Monsutaa

Indah Pramita
Karya Indah Pramita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juli 2017
Monsutaa

Siang yang sangat dingin dimusim dingin bulan ini. Mungkin suhu sudah mencapai -13 derajat. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak cocok hidup di negara empat musim ini. Disaat musim panas, aku akan dengan gampangnya mengeluarkan darah dari hidungku, saat musim gugur dengan senang hati akan bersin sepanjang hari karena debu yang ditimbulkan oleh rontokan dedaunan. Musim semi tidak ada ubahnya dengan musim gugur, hanya bedanya aku akan bersin-bersin karena serbuk sari bunga yang berterbangan dibawa angin sejuk. Dan untuk musim dingin, lihatlah keadaanku saat ini, tidak terlepas dari meja berpenghangat, dengan ruangan yang dipasangi penghangat, dengan pakaian yang sudah entah berapa lapis aku kenakan, dan kaos kaki serta sarung tangan, dan tidak lupa sebuah earphone.

Selayaknya musim dingin orang-orang pemalas sepertiku, akan dihabiskan dengan bersantai dirumah. Aku sedang duduk didepan meja yang berpenghangat, dengan selimut melilit tubuhku. Mencoba mengingat kembali keadaanku saat masih kecil dulu, bukankah mengenang massa kecil adalah kegiatan yang mengasyikan.

Yah, massa kecil setiap orang pasti menyenangkan, begitu pula dengan aku. Aku adalah anak lelaki yang sangat manis, ceria dan juga cerdas, paling tidak itu yang selalu ibu katakan padaku setiap saat. Aku selalu merasa hidupku sempurna dengan seorang ibu yang selalu ada disampingku kapanpun dan dimanapun. Massa kanak-kanak yang manis, mengikuti kegiatan disalah satu Taman Kanak-Kanak membuat massa kecilku tambah sempurna. Bertemu banyak teman, bermain, dan bersaing secara sehat, persaingan ala bocah-bocah ingusan. Tidak ada sikut dan caci disana, yang ada hanya persaingan kecerdasan menjawab pertanyaan guru didepan orang tua lawan. Hah, aku selalu memangkan kejuaraan itu. Massa kanak-kanak yang tidak akan pernah terlupakan olehku, begitu pula dengan massa sekolah dasarku.

Saat aku duduk ditahun pertama sekolah dasar, selayaknya hal yang dilakukan oleh anak-anak seusiaku didalam kelas saat pelajaran pertama, kami akan menceritakan tentang diri kami didepan kelas dan setelah kami selesai menceritakan tentang diri kami, bu guru akan dengan senang hati menawarkan bagi siapa yang ingin bertanya kepada si pencerita akan diberi kesempatan dan diperbolehkan.

Aku masih ingat pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh salah satu teman perempuanku, dengan wajah yang sangat penasaran dia mengacungkan tangan saat bu guru menyuarakan bagi siapa yang ingin bertanya silahkan angkat tangannya. Pertanyaan dasar yang sangat sederhana, tapi sama sekali tidak mampu aku jawab, karena aku memang benar-benar tidak tahu apa yang harus menjadi jawaban atas pertanyaan itu.

“Dari tadi kau hanya bercerita tentang ibumu dan dirimu.! Apa kau tidak memiliki ayah.? Dimana ayahmu.? Apa dia tidak tinggal bersama kalian.? Siapa nama ayahmu.?”.

Pertanyaan yang sangat jelas dan gampang. Tapi tidak untukku, aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan mudah itu, bahkan aku sampai menangis didepan kelas karena aku sama sekali tidak mampu menemukan jawaban pertanyaan itu. Dan disaat aku menangis dan merasa bodoh, tidak ada satu orang pun yang menolongku, termasuk bu guru. Dia hanya memandangku dengan tatapan yang tidak kalah penasarannya, dia seolah ingin mengatakan padakau ‘cepatlah jawab pertanyaan cerdas temanmu itu.! Aku ingin mengetahui jawabanmu.!’.

Sejak saat itu, aku mulai berfikir. Bahwa aku tidaklah seperti yang ibu katakan. Aku bukanlah seorang anak laki-laki yang cerdas, dan saat itu pula aku mendapati diriku tidak semanis dan seceria massa kanak-kanakku dulu.

