Antara Papa – Mama dan Bunda

Indah Pramita
Karya Indah Pramita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juli 2017
Antara Papa – Mama dan Bunda

Seperti malam-malam sebelumnya, aku akan bercerita tentang mereka padamu. Tentang Papa, Mama dan Bunda.

Tadi, pagi-pagi sekali, ponsel Papa berbunyi, sebuah nada dering yang menandakan kalau ada sebuah pesan singkat baru diterima, saat itu bertepatan dengan terdengarnya kumandang adzan subuh.

Papa yang selalu sadar akan bunyi ponselnya langsung memeriksa pesan singkat itu. Sebuah pesan singkat dari Bunda.

Jangan lupa laporan..! (^.^).

Ada simbol-simbol berbentuk senyuman diujung pesannya, setelah tanda tanda seru dan sebelum tanda titik. Pesan yang sering aku lihat disaat-saat menjelang adzan atau beberapa saat setelah adzan berkumandang. Dan, pesan-pesan itu mulai dikirim semenjak tiga minggu yang lalu. Iya, kalau tidak salah mengingat.

Membaca pesan singkat itu, Papa tersenyum dan bangun dari baringnya. Membalas.

Siap! Bunda juga!

Tidak ada simbol senyuman atau pun titik diakhir kalimat pesan singkat yang sudah dikirim Papa kepada Bunda.

Setelah memastikan pesan terkirim dengan benar, Papa beranjak kekamar mandi, membasuh wajah dan mengambil wudhu. Lalu menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.

Papa tidak melakukan banyak aktifitas setelah shalat subuh. Hanya mencuci beberapa lembar pakaian kotor yang sudah terlebih dahulu direndam saat sebelum mengambil wudhu tadi. Setelah itu memberi makan bebek-bebek manis yang dikandangkan tidak jauh dari tempat tinggal Papa.

Setelah merasa pekerjaan rumah beres 100%, Papa mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. Papa merupakan tenaga pendidik di salah satu sekolah menengah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Papa.

Tinggal sekali gas, sampai!

Seperti itulah balasan Papa tiap kali Bunda mengingatkan jangan sampai terlambat kesekolah. Dan ukuran itulah yang aku gunakan untuk mengukur jarak antara tempat tinggal Papa dengan sekolah tempat dia mengajar.

Mandi sebersih yang dia bisa, berdandan setampan yang Papa mampu, setelah itu berangkat kesekolah dengan kendaraan bermotornya. Tapi, tepat setelah Papa menghidupkan mesin kendaraan bermotornya, ponsel Papa kembali berbunyi, bunyi yang sama dengan yang tadi, tanda ada sebuah pesan singkat diterima.

Belum lagi membaca pesan, baru melihat nama sang pengirim saja, senyum Papa sudah sangat merekah, senyum yang sangat indah, senyum kebahagiaan seutuhnya.

Sebuah pesan singkat, dari Mama.

Pap, jangan lupa sarapan ya....

Kalau lupa sarapan nanti Papa sakit...!!!!

Kalau Papa sakit Mama jadi sedih... L

Mama sayang Papa...♥♥♥♥♥♥♥♥ JJJJ ♥♥♥♥♥♥♥♥

Pesan singkat yang benar-benar mampu mengubah dunia Papa, yang tadinya awan berwarna kelabu merubah menjadi cerah penuh cahaya.

Entah berapa banyak tanda baca di pesan itu, belum lagi dengan tambahan simbol hati di ujung kalimat.

Setelah membaca pesan itu dan menyimpan kembali ponsel ke saku sebelah kanan celana panjangnya, Papa mengendarai kendaraan bermotornya menuju tempat kerja.

Papa memiliki ruangan tersendiri, sebuah ruangan yang hanya ditempati oleh Papa seorang. Sesampainya diruangan, Papa kembali mengambil ponselnya. Membuka kembali pesan dari Mama dan menekan tanda “balas”. Mengetik beberapa kata menjadi sebuah kalimat.

Iya, sayang! Mama tenang aja.!

Papa gak akan sakit kok.!

Mama juga ya, jangan lupa sarapan.!

