Cinta Tanpa Kata

Indah Pramita
Karya Indah Pramita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juli 2017
Cinta Tanpa Kata

Aku masih ingat pertemuan pertama kami, disebuah lorong antar rak buku perpustakaan kampus. Saat itu, aku tidak sengaja menyenggol tangannya saat kami sibuk memilih buku dirak. Hal yang wajar apabila kau meminta maaf kepada seseorang yang kau anggap dirugikan oleh tindakanmu. Begitu pula aku, ku palingkan wajahku memandang seseorang yang tidak sengaja aku usik keberadaannya, bermaksud untuk meminta maaf. Tapi, nyatanya pertimbanganku salah, ternyata aku sama sekali tidak mengusiknya, bahkan dia sama sekali tidak menganggap aku ada.

Dia seorang gadis biasa, dengan tampilan yang biasa dan paras yang biasa. Hal yang membuatku tertarik padanya ada pada ekspresi wajahnya, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun diwajahnya. Aku seolah baru saja melihat patung. Wajah kaku tanpa ekspresi.

Entah karena memang jodoh atau hanya kebetulan biasa, sejak hari itu aku sering berjumpa dengannya diperpustakaan. Mungkin juga, sebenarnya dari dulu kami memang sering bertemu, namun karena tidak saling memperhatikan jadi merasa biasa saja.

Semakin sering bertemu dengannya, aku semakin merasa ada yang lain diperasaanku, dan aku sendiri tidak menyadari mulai kapan aku menyukainya, gadis kaku yang tidak pernah merasa terusik dengan apapun disekitarnya, seorang gadis yang bahkan namanya saja aku tidak tahu. Hah, aku bisa jatuh cinta pada seseorang yang bahkan namanya saja aku tidak mengetahuinya.

Sempat suatu hari aku mencoba benar-benar menganggunya, dengan duduk tepat didepan bangkunya. Dengan sengaja aku menanyakan hal-hal sepele yang ada dibuku bacaanku padanya, sekedar menarik perhatiannya. Namun, usaha yang biasanya ampuh untuk gadis-gadis biasa, ternyata sama sekali tidak mempan untuk gadi kaku ini. Bahkan dia sama sekali tidak menoleh padaku.

Tidak dianggap, tidak diacuhkan bukannya membuatku mundur atau merasa benci padanya justru membuatku makin tertarik padanya. Sosoknya mulai memasuki alam bawah sadarku, dia selalu menyempatkan diri singgah dimimpiku, menemani malamku.

Entah sejak kapan aku mulai berimajinasi tentangnya, memikirkannya disaat sadar ataupun tidak. Mencoba mencari tahu tentangnya dengan segala cara. Mengumpulkan informasi sekecil apapun untuk itu.

Sebuah ketidaksengajaan membuatku mengetahui namanya, dia Mai, Kagetsu Mai. Dari nama itulah aku tahu alasan kekakuan dan kebungkaman dia selama ini. Aku mencari tahu informasi lebih tentang Mai pada salah satu teman jurusannya yang merupakan teman ku saat masih duduk dibangku SD. Mai adalah mahasiswa Jepang yang ikut dalam kegiatan kerjasama Indonesia-Jepang dalam bidang budaya dan pendidikan. Mai di Indonesia hanya untuk beberapa bulan saja, sampai waktu yang ditentukan oleh kedua belah pihak yang berkerjasama.

Tidak ada waktu, kata itu langsung terlontar olehku saat mendengar kata ‘beberapa bulan saja’. Aku tidak ingin kegilaanku akan Mai selama ini lenyap begitu saja tanpa hasil apabila aku tidak mengatakan apapun padanya sebelum dia pergi.

Aku bukan orang yang suka mencoba hal-hal baru, tapi ini berbeda. Aku harus berhasil membuat Mai berbicara padaku. Satu hal yang bisa membuat itu mungkin adalah dengan mempelajari bahasanya. Berhari-hari aku menenggelamkan jiwa ragaku untuk mempelajari bahasa Jepang yang membuatku tunggang langgang.

