Antara Ramadhan dan Kesejahteraan Sosial

Oki Fathurrohman
Karya Oki Fathurrohman Kategori Agama
dipublikasikan 24 Juni 2017
Antara Ramadhan dan Kesejahteraan Sosial

Antara Ramadhan dan Kesejahtraan Sosial

Tidak terasa, sebentar lagi ramadhan akan berlalu. Ramadhan adalah bulan suci penuh berkah, bulan eksklusif bagi umat islam ini rasanya tidak hanya memberikan manfaat dan keberkahan kepada sesama muslim saja, tetapi lebih dari itu ramadhan penulis kira sangat memberikan dampak positif yang signifikan bagi seluruh manusia tanpa melihat latar belakang Agama, Suku dan Rasnya. Ramadhan sendiri sebenarnya satu bulan dimana semua umat islam balighin dan aqili (Tamyij) diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh dengan berbagaimacam rangkaian ibadah lainnya, pada bulan ini semua amal ibadah dinilai berlipat ganda dibandingkan dengan bulan lain sepanjang tahun. Bulan ramadhan dipandang sebagai bulan istimewa karena pada bulan ini semua nilai amal kebaikan dilipat gandakan serta pada bulan ini pula siksa umat islam di neraka diberhentikan, keadaan ini tentu merupakan suatu hal yang istimewa jika dibandingkan dengan bulan lain pada umumnya.

Pengaruh Ramadhan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pada bulan ramadhan sebenarnya tidak hanya menumbuhkan laju pahala pada umat islam yang rajin beribadah. Tetapi lebih dari itu, menurut hemat penulis ramadhan sangat berperan penting dalam menumbuhkan laju ekonomi. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa ketika menjelang ramadhan banyak sekali bahan pokok yang naik terutama yang berkaitan dengan pangan urgen (SEMBAKO) pada bulan ramadhan laju ekonomi masyarakat dinilai meningkat, hal ini didasarkan pada hasil analisa sederhana yang penulis lakukan.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat kian tumbuh tidak hanya untuk kalangan pedagang saja tetapi dikalangan wiraswasta yang mendadak berubah profesi menjadi pedagang dan profesi lain yang dinilai menghasilkan. Sedikit  kita mengambil contoh, pada bulan ramadhan ramai sekali masyarakat yang dengan sengaja membuka kios sederhana hanya untuk berjualan Es, Takjil dan lain sebagainya sebagai salah satu ladang usaha yang mereka anggap cukup strategis untuk meningkatkan pendapatan. Menurut hemat penulis, berkah dan manfaat ramadhan ini sangat luar biasa sekali. Jika dipandang dari sisi ekonomi, tentu ramadhan adalah satu momentum Illahiah yang amat strategis untuk mendobrak laju ekonomi keraykyatan yang selama ini kita inginkan.

Ramadhan, disamping melatih diri dalam menyehatkan mental spiritual juga melatih diri untuk menyehatkan sosial dan finansial, pasalnya banyak sekali tindakan kriminal atau negatif yang terhalang atau gugur dilakukan karena alasan sederhana, yakni “sedang puasa atau dalam suasana bulan ramadhan” sehingga dengan demikian, angka kriminalitas dan tindakan pemicu konflik cenderung menurun dan hal ini berimbas kepada meningkatnya mutu kesejatraan sosial. Ke dua, disamping melatih diri meningkatkan kualitas keimanan, mendekatkan diri kepada tuhan, mengistirahatkan organ pencernaan serta melatih kesehatan mental ternyata ramadhan memiliki khasiat lain, yakni menumbuhkan kesejahteraan finansial. Disadari dan diakui atau tidak penulis merasakan suatu hal yang berbeda pada sisi kesejahteraan finansial saat bulan suci ramadhan, entah ini hanya perasaan penulis semata atau memang hal ini dirasakan oleh sebagian besar orang pada umumnya, yang pasti jika ditinjau dari sudut pandang ekonomi tingkat kesejatraan dan laju pertumbuhan ekonomi cenderung meningkat. Hal ini didasiri oleh tingkat pendapatan masyarakat menengah kebawah yang kian meningkat jika dibandingkan dengan hari atau bulan biasa selain bulan ramadhan. Hal ini menunjukan bahwa relatif benar apabila kita menjustifikasi bahwa ramadhan sangat berpengaruh terhadap laju ekonomi dan tingkat kesejahteraan sosial dengan asumsi sederhana namun cukup kuat untuk mendasari just tersebut, yakni tingkat pendapatan masyarakat yang cenderung meningkat jika dibandingkan dengan hari dan bulan selain ramadhan.

