Kiai Inspirasi

Oki Fathurrohman
Karya Oki Fathurrohman Kategori Tokoh
dipublikasikan 19 Mei 2016
Kiai Inspirasi

Kiai Inspirasi, kata inilah yang penulis rasa cocok untuk sosok KH.TB.A RAFE'I ALI, KH.TB.A RAFE'I ALI adalah ulama yang di lahirkan di Lebak Banten tanggal 05 Juli 1939, Lahir dari pasangan KH.Tb. Ali Akbar dan Rt. Ny Siti Marhamah (Ulama Citundun, Lebak-Banten), KH.TB. A RAFE'I ALI adalah ulama Intelek, meskipun pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah rakyat (SR, setingkat SD), tetapi beliau menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan umum seperti seorang profesor, menjadi dewan pembimbing dan dosen di beberapa Perguruan Tinggi Islam di Banten,  Ulama ramah yang  hafal hampir 30 kitab klasik ini adalah ulama NU yang memegang teguh ajaran Ahlusunah Wal Jama'ah, Setelah beberapa tahun meliang melintang di dunia pendidikan, baik di Lebak, Menes Pandeglang, dan di tempat lainnya, pada tahun 1965 Abah ( sebutan akrab KH.TB.A RAFE'I ALI ) singgah di Jaha-Labuan, setelah menikah dengan Ibu Ny Hj. Siti Sutihat putri K.H Syekh Yusuf Sama'un, dan selanjutnya menetap disana dengan mengurus santri di Perguruan Islam Annizhomiyyah Jaha-Labuan, K.H. Tb. A. Rafe'I Ali adalah sosok Ulama Intelek yang aktif dalam berbagai Organisasi Kemasyarakatan-Sosial dan Politik, sejak usia muda Abah Pernah menjadi anggota DPRD GR dari Nu Kab.Lebak, sebelum hijrah ke Pandeglang . Menjadi wakil ketua DPD Golkar Kab.Pandeglang tahun 1979 1999. Melalui jalur Golkar, Almarhum menjadi Anggota DPRD Kab.Pandeglang  selama 4 (empat) periode 1982-1987, 1987-1992, 1992-1997, 1997-1999; setelah reformasi tetap istiqomah di Partai Golkar dan menjadi Dewan pertimbangan/penasehat partai Golkar Provinsi Banten, dalam Organisasi kemasyarakatan, pernah tercatat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Prov.Banten, Rois Syuriah NU Kab. Pandeglang (1965-1975); bersama-sama dengan Abuya KH. Mahmud Kadu Kacapi,Ciomas, Mendirikan Satuan Karya Ulama  Indonesia (SATKAR ULAMA), dan masih banyak lagi jabatan-jabatan penting beliau yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

sejak memimpin pondok pesantren Annizhomiyyah, Abah dikenal sebagai kiai yang ramah, santun, tawadhu pekerja keras, dan sederhana, di Pondok Pesantren annizhomiyyah Abah mengajar santrinya dengan penuh kesungguhan dan kasih sayang, Ust.Rusmani, santri yang selama 9 tahun menjadi santri Abah mengatakan, abah mendidik santrinya seperti abah mendidik anak pribadinya, Abah mendidik dan membekali santrinya dengan berbagai ilmu pengetahuan untuk menunjang hidup di masyarakat, Abah adalah sosok Ulama yang Demokratis, hal ini dibuktikan dengan jebolan Annizhomiyyah yang menempati berbagai macam profesi di masyarakat, ada yang menjadi Ulama tasauf seperti KH. Baksuni (Sukabumi), ada yang Menjadi Ulama ahli Hikmah seperi KH.Moh Salim (Cinangka,Serang), menjadi Pejabat Pemerintahan, Pengusaha, Tenaga ahli bangunan, Petani, tenaga pendidik, jawara, dan lain sebagainya, abah mendidik dan membekali santrinya dengan berbagai macam ilmu yang menunjang kehidupan, abah membekali santri dengan Ilmu Agama, Ilmu umum, Bela diri, Wira usaha, Bertani, bermasyarakat dan lain sebagainya, Abah selalu menunjukan pribadi yang ramah dan pekerja keras pada santrinya, Abah mengajarkan hidup mandiri dan pantang menyerah.