Tidak ada hari yang aku biarkan berlalu sia-sia. Aku masih selalu bertemu Mai diperpustakaan, dan aku masih terus berusaha mempelajari bahasanya. Bahasa asing yang akan menentukan nasib perasaan cintaku padanya. Sampai tiba saat itu, saat temanku berkata bahwa Mai akan segera kembali ke negaranya, studinya di Indonesia sudah selesai. Seolah tersambar petir disiang bolong, tubuhku terasa gosong menjadi abu sampai ketulang-tulangku.

‘Akan segera kembali’, akan segera, sesegera apa.? Sempatkah.? Astaga, aku benar-benar stress dibuatnya. Aku tidak fokus melakukan apapun, aku terus saja terfikir tentang Mai. Mai gadis berwajah tanpa ekspresi itu akan segera kembali ke nergaranya. Mai, gadis kaku yang aku sukai itu, akan segera pergi meninggalkanku dengan setumpuk perasaan cinta terpendam dalam hatiku. Tidak, aku tidak ingin mati karena perasaan ini.

Hari itu, aku memberanikan diri menemuinya, tidak, bukan diperpustakaan, melainkan didepan gedung fakultasnya. Jujur, ini kali pertama aku berkunjung ke gedung fakultas lain, dan pengalaman pertama ini membuatku tambah gerogi.

Aku menghampiri Mai yang sedang berdiri dilobi gedung, saat itu dia mengenakan pakaian sederhana seperti biasanya, yang membuat tidak biasa adalah tas bawaannya. Dia membawa dua buah tas, ransel besar yang dia gendong dan sebuah tas jinjing ditangan kanannya.

Aku memberanikan diri memanggil namanya. Berhasil, dia menoleh kearahku dan membungkukkan tubuhnya beberapa derajat kearahku (dalam kebudayaan jepang itu maksudnya memberi hormat). Aku tidak ingin membuang waktu, dengan jantung yang berdetak jauh diatas normalnya, dengan darah yang terus terpompa dengan lebih cepat dibanding biasanya, aku mengatakan hal yang menurutku harus aku katakan.

Hampir saja aku membuka mulutku untuk mengatakan aku menyukainya, tapi dia sudah terlebih dahulu mengeluaran suara.

“Maaf kalau selama ini aku tidak menghiraukanmu.! Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman.! Tapi, terimakasih banyak.! Terimakasih karena sudah menemaniku selama ini.! Terimakasih karena sudah menjadi temanku.! Aku pasti tidak akan melupakanmu, Kennas.!”.

Tidak ada lagi yang bisa aku katakan, aku benar-benar merasa bodoh. Selama ini aku mengira dia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan, jadilah aku orang bodoh yang mati-matian belajar untuk mengatakan ai-shite-iru padanya. Merasakan sakit tepat ditumpukan perasaan ini, ternyata dia terlebih dahulu menganggapku teman, sebelum aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi lebih dari teman untuknya.

Wajah kakunya berubah menjadi manis merona, dia mengucapkan namaku dengan tersenyum manis padaku. Paling tidak dia tahu namaku sebelum aku memperkenalkan diri padanya, itu berarti dia sudah mencari tahu tentangku sebelumnya, walaupun hanya sebatas nama.

Dia banyak berbicara padaku tentang pendapatnya tentang Indonesia, terutama tentang kota yang sudah dia tempati walau hanya beberapa saat ini, tentang anak-anak dikampus ini dan juga tentangku. Hah, tentangku, tentu saja dia mengatakan hal yang sangat manis terdengar oleh telingaku.

Dan inilah saatnya, saat dia harus meninggalkanku tempat ini dan aku, Mai akan kembali ke negaranya sore ini. Sebelum Mai pergi meninggalkanku sendiri ditempat orang lain ini, aku memberikan selembar kertas yang sudah aku tulis sebelumnya. Aku harap Mai membacanya dan mengerti arti tulisanku.

Sore ini, semua usahaku sia-sia. Sore ini, semua mimpiku hanya sebatas mimpi. Mai, gadis Jepang yang manis itu sudah pergi kembali ke negaranya dengan meninggalkanku sendiri disini. Sendiri merasakan sakit ditumpukan perasan yang tidak sempat terucap ini. Hanya satu harapanku, Mai tidak melupakanku, sesuai perkataannya. Dan juga, semoga kertas itu mewakili perasaanku padanya.

  • view 60