Ramadhan Dan Kesalehan Sosial

Ramadhan dan Kesalehan Sosial ini tentu bukan isu baru di telinga kita, isu ini sudah sering dibahas dan diperbincangkan oleh para Agamawan, Budayawan, Sejarawan dan Masyarakat di lingkungan Akademisi pada umumnya. Menurut Prof. Dr. Eka Srimulyani, MA. Ph.D secara sederhana kesalehan sosial bisa dimaknai sebagai sikap dan prilaku seseorang yang memiliki unsur kebaikan (saleh) atau manfaat dalam rangka hidup bermasyarakat (sosial). Hal ini menarik dibahas dan diperbincangkan karena suasana dan efek ramadhan yang sangat berbeda dirasakan jika dibandingkan dengan bulan lain di luar ramadhan, menurut hemat penulis ramadhan memberikan dampak peningkatan kesalehan (kebaikan) pada pemeluk agama islam pada khususnya serta agama lain pada umumnya, kesalehan ini muncul akibat dari peningkatan kegetolan (rajin) para pemeluk agama islam untuk melakukan berbagai macam ibadah pada bulan ramadhan karena mereka percaya bahwa melakukan ibadah pada bulan ramadhan ini pahala yang didapatkan akan berlipat ganda dan gerbang menuju keindahan syurga lebih terbuka dan tentu hal ini mendapatkan legitimasi dari agama. Meskipun hal ini terkesan mengharapkan imbalan ketuhanan, tetapi penulis rasa hal tersebut tidak menjadi masalah yang perlu kita perdebatkan, yang penting apa yang mereka lakukan memberikan pengaruh konstruktif kepada keberlangsungan pertumbuhan keimanan, dan hal ini tentu memberikan dampak positif terhadap kesalehan individual yang meleber menjadi kesalehan sosial.