dalam pandangan penulis sebagai santrinya, Abah mendidik dan mengajar santrinya bukan hanya dengan teori dan cekokan ayat Al-Qur'an dan Hadits dalam kitab kuning seperti ulama lain pada umumnya, lebih dari itu,  Abah mendidik Santrinya dengan Keperibadian melalui gaya hidup yang beliau gambarkan (keteladanan), dalam pandangan penulis, Abah adalah sosok ulama yang sempurna keulamaannya, selama penulis nyantri di Annizhomiyyah, penulis tidak pernah melihat Abah mengeluh dengan rasa sakit yang dideritanya, Abah selalu menghargai dan memuliakan setiap tamu yang datang, hal ini di buktikan dengan kedatangan seorang pemuda dari Pontang Serang yang bernama Ali,  Ali datang ketika Abah sedang sakit, beliau ingin Izajah Laduni kepada Abah, walaupun Abah dalam kondisi Sakit Abah tetap menerima dan mengizajah Ali yang datang dari Serang tersebut.  selain itu,  penulis mengenali Abah sebagai sosok ulama pekerja keras dan pantang mengeluh, terbuka, bijak dan tegas dalam mengambil keputusan.

Singkatnya Waktu Belajar.

Juni 2012 penulis datang ke Annizhomiyyah dengan maksud berguru kepada Abah KH. Tb. A. Rafe'i Ali, penulis datang kepada Abah bersama Ayah dan Ibu penulis, dalam kondisi Abah yang sedang terbaring sakit, Ibu penulis yang sudah lama mengenali abah melalui kakeknya KH. Moh Noh, tanpa di sadari meneteskan air matanya, beliau terharu ketika melihat Abah Terbaring sakit dan dengan kondisi tubuh yang kurus, ibu mengenal Abah ketika tubuh Abah masih terbilang gemuk katanya, Begitupun dengan Ayah penulis yang menayakan Abah, Seolah tak percaya bahwa Yang berada di hadapannya adalah Abah KH. Tb. A. Rafe'i Ali, setelah menitipkan penulis, Ibu dan Ayah Penulis Pamit Sambil mohon di doakan Abah untuk keselamatan dan keberkahan hidup Ibu dan Ayah penulis.

Sejak Juni 2012 sampai wafatnya Abah 20 September 2012, penulis terhitung hanya 3 bulan saja berguru Langsung kepada beliau, meskipun hanya sesingkat itu waktu yang Allah takdirkan kepada penulis untuk berguru kepadanya, tetapi sulit di percaya, Sangat banyak sekali pelajaran hidup yang penulis dapatkan dari beliau, pelajaran hidup yang penulis dapatkan dari beliau melalui gaya hidup yang beliau praktikan dalam kehidupan sehari-hari, satu kenangan terindah yang penulis dapatkan adalah ketika Bulan suci Rhamadhan tiba, di Bulan suci itu penulis melihat sifat kerja keras dan anti mengeluh yang beliau praktikan, meskipun beliau dalam keadaan sakit tetapi beliau tetap rajin Sholat, Puasa, Pergi ke kebun bersama penulis dan beberapa santri yang lain, suatu kegiatan yang memeng sudah menjadi rutinitas beliau semasa beliau masih sehat, selain itu walaupun menurut penulis beliau dalam kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan ke kebun seperti itu, beliau tetap mendampingi kami ke kebun walaupun harus di antar oleh supirnya menggunakan mobil kesayangannya yang sudah tua,  selain itu,  penulis menilai beliau sebagai sosok ulama yang sangat menghargai jasa orang yang pernah membantunya, walaupun tak seberapa jasa yang orang lain berikan, Abah selalu membalas dan menggantinya meskipun beliau tau bahwa orang yang membantunya sangat tidak mengharapkan pamrih darinya, sosok menghargai orang tersebut penulis lihat dari beliau, ketika penulis pergi ke kebun bersama 4 santri yang lain ( mang Sidik, Mang Fajri, mang Jumanta dan Ust.Rusmani) sebagai sesepuh di pondok kami, setelah kami pulang dari kebun, setiap malamnya pasti di ajak makan malam bersama keluarga beliau, yang mana hal itu menjadi suatu kekaguman dan keanehan penulis sebagai santri barunya.

