Merawat dan Melestarikan Kemuliaan Agama

Oki Fathurrohman
Karya Oki Fathurrohman Kategori Agama
dipublikasikan 15 Mei 2017
Merawat dan Melestarikan Kemuliaan Agama

Merawat dan Melestarikan Kemuliaan Agama

Agama adalah institusi tertua di muka bumi, derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan beragam pemikiran manusia tidaklah lantas menyurutkan kemuliaan agama. Agama sebagai institusi yang dicipatkan tuhan tentulah memiliki daya tahan yang sulit dirubah dan digoyahkan. Era modernisasi dan globalisasi saat ini memang seringkali membutuhkan daya pikir yang ekstra untuk membumikan dan mengimplementasikan nilai kehidupan sesuai dengan aturan agama. Seperti yang telah kita sama-sama ketahui bahwa agama adalah sesuatu

yang mulia dan memuliakan, suci dan mensucikan serta damai mendamaikan.

Kemuliaan agama sebenarnya terletak pada institusi atau ajaran dan aturan yang terkandung dalam kitab sucinya, tanpa itu agama hanyalah sebatas nama dan identitas. Menurut hemat penulis, agama sebagai identitas keyakinan ketuhanan memiliki nilai sakral dan moderat, kemoderatan dan kemuliaan agama sebenarnya tidaklah akan sampai kepada manusia jika penganut agamanya itu sendiri tidak mengamalkan nilai-nilai atau ajaran tuhan yang terkandung dalam kitab suci masig-masing.

Tindakan Penghianatan Agama

Tindakan-tindakan manusia sebagai pemeluk agama tidaklah jarang merampas dan mencenderai kemuliaan agama, agama sebagai institusi yang mengandung ajaran tuhan yang mulia terkadang harus teraniyaya dan tersakiti oleh tindakan penganutnya yang bisa dikatakan dzholim, dzholim disini dalam artian melakukan tindakan kejahatan atasnama agama atau dalam bahasa gamblangnya menjual-jual agama. Seperti yang sering kita saksikan sekarang, banyak sekali tindakan-tindakan amoral yang mengatasnamakan agama dengan tameng dalih-dalih agama yang seenaknya mereka interpretsikan. Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan baik yang bersifat fisik ataupun psikis sangat lumrah sekali dilakukan. Tindakan-tinakan ini sudah lumrah sekali digunakan, baik oleh pelaku bisnis, elit politik ataupun kepentingan lain yang melatarbelakanginya. Isyu hangat yang belakangan ini sangat ramai di perbincangkan adalah isu penodaan agama, penistaan agama dan lain sebagainya. Padahal jika kita benar-benar mengkaji, menurut hemat penulis justru yang melakukan penodaan dan penistaan agama ini adalah orang-orang yang menganut faham agama tertentu yang dengan seenaknya menjual-jual nama agama untuk kepentingan peribdi atau kelompok. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa belakangan ini sangat banyak sekali iklan prodak makanan, fashion, kosmetik atau yang lainnya yang dengan mudahnya mereka menggunakan istilah-istilah agama dalam memperomosikan dan memasarkan prodak tersebut. Contoh kecilnya adalah mereka memasang label halal pada prodak hijab, kosmetik, obat penghangat dan lain sebagainya padahal jika kita amati dan cermati hal itu sebenarnya telah menjual nama agama dalam suatu hal yang tidak proporsional. Melakukan penodaan dan penistaan agama tidak saja melakukannya dengan pengucapan lisan atau tindakan kekerasan saja, tetapi dengan menjual-jual istilah agama pada hal yang tidak proporsional seperti yang disebutkan diataspun sebenarnya merupakan suatu tindak penodaan agama. Melakukan tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama oleh ormas-ormas tertentu dengan alasan amal maruf nahyi mungkar padahal sebetunya ada kepentingan politik dan sebagainya. Hal ini justru yang musti sama-sama kita atasi dan sikapi, jangan sampai agama dijadikan alasan dan tameng dada untuk melancarkan strategi dan kepentingan pibadi atau kelompok tertentu saja. Terlepeas dari itu semua penulis hanya ingin mengingatkan baik kepada diri penulis peribadi ataupun kepada pembaca, mariah kita sama-sama renungkan bahwa agama adalah suatu yang mulia, jadi marilah kita kita jaga kemuliaannya, jangan sampai atas kepentingan peribadi atau organisasi kita rela menggadaikan dan merampas kemuliaan agama. Satu hal pula yang harus kita sama-sama ingat bahwa agama adalah sesuatu yang diciptakan dan dilindugi langsung oleh tuhan, maka se-hebat dan se-massif apapun kita melakukan tindakan keriminal kepada agama maka sesungguhnya hal itu tidak akan sedikitpun mengganggu atau bahkan menghilangkan kemuliaaan agama.

Sebagai insan awam yang perduli kepada keberlangsungan kemuliaan manusia dan agama tentu penulis tidak mau melihat manusia yang sebenarnya diciptakan tuhan untuk beribadah kepadanya malah melakukan sesuatu tindakan keji yang akan menurunkan derajatnya sebagai makhluk yang kadar keimannanya lebih mulia dari malaikat jika melakukan kebaikan malah menjadi makhluk yang memiliki kadar keimanan lebih rendah daripada binatang. Tindakan-tindakan demikian yang menurut penulis adalah suatu tindakan kriminalisasi agama harus kita sama-sama cegah dan atasi, jangan sampai hal ini terus berlangsung dan berlarut, karena meskipun agama tidak akan sedikitpun mengalami cendera tentu sebagai orang yang notabene beragama kita tidak akan rela jika ada hal-hal negatif yang mencoba mencederai agama. Terakhir penulis ingin mengutip kalimat yang ditulis oleh Alexander Philip sitinjak “Agama bukanlah candu bagi masyarakat, Agama itu pembenaran akan keyakinan yang telah menjadi tradisi dan budaya. Ketika pembenaran itu bertemu dengan pembenaran yang lain, distorsi bisa saja terjadi yang acapkali kaum minoritas menjadi korban dari pembenaran atas keyakinan itu sendiri, yang belum tentu apakah keyakinan tersebut bisa dipertanggungjawabkan atau tidak” Semoga kalimat ini sedikit mengingatkan kita bahwa kebenaran sebenarnya bukan milik kita tetapi milik tuhan yang menciptakan kebenaran tersebut.

 

  • view 70