Pertanyaan pertama dari teman pertama yang membuatku menyadari kebenaran semua, selama itu aku tidak pernah memikirkan tentang sosok yang disapa ‘ayah’. Aku tidak pernah mencari tahu tentang ayah, dan ibu, ibu pun tidak pernah menceritakan tentang ayah, bahkan menyinggung pun tidak.

Aku masih ingat, saat itu hari yang benar-benar panas dipertengahan musim panas. Bisa kalian bayangkan alangkah panasnya itu, mungkin suhu sudah mencapai 45-46 derajat. Saat itu aku sedang berjalan  menuju rumah dari sekolah olahragaku, sendirian. Semenjak kejadian hari pertama disekolah, aku sama sekali tidak ingin berteman dengan siapapun, aku takut, kalau-kalau pertanyaan berat itu muncul lagi dari mulut salah satu orang yang ingin berteman denganku dan aku masih belum mampu menjawabnya.

Disebuah persimpangan menuju kerumahku, aku melewati sekelompok ibu-ibu yang sedang bergosip didepan rumah salah satu dari mereka. Aku mendengar dengan jelas apa yang menjadi bahan gosipan mereka disiang panas itu. Sebuah tema yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Tentang seoarang anak yang membunuh ayahnya sendiri. Aku mendengar semua dengan sangat jelas. Jujur, aku sedikit penasaran dengan kelanjutan pergosipan itu. Karena aku mendengar ada sebuah nama yang mereka sebut, dan aku bisa pastikan itu nama depan ibuku, dan juga nama depanku. Mereka membicarakan kami, keluarga kami, membicarakan aku dan ibu.

Dengan refleks aku memalingkan pandanganku kearah ibu-ibu yang sedang bergosip itu, saat aku mendengar nama keluargaku disebut. Aku memandang lama kearah sekelompok ibu-ibu itu, sampai mereka menyadari kehadiranku dan menyadari apa yang aku lakukan tehadap mereka.

Entah sejak kapan, yang jelas saat aku berkedip dari tatapanku, aku melihat tiga dari ibu-ibu itu mendapat luka diwajah dan lengan mereka. Seolah ada sebuah benda keras menghantam mereka. Beberapa batu berserakan diteras rumah itu, ada yang tergeletak tepat disebelah salah seorang ibu yang terluka. Entah sejak kapan, airmataku mengalir, dan aku menangis.

Sebuah siang panas yang tidak terlupakan olehku. Sebuah siang yang membuat ibu menangis sejadinya dan memohon kepada ibu-ibu penggosip dan pak polisi untuk tidak membawaku kekantor polisi. Masih jelas diingatanku, ibu menyembunyikanku didalam lemari, dan dia menyuruhku untuk diam dan jangan keluar rumah sampai semuanya kembali normal.

Entah apa yang ibu lakukan saat aku berada didalam lemari pakaian yang sempit itu. Aku tidak bisa mendengar dengan pasti. Yang terdengar olehku hanyalah suara sebuah benda pecah. Aku yakin itu bunyi tabungan ibu. Tabungan yang ibu kumpulkan sebagai modal membeli sepeda untukku, agar aku tidak perlu berjalan kaki saat berangkat dan pulang dari sekolah.

Saat itu usiaku sudah menginjak 10 tahun. Aku sudah mengerti rasa sakit dan kebencian. Aku mengingat kembali apa yang ibu-ibu itu gosipkan tadi. Mengenai seorang anak dari keluarga kami yang membunuh ayahnya saat dia berusia 4 tahun.  Seorang anak? Tidak ada anak lain dari keluarga ini kecuali Monsutā, seorang anak laki-laki yang tidak mampu menjawab pertanyaan pertama teman pertamanya, tidak ada lagi kecuali aku. Ya, aku.

Benarkah itu? Apa yang ibu-ibu itu katakan, apakah itu benar? Aku? Aku membunuh ayahku? Membunuh ayahku saat aku masih sangat kecil? Benarkah itu?. Seperti pertanyaan pertama itu, pertanyaan kali ini sama sulitnya. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku harus menunggu ibu untuk menjawabnya. Ibu pasti tahu semuanya.