20 September 2012 tibalah waktu abah di panggil sang kholik untuk berpulang ke Rahmatullah, setelah wafatnya Abah, penulis melihat sangat banyak sekali orang yang kehilangan beliau, banyak orang yang datang dengan tangisan kehilangan dan pilu yang amat mendalam, pada saat pemakaman abah, Ribuan orang datang dari berbagai penjuru Nusantara dari latar belakang yang beragam, dari mulai lapisan masyarakat bawah sampai masyarakat elite datang untuk Takjiah dan mendo'akan, ketika proses mensholatkan abah, saking banyaknya orang yang ingin mensholatkan, Abah di sholatkan sampai 7x putaran  di masjid Rhoudatul Mujahiddin di kompleks Perguruan Islam Annizhomiyyah, Jaha-Labuan. Abah di semayamkan di Lingkungan Perguruan Islam Annizhomiyyah, Jaha-Labuan. berdampingan dengan Umi Hj. Siti Sutihat sebagai istrinya, tak sampai di sana rasa kekelurgaan dan kasih sayang yang beliau lakukan rupanya meninggalkan dampak luarbiasa bagi lingkungan dan bagi kalangan santri yang pernah berguru kepadanya, rasa kehilangan yang dirasakan para alumni nampaknya sangat mendalam sampai-sampai setelah beliau wafat, ada salah satu santri beliau dari Sukabnumi,Jawa Barat. seperti tak ikhlas di tinggalkan kiai kami tercinta, beliau bernama M.Yusuf, hampir setiap hari Jum'at Ba'da  Sholat Jum'at beliau datang membawa bunga melati dan kamboja kesukaan Abah yang beliau ambil langsung dari pohon depan rumah Umi Hj.Siti Hindun, dan setiap malam setahun setelah Abah wafat, beliau selalu datang ke Maqbaroh untuk sekedar Ziarah, Yusuf sering mengajak dan meminta  penulis menemaninya hanya untuk bermalam saja di sana, dengan alasannya bahwa kalau menginap di sana terasa lebih dekat dengan Abah katanya.

Hampir 4 tahun sudah Abah meninggalkan kami, rasa kehilangan yang mendalam masih penulis rasakan, kenangan 4 tahun lalu masih penulis ingat, kenang, dan pelajari, sosok Abah yang Ramah, santun, tawadhu, cerdas, demokratis, tegas, dan terbuka ini sangat menjadi inspirasi besar bagi penulis untuk hidup baik, dan kerja keras untuk menjadi Insan Kamil dan Insan bermanfaat tentunya. meskipun waktu kami bersama hanya 3 bulan lamanya, tetapi ilmu dan pelajaran beliau masih penulis rasakan sampai sekarang. jika dulu penulis belajar dari Lisan dan  Suri tauladannya , kini penulis belajar melalui kenangan suci dan kitab-kitab yang beliau tulis ketika beliau masih hidup, penulis merasa walau jasad Abah sudah tiada,  Tetapi Ruh dan Ilmunya masih ada, Dulu, Kini, dan Selamanya. akhirnya penulis hanya mampu berdo'a semoga Abah bahagia di sisi Allah, di tempatkan di Syurga Firdaus, dan ilmu yang di ajarkan kepada kami semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, Amin...

Salam Takdziman wa Takriman untukmu Abah...

  • view 419