Jika kita sedikit menelaah, setiap ritual keagamaan khususnya dalam islam, tentu tidak terlepas dari anjuran melakukan kesalehan sosial. Dalam Al-Qur’an , pesan kesalehan individual dan kesalehan sosial secara lugas dapat kita lihat dalam surah Ali Imran: 112 dari ayat ini kemudian mencuat dua konsep yaitu Hablun Minallah dan Hablun Minannas. Dalam solat misalnya, seseorang dilatih untuk khsyuk (Fokus, tenang) dalam beribadah dan berkomunikasi dengan tuhan. Jika kita renungkan dan sedikit amati bahwa dalam shalat kita dilatih dan dididik untuk fokus dan tenang dalam berkomunikasi dengan sesama (sosial) meluapkan keresahan dengan ketenangan lalu kemudian akan muncul kedamaian dan kelegaan setelah kita berkmunikasi dan menyampaikan curhatan kita tersebut dengan cara yang  tenang tanpa ekspresi kemarahan. Dalam berpuasa misalnya, tentu sangat banyak sekali nilai edukasi idividual yang bisa kita tarik, bawa dan terapkan ke dalam dimensi sosial dari hubungan vertikal kita dengan Allah (hablu minallah) menuju hubungan horizontal kita dengan sesama manusia (hablu minannas). Dalam berpuasa kita diperintahkan untuk menahan diri dari rasa haus dan lapar, menahan hawa nafsu, hasrat biologis dan melatih emosioal. Dalam hal ini tentu sangat banyak sekali dampak kesalehan indvidual yang kemudian menjadi kesalehan sosial. Menahan amarah misalnya, agama jelas sudah memberi aturan dan warning (perhatian) khusus bagi orang berpuasa, dalam suatu hadits misalnya Nabi bersabda “apabila salah seorang dari kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan kasar. Jika seseorang memaki atu menyerangnya, hendaklah ia mengatakan: Aku sedang berpuasa” hal tersebut jelas memberikan dampak positif bagi perdamaian dalam konflik sosial di masyarakat yang saat ini sangat rentan sekali terjadi. Kemudian  di Indonesia sendiri setelah sahur ada yang namanya imsak, imsak adalah satu aba-aba atau perhatian bahwa beberapa saat lagi akan datang waktu subuh dan waktu berpuasa akan dimulai, dalam imsak tersebut penulis melihat ada pelajaran kedisiplinan dan kehati-hatian dalam melakukan sesuatu. Dalam kedisiplinan, kita dilatih untuk timming (bersiap-siap) dalam melakukan sesuatu sebulum tiba waktu pelaksanaan kegiatan, serta berhati-hati dalam melakukan kegiatan tersebut jangan sampai kita terlena dan lupa akan kegiatan atau sesuatu hal yang harus kita lakukukan di jam atau waktu tertentu sehingga kegiatan tersebut terlewt dan menyebabkan tidak terlaksananya hal yang seharusnya kita lakukan tersebut. Selanjutnya dalam bulan suci ramadhan setelah qunut (14 hari melakukan ibadah di bulan ramadhan) kita diwajibkan membayar zakat fitrah, yang kemudian hasil zakat fitrah tersebut akan dibagikan kepada golongan-golongan tertentu yang sudah diatur oleh agama yakni: Fakir (orang yang tidak memiliki harta), Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), Hamba sahaya (Budak), Gharim (orang yang memiliki banyak hutang), Mualaf (orang yang baru masuk islam), Fisabilillah (pejuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (Musyafir dan para pelajar di perantauan) dan Amil Zakat (panitia zakat). Hal tersebut tentu sangat mebantu dan meringankan beban kaum-kaum “mohon maaf” marginal yang sangat membutuhkan uluran tangan orang-orang yang memiliki kesejahtraan finansial yang lebih dibandingkan dengan mereka. Dari beberapa hal ditas tentu menjadi suatu bukti bahwa betapa besarnya pengaruh ramadhan terhadap kesejatraan sosial jika kita pandang dari berbagai macam aspek dan sudut pandang. Terakhir tentu menjadi harapan kita bersama bahwa anjuran ritual ketuhanan terutama berpuasa di bulan ramadhan yang mengandung banyak sekali pelajaran-pelajaran ketuhanan melalui aturan main dalam tatacara beribadah (terlebih diatur dalam fiqih ibadah) mampu kita sama-sama implementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pertanggungjawaban kita sebagai pemimpin di muka bumi (Fil Ard Khalifah). Membina hubungan harmonis dengan sesama manusia tidak hanya dengan sesama agama melainkan lintas agama sebagai kewajiban kemanusiaan (Humanism) dan hubungan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah). Berbagi cinta kasih dan medebar benih perdamaian sejatinya adalah kewajiban kita selaku manusia sebagai bukti keluhuran akhlak dan dan budi pekerti sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabiyullah Sayyidina Musthofa Muhammad SAW sebagai pengemban tugas kenabian yang diberikan tugas menyempurnakan akhlak manusia (utamimma makarimal akhlak). Nilai-nilai cinta kasih dan berperilaku baik, membina hubungan harmonis, dan memiliki kepedulian kepada saudara kita yang kurang mampu, sejatinya telah terkandung dalam setiap ritual keagamaan yang sering kita lakukan, hanya saja hal tersebut  sering kita lupakan dan tentu hal ini merupakan akibat kemalasan berfikir atau bahkan mungkin enggan kita renungkan karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki, oleh karena itu mari kita sama-sama renungkan dan ambil pelajaran penting dalam setiap ritual keagamaan yang sering kita laksanakan, terlebih pada bulan ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan ini. Supaya Ramadhan Effecknya benar-benar kita rasakan tidak hanya dalam suasana bulan ramadhan saja tetapi dibulan-bulan lain setelah ramadhan, agar kesejahteraan sosial dan kedamaian batiniah kita tetap bersemayam dan tentu hal yang tidak kalah pentingnya adalah spirit cinta kasih dan kesadaran persatuan - perdamaian sebagai amat tuhan untuk manusia bisa kita laksanakan dan sebar luaskan, supaya semua orang bisa menikmati kehidupan yang sejatera baik di dunia maupun diakhirat (Fi dunya hasanah fa fil akhiroti hasanah). Apabila hal tersebut sudah benar-benar kita lakukan, maka islam akan muncul sebagai suatu dentuman besar penarik gerbong utama dalam pembawa masyarakat madani yang berlandaskan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Terakhir penulis menghaturkan selamat menjalankan idul fitri 1438 H semoga keberkahan menyelimuti hari yang fitri. Selamat merayakan hari kemenangan dan selamat atas kefitriannya, minal aidzin wal faidzin “mohon maaf lahir dan batin”.

  • view 29