilang, ‘gimanan kamu, barang-barang kamu’ bahkan saat terkakhir kami komunikasi pun engga ada bahasa baik-baik nya, seolah kami tidak pernah saling mencintai, kami seperti dua orang yang saling membenci satu sama lain. “Lu tahu sendiri kan, semua medsos dia, gw unshared, nomor nya gw block” lanjut ku, mungkin hanya dia satu-satu nya mantan ku yang aku unshared bahkan nomor nya aku block dari phone book ku walaupun sebenar nya mungkin dia tidak pernah menghubungi ku lagi. Entah kenapa aku melakukan ini, mungkin karena akhir nya aku sadar, si Rizal tidak benar-benar membutuhkan aku dalam hidup nya, tidak benar-benar ingin aku menjadi pasangan hidup nya, seperti yang duluuuu dia katakan padaku,’ aku cuman mau nikah sama kamu, Juni sayang’, ‘aku engga kepikiran perempuan selain kamu ‘, ‘kamu yang pantas jadi istri aku’, bla bla dan bla. Tapi saat aku meminta membatalkan pernikahan kami, dengan tenang nya dia menjawa ‘kalau itu yang baik buat kita, aku setuju’, engga ada perlawanan, engga ada pertentangan apapun, atau perdebatan yang selalu kami lakukan untuk mempertahankan keinginan kami, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak mengharapkan itu, hanya saja aku tahu dan sadar bahwa dia tidak sesayang itu sama aku, mungkin itu yang membuat ku kecewa. Dan akhir nya aku memutuskan segala akses dengan dia. Like a child ya ? But sometimes act like a child if can help you forget about a painful thing, just do it, even though it impressed selfish. Bahkan Rini terkejut waktu dengan tindakan yang aku ambil, kata nya keliatang banget sih lu sakit hati nya, keliatan banget lu kayak anak kecil, kan seharus nya lu enggak boleh mutusin tali sillahturohmi, engga baik. Aku sedikit kecewa saat Rini berkata seperti itu, dia tidak melihat dari sisi ku. Dan aku hanya diam beberapa hari, menenangkan diri, emosi dan energi sudah habis menghadapi keluarga ku yang menyayangkan keputusan ku. Saat aku tenang, aku berkata pada Rini, “Kalau kamu di posisi aku, dan ingin melupaka hal-hal yang menyakitkan, tapi hal-hal itu masih jelas terlihat di hadapan kamu. Apa kamu bisa melupakannyan? People can only judge from what we choice make a their perspective. But they forgot always reason why we made a that decision. And you know, levels of disappointment and pain tiap orang itu beda, and just you can feel how hurted this” aku ingat setelah menjelaskan semua itu, aku nangis se jadi jadi nya, meluapkan segala kesakitan ku, melepaskan so kuat nya aku selaman ini yang sebelum nya aku nangis di sajadah ku dengan besok nya kedua mata udah kayak kena bogem nya chris john. Rini memeluk ku dan meminta maaf, dia berharap aku dan si Rizal kembali bersama, bahwa permikahan ini bukan batal tapi tertunda. Aku cukup mengerti kenapa Rini mengharapkan itu, karena Rini tahu seberapa besar aku menicntai Rizal, pengorbanan yang telah aku lakukan untuk nya.                

“kenapa si Rizal? Kok tiba-tiba lu nanyain dia?”tanya ku sinis.

“Gw terima undangan nikah nih dari dia,tadi pagi, di kirim ke rumah” jawa Rini dengan hati-hati, tahu sekali kalau kata-kata ini akan melukai hati ku.

Beberapa detik aku merasa jantung ini berhenti berdetak, beberapa detik penglihatan ku kabur, beberapa detik otak dan hati ini terasa tak berfungsi, dan saat aku sadar seluruh tubuh ini terasa lemas, seperti aku baru saja lari mengeliling lapangan lari sabuga 10 keliling yang biasa aku lakukan tiap minggu, dan tenaga ku habis, hingga tubuh ini terasa lemas.

“Oh” hanya 2 kata itu yang aku sanggup ucapkan “Ntar gw telepon lagi” tanpa menunggu jawaban dari Rini, aku langsung terdiam hening, terasa kosong, aku tidak merasakan apapun. Meja resepsionist yang kosong, teras yang sepi, lukisan anak, terasa begitu mencekam dan begitu sunyi, dada ini terasa berat seperti ada sebuah bongkah batu besar di atas dada ku hingga membuat nafas ini terasa berat.

Karya : Okky Juniana