Entah berapa lama aku menunggu ibu disini, sampai akhirnya ibu membuka pintu lemari dan langsung memelukku. Aku tahu, ibu menangis saat memelukku walau aku tidak dapat melihat wajahnya. Tubuh ibu bergetar, ada ringisan disana. Seolah ibu menanhan rasa sakit yang teramat sakit.

“Ibu.! Apakah aku seorang pembunuh.?”.

Aku melepaskan pelukan ibu dan memandang wajah ibu yang basah akan air mata dan sembab. Mendengar pertanyaanku ibu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis sejadinya. Aku mendengar satu kata yang terus ibu ucapkan berulang ditengah tangisannya.

“Maaf.! Maaf.! Maaf.!”.

Apakah maaf adalah jawaban atas semua ini? Bukan. Maaf itu adalah tanda bahwa semua benar. Ibu meminta maaf atas semua kebenaran itu. Yah, ibu meminta maaf atas semua kejadian yang sudah aku lakukan. Ibu meminta maaf atas semua yang ibu sembunyikan selama ini.

Detik itu juga, aku tahu alasan ibu memberi nama Monsutā untukku, bukan agar aku menjadi seseorang yang memiliki kekuatan untuk menjalani hidup, tetapi nama Monsutā menunjukkan perbuatanku. Arti yang benar-benar cocok untukku, menjadi seseorang yang menyerupai monster, yang ditakuti karena kekejamannya.

“Ibu.! Aku tidak apa-apa.! Ibu tidak perlu menangis dan meminta maaf.! Sudahlah.!”.

Ibu tahu itu hanya basa-basi dariku. Ibu tahu bahwa aku memendam kebencian atas semua yang terjadi. Yah, dan semua itu benar. Aku bisa mengabaikan semua tatapan sinis dan cemoohan serta anggapan miring mengenaiku yang dilontarkan oleh orang-orang diluar sana. Tapi, aku tahu dan mengingat setiap detik penghinaan itu. Dan aku bertekat akan membalas semua itu dengan caraku.

Dan inilah aku sekarang. Seorang penulis ternama yang sudah menghasilkan karya-karya bestseller. Seorang penulis fiksi-kriminal yang terkenal akan kecerdikan tokoh utama dan kesempurnaan kasus. Siapa yang tidak mengenai Ishimaru Monsutā, si kriminal kecil yang selalu dipandang sebelah mata dan dicaci. Si Monster kecil yang selalu dianggap menakutkan dan perlu dihindari.

Kini, setelah 17 tahun berlalu dari massa itu, si anak manis menakutkan yang perlu dihindari itu berubah menjadi si lelaki incaran setiap gadis dan setiap pembaca yang tergila-gila akan karya dan wajah manisnya.

Setiap orang memiliki cara sendiri untuk membalaskan dendamnya pada orang lain. Dan inilah caraku, yah aku memang membunuh ayahku saat aku masih kecil, tapi itu bukanlah sebuah kesengajaan, itu hanya kecelakaan yang membuat pisau yang aku mainkan tertusuk tepat didada ayahku.

Kalau ada yang bertanya apakah aku tidak memiliki ayah, apakah dia tinggal terpisah dengan kami dan siapa namanya. Akan dengan senang hati aku menjawabnya.

“Aku memiliki seorang ayah yang hebat, dia mengorbankan hidupnya untuk mengubahku menjadi seperti ini.! Kami selalu berdampingan, ayahku selalu ada diingatanku.! Dan nama ayahku adalah Ishimaru Masahiro.!”.

Ada hal yang perlu aku bagi untuk kalian, sebelum aku terlelap tidur diatas bantal empuk dan hangat disiang yang dingin ini. Apabila hujan badai datang menghalangi perjalananmu, tunggulah sebentar sampai hujan badai berubah menjadi hari yang hangat dengan matahari yang bersinar cerah. Bersabar dengan segala cobaan dengan meyakinkan diri bahwa semua bisa terselesaikan dengan baik, dan semua akan kembali baik-baik saja, itu adalah kunci menuju tingkatan hidup yang lebih tinggi. Aku sudah membuktikannya.  
– END –

  • view 73