Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 18 Oktober 2017   12:25 WIB
Pendidikan Untuk Pembebasan

Berbicara pendidikan berarti berbicara masa depan. Pasalnya, pendidikan merupakan proses pembentukan karakter  dan penghancur kebodohan.
Dalam  ilmu sosial (sosiologi) salah satu lebaga pembentuk watak dan prilaku sosial adalah lembaga pendidikan. Dalam proses  pendidikan, terdapat proses pengajaran yang berfungsi memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang sesuatu yang sekiranya belum diketahui oleh peserta didik.
Dalam kaitannya dengan Negara, pendidikan tentu memiliki peran penting dalam menentukan maju-mundurnya kehidupan suatu bangsa. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa hampir semua negara yang maju pasti diawali oleh kemajuan pendidikannya terlebih dahulu. Jepang misanya, Jepang adalah salah satu negara yang membangun negara dengan pendidikan.
Esensi Pendidikan
Esensi pendidikan sebenarnya adalah menciptakan genersi yang cerdas-mencerdaskan, membentuk karakter positif dan mencetak generasi hidup-menghidupi, yang tujuan akhirnya tentu menciptakan kesejahteraan sosial bagi kehidupan bangsa.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, penulis tertarik dengan sistem pedidikan yang ditawarkan oleh seorang pakar pendidikan asal Brazil, Paolo Pariera. Dalam sebuah buku yang berjudul Pendidikan yang Membebaskan, Pariera menawarkan suatu konsep pendidikan yang membebaskan peserta didik untuk berkiprah dengan cara mereka sendiri.
Lembaga pendidikan beserta perangkatnya hanya sebagai fasilitator, yang bertugas sebagai pendamping dan penasehat serta menyediakan kebutuhan pendidikan bagi peserta didik. Dengan asumsi bahwa masing-masing orang punya minat, bakat, keahlian dan cara yang berbeda untuk belajar dan berkarya.
Pendidikan yang mengekang sejatinya mengajarkan siswa untuk memaksa dan dipaksa sehingga muncullah mental pendidikan yang memaksa dan mebelenggu, bukan membebaskan.
 
Misi utama pendidikan kita saat ini adalah Revolusi Mental, yang dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo. Revolusi mental melalui institusi pendidikan merupakan langkah cemerlang, mengingat pendidikan adalah kunci utama dalam pembentukan karakter. 
Keberhasilan lembaga pendidikan dalam membentuk karakter positif tentu sangat ditentukan oleh sistem di dalamnya.
Penulis melihat, banyak lebaga pendidikan saat ini yang cenderung menjadi Lembaga Usaha, bukan lembaga pendidikan yang berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan apa yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang pendidikan.
Banyak Pengajar, Minim Pendidik
Kemirisan penulis terhadap dunia pendidikan sebenarnya berasal dari kerisauan dalam menyaksikan dunia pendidikan saat ini yang sarat tenaga pengajar tetapi minim tenga pendidik. Generasi muda saat ini sejatinya butuh tenaga pendidik bukan hanya tenaga pengajar.
Banyaknya Perguruan Tinggi yang setiap tahun meluluskan jutaan sarjana pendidikan  ternyata tidak banyak menyumbangkan tenaga pendidik. Pasalnya, sarjana yang dihasilkan hanya bermental pengajar bukan pendidik, hal ini dibuktikan dengan kurang berhasilnya lembaga pendidikan menciptakan generasi bangsa yang berkarakter dan bermental tangguh.
Seorang guru sejatinya adalah orang yang setiap laku lampahnya digugu dan ditiru. Sebagai orang yang digugu dan ditiru, sepatutnya guru mampu memberikan  ajaran dan keteladanan dalam proses belajar dan mengajar.
Perbedaan pengajar dan pendidik sebenarnya terletak dari fungsinya, pengajar hanya mengajarkan pemahaman tentang meteri secara teoritis, sedangkan pendidik memberikan pemahaman tentang teori dan implementasi dari teori, serta memberikan pelajaran kehidupan yang tujuan utamanya membentuk manusia beriman, berilmu dan berakhlak mulia.
Menurut penulis, pendidik sejatinya harus mampu membawa peserta didik menuju kehidupan yang sejahtera dan memberikan sumbangsih positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. karena mental yang dibangun adalah mental spiritual, intelektual dan sosial.
 
 

Karya : Oki Fathurrohman