Papa juga sayang Mama.! ♥♥♥♥♥♥♥♥ JJJJJ

:*) :*) :*) :P :P :P

Beberapa lambang hati dan simbol-simbol yang aku tidak tahu maksudnya dibubuhi Papa sebagai penutup kalimat balasan untuk Mama. Sebelum menekan tanda “kirim”, untuk yang kesekian kali Papa membaca pesan balasannya, memastikan tidak ada kata yang kurang atau berlebih, tidak ada lambang dan simbol yang terlupakan.

Setelah merasa itu sempurna, barulah dengan perasaan penuh cinta dan senyum manis terkembang, Papa menekan tanda “kirim”. Dan pesan pun tersampaikan kepada Mama.

Seperti itulah selanjutnya, ketika tengah hari, entah Mama atau pun Bunda pasti akan mengirimkan pesan singkat kepada Papa. Bunda akan mengirimkan kalimat yang sama.

Jangan lupa laporan (^.^)

Sedangkan Mama, akan mengirimkan kalimat-kalimat manis yang mengingatkan Papa untuk tidak terlambat makan siang.

Saat sore hari, kembali Mama dan Bunda akan mengirimkan pesan. Untuk Mama, dia kan memastikan apakah Papa sudah mandi atau belum. Sedangkan Bunda, masih dengan kalimat membosankan yang sama, mengingatkan tentang laporan. Hal itu akan berlanjut pada saat menjelang Magrib, menjelang tidur hingga kembali lagi pada Subuh.

Papa, aku tidak pernah melihat Papa tersenyum sebahagia saat dia menerima pesan dari Mama pada saat menerima pesan dari Bunda. Dan pula, aku jarang melihat Papa membalas pesan Bunda dengan kalimat panjang, manis dan dibumbui lambang dan simbol.

Mama dan Bunda, mereka sama-sama sering mengirim dan atau menerima pesan dari dan ke Papa. Hanya saja, Papa dan Mama sudah memulai itu semua lebih dahulu, jauh lebih lama daripada dengan Bunda.

Aku menyukai Mama dan Bunda. Mama sangat memperhatikan keadaan fisik Papa. Sedangkan Bunda, selalu berusaha mengingatkan kembali Papa pada Tuhannya. Menurutku alangkah akan jauh lebih baik apabila Mama dan Bunda melebur menjadu satu.

Sore tadi, disela kegiatan mengecat rumah, aku iseng-iseng bertanya pada Papa, siapa yang lebih Papa sukai dan pilih sebagai Mama atau Bunda ku yang sebenarnya. Tapi, bukannya menjawab pertanyaanku, Papa justru tersenyum padaku, senyuman yang berbeda dengan senyuman saat menerima pesan dari Mama dan Bunda.

Menurutmu, siapa yang akan dipilih Papa untukku? Tidak, aku tidak bisa memilih. Entah dengan Papa, aku harap Papa segera memberikan jawaban padaku.

Oh, ya. Apa selama ini aku pernah memberitahukan mu, kalau Papa bukanlah pria dewasa yang tampan? Belum? Oh, maaf! Kalau kau berfikir Papa adalah pria dewasa yang tampan, layaknya seorang raja dengan beberapa ratu dan selir, kau salah! Dia tidak tampan, tapi aku akui kalau dia memiliki banyak selir! Hah, Papa yang nakal.

***

Seperti malam-malam sebelumnya, aku akan bercerita padamu tentang mereka, sebelum aku, kau atau mereka pergi tidur. Malam ini, sepertinya ada kejadian yang tidak menyenangkan. Tepat sebelum ucapan selamat tidur diucapkan, Papa dan Mama terlibat pertengkaran ‘kecil’.

Pertengkaran yang disebabkan oleh kecemburuan Mama pada Bunda. Ya! Mama tidak menyukai kedekatan Bunda dengan Papa. Alhasil, sebelum ucapan selamat tidur diucapkan Papa harus mengirim pesan singkat pada Bunda.

Tidak perlu mengirim pesan lagi!

Tidak perlu mengirimkan perhatian lagi!

RATUnya marah!.

Ada tanda seru sebelum tanda titik. Dan Papa menggunakan huruf kapital ketika mengetik kata RATU.

Tidak ada balasan dalam beberapa menit. Membuat Papa berfikir bahwa Bunda mengerti dan semua masalah akan selesai sudah.

aku tidak mau

tidak ada tanda baca dikalimat pesan balasan dari Bunda.

  • view 51